Oleh: Imam Abdullah El-Rashied

Bagian 10 (Akhir)

Sebuah Cerita Tentang Mimpi, Perjalanan dan Perjodohan-

Dilengkapi dengan ulasan sejarah, topografi, dan tempat-tempat penting serta tokoh berpengaruh di Yaman. Dipadu dengan kajian hukum Islam dalam perspektif Fiqih Madzhab Syafi’i, Al-Qur’an dan Hadits.

Lamunan itupun buyar ketika Abah Abdul berdehem dan mempersilahkan puterinya untuk berbicara. Akhinya ia membuka sedikit bibirnya, sepertinya sedang membaca Bismillah lantas berkata: “Salam kenal Abang, ana Azka Shofia Fauzan, panggil saja Azka”. Sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada, ia memberi sedikit anggukan kepadaku.

Oh, namanya Azka, nama yang indah seindah pemilik nama itu. Dia panggil aku Abang. Oh Azka, perlu kau tahu, “Abang” adalah panggilan yang paling aku sukai dari sekian panggilanku selama ini. Yah ketika aku tiba di Cirebon 8 tahun silam, aku mendapat panggilan yang berbeda-beba. Ada yang memanggilku “Kang”, sapaan akrab di Cirebon, ada yang memanggilku “Mas”, ada yang memanggil “Kakak”, ada yang memanggil “Abang”, ada yang memanggil “Adek”, dan ada yang memanggilku “Om”, yaitu keponakanku sendiri.

Sebenarnya aku ingin memanggilnya dengan panggilan Aas atau Fifi, panggilan khusus dariku untuknya. Namun karena rasa gugup begitu mengekangku, jadi aku panggil saja “Mba Azka”. Dia agak sedikit risih ketika aku memanggilnya dengan “Mba”, meski panggilan itu adalah panggilan akrab di Jawa untuk wanita yang lebih dewasa. Aku menjawab perkenalan itu dengan sedikit gemetar: “Salam kenal Mba Azka, ana Imam Abdullah Rashied”, aku menambahkan nama belakang tanpa menggunakan “EL”, yah itu adalah nama belakang Abahku, sepertihalnya Azka nama belakangnya adalah nama Abahnya juga.

Azka nampak sedikit tersenyum seraya berkata: “Panggil adek aja Bang, jangan Mba. Kayak ngerasa gimanaaa gituh… he he he”. Abduh agak terkekeh mendengar ucapan kakak perempuannya yang ia panggil dengan “Mpok” itu, layaknya panggilan orang betawi pada umumnya. “Aduh gimana nih ya, koq aku malah jadi ngerasa salah tingkah di depan Azka”, ucapku dalam batin. Azka hanya tersenyum, senyumnya begitu manis. Nampaknya dia sangat menguasai panggungnya kali ini, sedangkan aku kelabakan dan tak tahu harus bersikap apa dalam keadaan yang untuk pertama kalinya aku alami ini.

“Oh, ia Dek Azka…”, hanya itu saja tanggapanku atas permintaannya. Senyum dan tawa nampak di wajah-wajah yang menatapku, nampaknya mereka tahu betapa gugupnya anak kampung yang ada di hadapan mereka. Aku mengikutkan diri untuk tersenyum, sambil

menahan rasa malu. Tiba-tiba Abah Azka berdehem dan mengambil alih pembicaraan: “Gimana Nak Imam, soal permintaan Abah tadi. Kalo Azka, orangnya sudah mengiyakan sejak pertama Abah dan Ummi membicarakan hal ini padanya sebulan silam sebelum akhirnya kami mengunjunginya setelah Umroh. Tapi Nak Imam tak usah buru-buru, kami masih seminggu lagi di Tarim. Kami harap Nak Imam sudah bisa memberi kami kepastian sebelum kami kembali ke Indonesia”.

Aku jadi teringat tentang puisi yang kutuliskan 4 tahun silam. Puisi itu masih tersimpan rapi di Dairy yang selalu kubawa saat bepergian. Puisi itu berjudul “Permaisuri Masjid Biru”, berikut isinya:

Salju turun menyelimuti wajah Masjid Biru

Keanggunannya seolah-olah membeku

Taman rindangpun nyaris tak menampakkan senyum

Akan tetapi..

Gadis berkerudung biru itu telah menyihir sesuatu

Gadis yang memegang setangkai mawar biru

Di hadapan keagungan itu

Bibirnya tersenyum menatap dengan bisu

Hatiku tertawan oleh sihir pesonamu

Entah rasa apa yang telah menawanku?

Apakah ini yang namanya cinta?

