Siapa yang tak kenal dengan Eni Lestari Andayani? Seorang PMI (Pekerja Migran Indonesia) di Hongkong, tentu sudah tak asing lagi bagi kami. Dia PMI yang lahir di Kabupaten Kediri Jawa Timur, anak sulung dari 3 bersaudara.
Sisi lain kegiatan PMI Hongkong mengisi waktu liburnya, ada yang menjadi aktivis, sekolah, kuliah, kursus menjahit, memasak, terapis. Tidak heran jika mereka pulang tidak hanya membawa uang, tapi punya skill dan ijazah.
Sebagai tulang punggung keluarga, bukan alasan yang tabu, rata-rata bekerja ke luar negeri adalah faktor ekonomi.
Diawali tahun 1999 ke Hongkong hingga sekarang, dampak krisis ekonomi tahun 1997 orang tuanya hanya pedagang kecil, harga pasar tidak stabil, mencari pekerjaan susah, mau masuk kuliah pun gagal tak ada biaya. Sekedar untuk mempertahankan usahanya terlilit hutang bank dan rentenir.
Tawaran bekerja ke Hongkong dari seorang teman dan sponsor, tidak disia-siakan, dia membulatkan hatinya untuk bekerja sebagai ART (asisten rumah tangga).
21 tahun di Hongkong bekerja di 5 majikan, tentu ada suka dukanya. Salah satu majikan warga negara Korea. Berbeda agama, bahasa, adat istiadat, mengenal budaya dan karakter mereka.
Harus menambah wawasan dan ilmu. Tentu tak semuanya manis dukanya bekerja ikut orang serba terbatas.
Ketika ingin melakukan sesuatu di hari biasa, harus mengurungkannya.
Eni Lestari salah satu PMI Hongkong yang gigih membela hak-hak kami. Saya pribadi sering melihat para aktivis yang sering demonstrasi di depan KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia).
Bukan tanpa alasan dia gigih membela pekerja migran, karena pernah menjadi korban eksploitasi, gaji underpay, paspor ditahan agen, dilarang libur 8 bulan pertama kerja. Kabur ke Labour dan shelter Bhitune House. Kejadian itu membuat Eni bangkit. Bergaul dengan orang-orang positif, membuat Eni mau belajar hak-hak sebagai PMI, memotivasi diri sendiri juga teman-teman seperjuangan.
Dia berjanji untuk tetap belajar dan tidak mau menjadi PMI yang bodoh.
Dia mendirikan ATKI (Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia) bersama dengan sahabat-sahabatnya pada tahun 2000. 10 tahun menjadi ketua ATKI, sebelum berkiprah di IMA (Internasional Migrant’s Aliance) sebuah aliansi formal buruh migran yang berdiri di Hongkong pada tahun 2008. Anggota organisasi ini berjumlah 120 organisasi dari 19 negara.
Selama ini IMA aktif membawa suara migran dan pengungsi di berbagai forum regional dan internasional.
Sebagai PMI Hongkong saya turut bangga, dia diutus ke Konfrensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa- Bangsa ke-71 di New York. Tentang migran dan pengungsi pada 19 September 2016. Ini pertama kalinya membahas tentang pekerja migran. Mereka meminta sebagai pembicara dari kalangan pekerja migran.
Alhamdulillah, upaya dan dukungan dari berbagai pihak, dia terpilih sebagai pembicara dari ratusan calon narasumber lainnya. Dia berbicara tentang kondisi nasib pekerja migran di dunia. Dia berpidato di hadapan 1900 hadirin perwakilan dari berbagai negara.
Harapannya untuk KJRI, sebagai perpanjangan dari pemerintah Indonesia.
Walaupun punya batasan terkait apa yang boleh dan tidak boleh. Tapi dalam kondisi di perantauan, tidak punya perwakilan resmi selain konsulat. Posisi KJRI sangat penting, menjadi penolong utama bagi pekerja migran.
Konsulat dituntut untuk lebih terbuka, mengayomi, menjadi pendengar dari sisi pihak sebagai PMI. Itu yang membuatnya dan teman-teman mengkritik kebijakan pemerintah, salah satunya tentang kontrak mandiri.
Dipaksa masuk PT dan agen walau sudah experience, jam kerja yang tidak teratur, makanan tak yang layak.
Semakin asyik sharing kami, saya nyentil sedikit tentang PJTKI dan agen, perbedaan antara agen yang satu dengan lainnya itu tidak sama.
“Mereka bisniskan semakin banyak PMI, semakin tinggi majikan membayar mahal, tentu tujuannya adalah uang. Jika kontrak mandiri diterapkan, bukan hanya meringankan bagi pekerja migran juga bagi majikan.”
Pesannya untuk PMI Hongkong, ke luar negeri jangan cuma tahunya, PT, agen, rumah majikan. Harus pintar sendiri, cari informasi lewat smartphone terkait hak-haknya, aturan hukum Hongkong.
Membangun koneksi yang baik, memperluas wawasan, jangan asal bergaul, yang menjurus terjerat hutang bank atau narkoba.
21 tahun di Hongkong belum ada niat untuk pulang, itu karena panggilan hati. Kecintaannya, rasa peduli memperjuangkan dan membantu teman-teman yang lebih membutuhkan.
Luar biasa Mbak Eni kita punya jiwa sosial yang sama walau beda bidang.
Semoga akan lahir Eni-Eni yang lainnya, gigih memperjuangkan hak pekerja migran. Kayau .

