Keragaman yang ada di Indonesia rupanya tak hanya suku dan budayanya, tetapi juga kulinernya. Salah satu kuliner legendaris Indonesia yang saat ini masih menjadi santapan masyarakat adalah ketan. Bahkan, ketan dikenal pula sebagai bagian dari makanan khas beberapa daerah di Indonesia.
Diolah dari bahan dasar beras ketan, makanan ini bisa dibuat beragam aneka kudapan. Bahkan, bisa dinikmati dengan atau tanpa makanan pendamping, makanan khas Indonesia ini tetap lezat disantap.
Tapi tahukah Anda bahwa ada filosofi di balik konsumsi ketan oleh masyarakat Indonesia? Filosofi ketan berhubungan dengan kedekatan sesama manusia, entah keluarga, kerabat, hingga sahabat.
Ketan itu salah satu jajanan asli Indonesia dari zaman Majapahit. Budaya bangsa Indonesia memang senang kumpul-kumpul. Zaman dahulu, bukan hanya orang kerajaan saja yang berkumpul, rakyat jelata juga. Ada minuman entah kopi atau teh di dalam kendi, pasti ada jajanan kecilnya, nah biasanya itu terbuat dari ketan.
Ketan itu lengket karena mengandung gluten yang cukup tinggi. Tekstur ketan yang lengket bermakna kedekatan. Bagi masyarakat zaman dahulu, diibaratkan saat berkumpul kedekatannya semakin akrab. Jadi, kumpul-kumpul keluarga diharapkan berakhir dengan keakraban yang intim.
Selain ketan sendiri sudah memiliki rasa cenderung manis, teman makan ketan biasanya yang manis-manis juga dengan dicampur kelapa dan gula Jawa. Rasa manisnya itu memiliki arti penting. Filosofinya, hasil pertemuan harus menghasilkan yang indah-indah. Bila ada masalah, pasti ada jalan keluarnya.
Terlepas dari itu semua, proses pembuatan makanan dari ketan biasanya cukup lama, butuh kesabaran ekstra, dan tidak jarang memerlukan kerja sama beberapa orang. Ini pun mengajarkan kita untuk selalu bekerja sama dan saling dukung antara satu dengan lainnya. Setuju? []
Diolah dari berbagai sumber

Filoosofinya memang khas Indonesia.
Di suku Tapanuli Selatan, yang disebut juga halak hita, lemang terbuat dari ketan yang dikukuy handapeun lebu tah sabaraha jamna. Kuat sampai berhari-hari.