Oh Permaisuri Masjid Biru

Perlu Kau tahu

Dalam singgasana jiwaku, kaulah permaisuriku

Mantel bulu yang kau kenakan, nampak sebagai gaun yang begitu mempesona

Nampak kedua orang tuamu berdiri di sisimu

Seolah mereka sedang mengantarkan seorang penganten menuju ke hadapanku

Ah, aku harap Tuhan menciptakanmu sebagai permaisuriku kelak

[Di ketinggian 1000 m di atas permukaan laut, dekat pos pendakian pertama Gunung Ciremai – Kuningan, 25 November 2014, dalam bingkai foto gadis cantik masuk ke WhatsAppku]

Beberapa bulan yang lalu Abdul sempat meminjam buku Diaryku. Katanya ia ingin membaca puisi-puisiku. Bagiku tak ada yang privasi dalam buku bercover hitam itu. Hanya ungkapan-ungkapan puisi. Nampaknya Abdul sempat membaca “Permaisuri Masjid Biru” dan kusangka dia memahami maksud puisi itu. Yah, puisi itu berbicara tentang gadis yang berfoto di depan Masjid Biru – Turki. Akhir November 2014 Abdul pergi ke Turki bersama keluarganya, termasuk kakak perempuannya. Hanya saja aku tak berani bertanya tentang seorang gadis yang berpose memegang mawar biru di depan Masjid Biru kepada Abdul. Aku berusaha untuk menjaga imageku. Biarlah rasa kagum dan cintaku pada gadis itu aku ungkapkan dalam puisi, lantas kulantunkan dalam do’a-do’aku. Jika ia baik untukku semoga Allah mendekatkannya padaku, namun jika tidak, maka semoga Allah menjauhkannya dariku, sejauh-jauhnya.

Dalam waktu senggang di asrama, kadang kami suka berbicara tentang pernikahan. Yah, tema ini adalah tema yang takkan pernah habis untuk dibahas. Saat itu di kamar ada aku, Abdul dan Nauval. Aku dan Nauval bicara panjang lebar soal kriteria istri idaman. Abdul hanya mendengarkan saja, tanpa memberi komentar. Saat itu Nauval bertanya kepadaku tentang calon istri yang kuidam-idamkan. “Yah yang penting Sholehah, keturunan baik-baik, syukur-syukur cantik dan kaya. Kalo inginnya sih santri Daruz Zahra biar sekalian Habib Umar yang nikahin”, ucapku dengan mantap kepada Nauval. Lantas, sepeti kebiasannya ia nyeletuk: “Emang bakal ada yang nerima kamu?”. Aku jawab saja sekenanya: “Val, kalo aku maunya bukan melamar tapi dipaksa untuk melamar santri Daruz Zahra, ha ha ha”, tambah mantap aku menjawab pertanyaannya dengan sedikit tertawa. Yah, apa salahnya kita berharap, selama harapan kita hanya tertuju kepada Allah.

Aku malah berfikir. Apakah lantaran Do’a Nabi Musa a.s. yang kubaca di jalan kemaren, aku mendadak dapat jodoh yang kuinginkan. Ataukah karena Abdul sudah menyettingnya sedemikian rupa dengan Abah Umminya. Ataukah lantaran do’a yang sering kupanjatkan di penghujung malam? Sehingga jodoh yang kuinginkan tepat seperti yang kuharapkan, termasuk bagaimana sekiranya aku yang merasa butuh tapi seolah-olah aku yang merasa dibutuhkan dan diminta. Dan, selama ini harapan adalah senjata terampuh yang kugunakan untuk mencapai cita-cita.

Aku mengambil nafas dalam-dalam sambil sepintas menatap wajah Azka lekat-lekat lantas menatap kembali wajah Abah Azka seraya berkata: “Jawaban itu nampaknya akan ditentukan sekarang juga Bah, tapi…”. Tiba-tiba 4 pasang mata tertuju kepadaku menunggu kelanjutan kalimat yang hendak kuucapkan. “Sebaik-baik kebaikan adalah disegerakan Bah. Tapi saya akan menghubungi orang tua dan guru saya di Indonesia terlebih dahulu. Kalo saya, jujur sejak lama saya sudah menaruh harapan pada Azka, meskipun saya tak pernah membicarakannya pada Abdul atau kepada Abah”.

Empat pasang mata yang melirik padaku menarik tatapan tajamnya dariku. Nampaknya mereka sangat faham dengan apa yang kukatakan. “Saya tak ingin memutuskan sesuatu tanpa mengikutkan orang tua dan guru, terlebih dalam hal pernikahan Bah”, ucapku dengan mantap. “Insya Allah besok malam, setelah bermusyawarah dengan orang tua dan

guru, Imam akan segera menemui Abah Fauzan dan Ummi Fauziyah. Mohon do’anya semoga ini adalah ikhtiyar yang terbaik”, imbuhku sambil menunggu komentar Abah Azka.

“Soal pernikahan, Abah dan Ummi Imam sebenarnya sudah memasrahkan sepenuhnya tentang calon pendamping yang menjadi teman hidup Imam. Bagi mereka berdua yang penting Sholehah. Bahkan Ummipun sempat menyinggung kalo saya mau menikah dengan santri putri di Yaman juga silahkan sebagaimana banyak dilakukan alumni Yaman. Guru saya dulu malah berpesan sebelum berangkat: “Nak, belajar yang rajin. Soal menikah dengan siapa, nanti kalau kamu sudah lulus tinggal bilang saja mau minta anaknya siapa nanti saya yang melamarkan”. Hanya saja saya tak ingin memutuskan sesuatu tanpa musyawarah dan arahan mereka Bah”. Ucapku kepada Abah, sambil sesaat aku menatap Azka.

