Oleh: Imam Abdullah El-Rashied
uah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-
Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.
Malam itu purnama menyemai langit Mukalla di Bulan Ramadhan 1439 H. Hanya saja temaram cahayanya tertahan oleh gumpalan-gumpalan awan hitam yang nyaris memenuhi wajah langit Mukalla. Lepas Shalat Taraweh di Masjid aku sibuk mencuci baju. Tiap masuk Bulan Ramadhan kebiasaanku selalu berubah mengikuti kebiasaan warga Yaman. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Di Yaman tak ada tidur malam bagi kami, tidur hanya ada antara shubuh dan dzuhur, sisanya kegiatan selalu mengincar dan memburu tanpa henti. Dalam kesibukan mengucek dan menyikat baju-baju putih, dalam hening malam yang sepi, dalam terpaan sepoi angin pantai Mukalla sunyi tiba-tiba Abdul menyapaku;
Abdul : “Bang… Bang Imam seminggu ke depan sibuk apa?”
Aku : “Eh, ellu Dul… Gue kagak ada kesibukan ape-ape Dul, emang kenape?”
[Semenjak kenal Si Abdul, aku selalu menggunakan aksen betawi untuk mengimbangi gaya bahasa Si Abdul, itung-itung nambah penguasaan dialek bahasa daerah lain]
Abdul : “Gini Bang, ya… barangkali Bang Imam kagak keberatan, Ane mau ajak Abang ke Tarim mau kagak?”
Aku : “Yah, kalo diajak ke Tarim mah sape bakal nolak Dul? Masalahnya bakal diijini kagak? Gue mah kagak berharap-harap amet Dul, yah meski kita sedang edisi liburan ellu tahu sendiri peraturan di mari kayak ape”
Abdul : “Ya elah Bang, itumah ane yang urus, Abang mah tinggal terima jadi aje!”
Aku : “Iye dah Dul, Gue mah deal-deal aje… Gue tunggu kabar baiknya ye… Ini gue masih sibuk ngelawan KKN, Kotoran-Kotoran Nekat di baju, ha ha ha”.
Si Abdul lantas meninggalkanku dalam kesendirian, hanya wajah punggungnya yang metatapku dari kejauhan. Lepas membilas baju-baju dan menjemurnya, seperti biasa kuhabiskan waktu di tempat yang sunyi. Di balkon asrama lantai dua yang menghadap ke laut lepas Mukalla. Membiarkan wajahku tenggelam dalam terpaan angin malam, di bawah kemerlap cahaya jutaan bintang yang tertutup gelapnya mendung dan gelapnya malam.
Ku bawa salah satu kitab yang kupinjam dari perpus untuk menemaniku malam ini. Kitab “Al-Usus Wal Muntholaqot”, sebuah kitab yang membahas pertanda hari kiamat, huru-hara yang akan terjadi pada Umat mulai dari zaman Nabi Muhammad saw hingga berakhirnya jagat raya. Kitab yang ditulis oleh Habib Abu Bakar Al-‘Adni ini cukup menarik. Pewajahan isi, penjelasan dari sisi yang berbeda, dan analisa yang tajam dari hadits-hadits dan ayat yang berkaitan dengan tanda hari Kiamat dikupas secara gamblang dan renyah. Bahkan beliau menggambarkan dan membagi fase-fase perubahan yang dialami Umat Islam dari awal kebangkitan hingga runtuhnya Khilfah Utsmaniyah. Detail-detail prediksi Nabi saw yang diramalkan tentang kerapuhan Umat inipun dikupas sedemikian rupa. Kurasa ini adalah salah satu kitab terpenting yang harus dibaca untuk mengetahui isu-isu besar Umat Islam yang sudah, sedang, dan akan terjadi dan bagaimana solusi menghadapi berbagai Fitnah dan ujian yang melanda Umat ini di akhir zaman dengan mengikuti arahan yang diberikan oleh Rasulullah saw dan Khulafa’ Rosyidin. Semua pembahasan ini masuk dalam salah satu disiplin ilmu tersendiri, yaitu Fiqih Tahawwulat.
Agak mengantuk setelah satu jam lebih mencerna Fiqih Tahawwulat dalam genggaman angin malam, tiba-tiba Si Abdul memamerkan selembar kertas putih berstempel kantor kuliah di wajahku. Langsung saja rasa kantuk di mataku menghilang. “Buset dah, ini Gue kagak salah lihat Dul?”, Ucapku padanya dengan nada sedikit tak percaya.
