Oleh: Ruslan Ismail Mage

Sebagai akademisi sekaligus penulis buku-buku motivasi, saya meyakini bahwa untuk sukses menata masa depan maka pelajar atau mahasiswa tidak sekadar butuh guru atau dosen yang mengajarkan teori-teori keilmuan, tetapi butuh juga seorang inspirator yang bisa merekonstruksi jiwanya menjadi generasi petarung masa depan.

Keyakinan ini semakin mengkristal dalam jiwa. Untuk menaklukkan gelombang kehidupan, tidak hanya butuh teori-teori ilmiah. Ia butuh semangat, optimisme, daya juang, dan daya jelajah. Butuh juga keberanian, ketangguhan, dan berdamai dengan kegagalan atau keterpurukan.

Berangkat dari keyakinan itu, sudah satu dasawarsa terakhir ini di bawah payung Sipil Institute saya roadshow ke beberapa sekolah (SMP, SMA, dan SMK) dan pesantren di beberapa kota, desa, dan kampung menggelar kelas inspirasi bertajuk “21 Hukum Kesuksesan Sejati”. Tanpa kajian ilmiah, saya memetakan terang-benderang jalan menuju masa depan gilang-gemilang.

Gerakan jiwa ini rutin saya lakukan dengan gratis hingga secara sadis dihentikan oleh sebuah makhluk tak berwujud bernama Coronavirus. Semua agenda perjalanan inspiratif saya yang sudah terjadwal di beberapa daerah lumpuh total. Dalam pusaran pandemi ini, saya tiba-tiba teringat kata Bung Karno dalam penjara, “Wahai kompeni, kalian boleh memenjarakan fisik Bung Karno, tetapi gagasannya akan terus menembus dinding penjara melewati batas-batas ruang dan waktu untuk menginspirasi kemerdekaan bagi rakyatku”.

Artinya, pandemi boleh menyekat pergerakan fisik saya, tetapi tidak bisa membatasi gagasan-gagasan menembus blokade aparat. Tepat di Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 23 April 2021, saya bersama seorang sociopreneur dan writerpreneur Iyan Apt mendirikan rumah jiwa di angkasa bernama Bengkel Narasi (BN) yang menghimpum manusia-manusia pembelajar rendah hati yang mau belajar menulis.

Alhamdulillah, di usianya yang masih bayi (enam bulan), Bengkel Narasi terus tumbuh dan berkembang. Mendapat apresiasi dari berbagai kalangan sebagai komunitas menulis yang lain daripada yang lain. Menulis sambil memeluk kemanusiaan. Menulis sambil mengurus kehidupan. Menulis sambil berbagi dan menginspirasi.

Setelah Bengkel Narasi sudah mulai mandiri dengan karya-karya tulis anggotanya, saya kemudian menghubungi Kang Iyan Apt mendiskusikan tentang perlunya membangun rumah jiwa di angkasa untuk menghimpun dan menyiapkan panggung bagi anak-anak (siswa SD, SMP, SMA, SMK, dan santri) se-nusantara yang ingin belajar menulis.

Tidak mengulur waktu, konsep awal saya siapkan untuk dieksekusi tengah malam. Lahirlah rumah jiwa anak-anak di angkasa bernama “Pena Anak Indonesia (PAI)”. Sesaat kemudian, di tangan sang writerpreneur lahirlah logo untuk segera disebar ke komunitas Bengkel Narasi untuk menarik anggota yang berminat menjadi mentor menulis di PAI. Sudah diprediksi, konsep ini mendapat apresiasi positif dari anggota komunitas sebagai bagian dari komitmen “Sumpah Pena”.

Kini, PAI telah menjadi panggung tulisan anak-anak Indonesia. Setiap anak yang mau belajar menulis bebas bergabung tanpa syarat, bebas memposting tulisan kapan pun dan di mana saja berada di wilayah nusantara. Alhamdulillah, sudah mulai bermunculan permata-permata indah dari pelosok nusantara di PAI. Dengan sentuhan mentor profesional, karya-karya tulis mereka makin berkilau memancarkan pesonanya.

Sahabat, apa yang saya lakukan sejak sepuluh tahun lalu dalam roadshow ke beberapa sekolah dan pesantren memberi kelas inspirasi, hingga bersama sang writerpreneur Iyan Apt mendirikan dua rumah jiwa di angkasa bernama Bengkel Narasi (BN) dan Pena Anak Indonesia (PAI), sesungguhnya saya hanya menyalakan lilin-lilin kecil dalam jiwa anak-anak negeri.

Besar harapan lilin-lilin itu akan terus menerangi jiwa, terus membesar menjadi nyala api, semangatnya menjadi obor menerangi lingkungan, dan terus berproses meraksasa menjadi matahari yang menyinari nusantara.

Teristimewa kepada anak-anak kami di PAI, manakala pena kami sudah tak mampu lagi bergoyang karena sang waktu mengharuskan istirahat, “Sanggupkah kau mengganti, sanggupkah kau memberi seberkas cahaya. Engkau lilin-lilin kecil, sanggupkah kau berpijar, sanggupkah kau menyengat seisi dunia?” Demikian reff lagu Lilin-Lilin Kecil yang dinyanyikan Chrisye menutup catatan batin ini. Dan kami yakin kalian sanggup.

(Visited 158 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Menyalakan Lilin-Lilin Kecil”
  1. Dikala lampu besar itu redup… Lilin-lilin kecil itu akan menyala meneruskan cahaya itu Pada masanya…Lilin-lilin kecil itu akan Memjadi lentera yg bersinar dg cahaya terang benderang…Sukses selalu BN dan PAI, sehat selalu Sang Inspirator dan para mentor yg hebat 😍😍😍

  2. Kelak mereka akan menjadi generasi unggul pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa. Akan mengukir peradaban dengan tulisan2 mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *