Benar kata Bung Karno, sebagaimana dikutip sang inspirator Ruslan Ismail Mage, “Selama ada semangat muda dalam jiwa kami, tidak ada yang bisa merendahkan apalagi mengusik bangsa Indonesia.”

Kurang lebih 30 menit bersama anak-anak muda penulis masa depan yang tergabung dalam Pena Anak Indonesia (PAI) di acara peringatan Maulid Nabi di SMA Haji Agussalim Katoi Kolaka Utara (29/10), terasa benar energi muda mengalir dalam jiwa ini.

Menarik dari mereka, karena selama bergabung dalam komunitas anak menulis PAI yang dikelolan oleh Bengkel Narasi (BN), siswa-siswa Kolaka Utara silih berganti terus bermunculan karya-karya tulisnya di angkasa. Sesungguhnya mereka adalah mutiara terbenam di Bumi Patampanua yang akan memancarkan cahayanya di kemudian hari.

Irwan salah seorang anggota PAI siswa SMA Agussalim Katoi mengatakan, “Sangat senang dan bersyukur bisa bergabung di PAI, karena bisa meningkatkan kemampuan menulis yang dibimbing langsung oleh mentor menulis profesional. Kesyukuran yang sama disampaikan Ulva. Menurutnya ia sangat bersyukur bisa bergabung di PAI, karena mendapatkan kesempatan dibimbing langsung oleh penulis-penulis hebat Indonesia.

Kegembiraan dan kesyukuran Irwan dan Ulva bisa bergabung di PAI dirasakan juga oleh Sinar siswa SMAN 1 Lasusua. Menurutnya apa yang diyakini Irwan dan Ulva sama dengan yang ia yakini. In syaa Allah, kami akan berusahan meningkatkan kemampuan menulis, terlebih dibina langsung oleh penulis-penulis kenamaan Indonesia.

Sementara itu, Hasbi Latif mewakili Ketua Yayasan Perguruan Haji Agussalim Katoi mengingatkan bahwa, “Masa depan bangsa ditentukan oleh generasi hari ini. Jadi atur langkah dari sekarang, tingkatkan kemampuan dan ketekunan belajarnya. Karena salah satu ciri generasi pemenang adalah berani tampil ke permukaan dengan segala energi kreatifnya. Bersyukurlah anak-anak Kolaka Utara, karena ada PAI sebagai panggungnya untuk muncul kepermukaan.

Harapan yang sama disampaikan oleh Kepala SMA Haji Agussalim ibu Marsuka S.Pd, yang menghimbau siswanya agar bisa mengikuti jejak temannya yang berani muncul kepermukaan dan mengangkat nama sekolahnya. Meskipun sekolah swasta, tetapi dengan munculnya beberapa siswa hebat menulis, secara otomatis akan mengharumkan nama baik sekolahnya.

Terimakasih Pena Anak Indonesia (PAI) yang telah menjadi panggung gagasan anak-anak Kolaka Utara. Terimakasih Irwan, Ulva, Sinar, 30 menit bersama membuat semangat mudaku menggeliat ìngin muncul.juga kepermukaan.

(Visited 173 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

One thought on “30 Menit Bersama PAI Kolut”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.