Abdul : “Gimane Bang, misi Ane untuk dapetin ijin ke Tarim sukses nih Bang, Alhamdulillah…”
Aku : “Ellu pake mantra apa Dul? Koq pihak kantor bisa Ellu taklukin cuma dalam hitungan jam doank… Padahal kalo Gue ijin sampe berhari-hari kudu bolak-balik kantor, itupun boro-boro dapet ijin…”
Abdul : “Yah, Abdul gitu lho… ha ha ha…”
Malam itupun aku kembali ke kamar untuk menghitung apa saja yang hendak dibawa ke Tarim. Hari esok Ibu Kota Kebudayaan Islam itu akan menyambut kedatangan kami berdua. Tarim, tunggu aku di tengah lembah nan sunyi itu. Aku merindukanmu, 2 tahun terpisah darimu membuatku kini benar-benar merindu, hingga rindu itu tak terbendung lagi. Dan, kini semua kerinduan tentangmu akan kutuangkan sehabis-habisnya. Agar dunia tahu betapa aku mencintai kota indah yang bernama Tarim.
Baru saja kusiapkan tas ranselku untuk mewadahi perlengkapan pakaian dan mandi, Si Riski masuk ke kamarku. Kebetulan dia lagi kosong, kuambil saja jasa potong rambutnya untuk merapikan rambut yang sudah agak memanjang dan terasa pengap di dalam kopyah di musim yang super panas ini. Yah, suhu musim panas di Yaman bisa sampai 40ᵒ C, maka dari itu kehidupan Ramadhan di Yaman berubah 180ᵒ lantaran hawa panas yang tak tertahankan di siang hari. Hal ini kian menggila-gila mana kala terjadi pemadaman listrik, wuih… panasnya super banget.
Malam itu juga 2 helai baju koko, 1 helai baju gamis, 3 potong sarung dan 3 peci
putih Made in Malaysia yang ada logo Terompah Nabi kumasukkan dalam tas ransel coklatku. Sabun, sampo, sikat dan odol tak lupa kuselipkan di bagian depan tas. Power Bank dan Charger adalah hal terpenting yang tak boleh ditinggalkan bersamaan dengan Kipas Portable. Kalau di Indonesia ada pepatah “Sedia payung sebelum hujan”, di sini ada pepatah “Sedia power bank dan kipas sebelum mati lampu”.
Esok harinya tanggal 16 Ramadhan ba’da Shalat Shubuh aku kembali memeriksa tasku dan memastikan tak ada satupun yang tertinggal, akupun turut mengingatkan Si Abdul untuk mengecek barangnya kembali. Kutatap jendela asrama, nampak langit sedikit mendung, suara burung gagak di pagi buta cukup memecah keheningan hariku. Taksi yang sudah kami pesan akhirnya tiba di asrama tepat jam 6 pagi. Kini aku dan Abdul mulai memasukkan barang ke bagasi mobil, lantas kami duduk di kursi belakang. “Ammu, asri’ syuwayya, nahnu musta’jil jiddan jiddan, kay la nata’akhkhor”, [Paman, tolong agak cepat dikit, kami lagi buru-buru banget biar gak telat] ucapku kepada Sopir Taksi.
Taksi putih itu melaju dalam terpaan sinar mentari yang kuning keemasan. Butuh 30 menit untuk sampai ke tempat pemberangkatan di tepi Khour, di Sharij – Mukalla. Sepanjang jalan kulihat masih ada sisa-sisa pembakaran ban bekas yang dilakukan para demonstran beberapa hari lalu yang menuntut untuk pemulihan suplay listrik yang kian hari kian tak menentu. Di mana dalam satu hari listrik padam lebih dari lima kali, itupun hanya 2-3 jam saja. Listrik di musim panas seolah-olah menjadi barang mewah yang susah didapatkan. Terpaksa kebanyakan warga yang beruang harus membeli generator listrik untuk memenuhi kebutuhan harian mereka, terlebih pabrik-pabrik.
Sepanjang jalan dari Hayy Syafi’i hingga Khour Mukalla terasa sangat sepi sekali. Hanya satu dua mobil yang kulihat. Yah, ini Bulan Ramadhan, kegiatan orang Yaman berubah total. Setelah 30 menit melaju kencang di atas aspal, taksi yang kami naiki akhirnya menurunkan kami di tepian Kanal Khour. Lansung saja kami berkemas menuju mobil fan yang siap mengantarkan kami ke Tarim. Aku lebih memilih menggunakan jasa mobil travel dari pada bus, lebih asyik untuk menikmati sepanjang perjalanan menuju Tarim, kota pengharapan.
Kami mengambil kursi nomer dua dari belakang di bagian kiri dekat jendela. Yah, ini adalah kursi favoritku. Sengaja mengambil posisi di samping jendela agar aku bisa menikmati pemandangan perbukitan sepanjang jalan menuju Tarim. Butuh 7 jam lamanya untuk mencapai Kota Tarim dengan kecepatan standar. Jarak Mukalla – Tarim sekitar 350 km. Dengan memangku tas ransel di paha dan menyiapkan syal sebagai penutup kepala saat tidur, lantas membaca Do’a Safar kini akhirnya mobil travel melaju kencang di atas aspal setelah semua penumpang menduduki kursi masing-masing, tak terkecuali aku dan Abdul.
Bersambung ke Mendadak Ke Tarim Bagian 2