Nampaknya Azka sedikit kecewa lantaran aku tak memutuskan langsung menerima lamaran itu. Tapi setidaknya saat ini dia sudah yakin bahwa aku mencintainya. Lantas Abah berkata kepada Azka: “Azka, ada yang mau disampaikan?”. Azka mengangguk dan berkata: “Bang… apa pun jawaban Abang, Azka akan terima. Kalo diterima, Azka dengan senang hati menyambutnya, kalaupun ditolak dan semoga saja tidak, Azka akan lapang dada menerima kenyataan. Kita hanya berikhtiyar dan Allah-lah yang menentukan. Jangan lupa do’akan yang terbaik buat Azka Bang…”. Ada setetes air berkilau di ujung mata Azka. Oh Tuhan, aku tak ingin membuatnya menangis kecuali dalam kebahagiaan. Maafkan aku Azka yang belum bisa memberikan kepastian, meskipun aku ingin hidup bersamamu di dunia dan akherat.

Azka, laki-laki mana yang akan menolak gadis cantik seperti dirimu? Keluarga mana yang tega menolak gadis baik-baik sepertimu? Aku janji padamu Azka meskipun kau tak mendengar suara hatiku. Tunggulah satu hari saja, aku akan meyakinkan kedua orang tuaku dan guruku untuk menentukanmu sebagai pendamping hidupku. Dan, aku berjanji akan membahagiakanmu selama nafas ini masih terhembuskan dari hidungku, selama darah ini mengalir di nadiku. Maafkan aku Azka yang telah membuat isi hatimu tak menentu, meskipun kau tahu aku mencintaimu dan menginginkanmu.

Kulihat Ummi Fauziyah menggenggam erat tangan Azka. Abah Fauzan menatapku. Sedangkan Abdul hanya terdiam tanpa komentar di sampingku. Dalam suana yang membeku ini, tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Makanan yang dipesan sudah siap untuk disantap. Saat kami hendak menyantap makanan itu, tiba-tiba kami mendengar suara Adzan berkumandang. Yah, itu adalah Adzan Shalat Isya’. Dengan khidmat kami mendengarkan Adzan secara seksama seraya menjawabnya perlahan. Namun anehnya kami mendengar bacaan “Ash-Sholatu Khoirun Minan Naum…”. Bukankah ini waktu Isya’ bukan Shubuh? Aku masih penuh tanda tanya mendengarnya, sedangkan orang-orang di hadapanku hanya diam saja hingga suara Abdul begitu keras memanggilku: “Bang… Bang Imam…”. Aku justeru tambah heran, kenapa Abdul malah berteriak memanggil sedangkan aku duduk di sampingnya. Abdul terus saja memanggilku hingga aku terbangun dari tidurku.

Aku terbangun dari kasurku. Ku lihat Abdul menyelinap masuk melewati pintu sambil  

terus memanggilku. “Bang udah Shubuh nih, cepetan bangun… oh iya tadi Abang gak sahur?”, tanyanya kepadaku. Aku hanya menyambutnya dengan kata “Iya nih, Gue ketiduran Dul”. Rasanya lelah sekali setelah bangun tidur. Aku baru ingat, kemaren sore sebelum Maghrib kami sedang mengadakan kerja bakti untuk menyambut kedatangan Sayyidi Syeikh yang akan tiba di asrama pertengahan Ramadhan ini. Pantas saja aku tidur begitu lelap setelah Shalat Taraweh. Punggungku masih terasa nyeri lantaran kelelahan saat kerja bakti di waktu puasa, di saat stamina sudah di ambang batasnya.

Aku kira perjalanan ke Tarim adalah sungguhan, ternyata hanya sebuah mimpi. Dan, kau Azka, terima kasih sudah sudi untuk mampir dalam kisah ini sebagai salah satu tokoh kunci jalannya cerita. Meskipun aku belum pernah melihatmu namun setidaknya aku sudah sangat senang bisa bertemu denganmu dalam imajinasiku, meski dirimu hanya tokoh fiktif belaka. Seharusnya aku memberi Tag Line cerita ini dengan tulisan: “Sebuah Cerita Tentang Mimpi Perjalanan Dan Perjodohan”, dengan menghilangkan tanda koma antara kata mimpi dan perjalanan. Ternyata, salah meletakkan koma akan membuat sebuah ungkapan berubah total. [Selesai]

“Jika dirasa tulisan ini bermanfaat, jangan segan-segan untuk dishare. Dan, jika ada kritik dan saran, jangan sungkan untuk melayangkannya pada penulis.”

Penulis bisa dihubungi melalui sosmed berikut ini:

FB : Imam Abdullah El-Rashied

IG : @elrashied_imam

E-mail : elrashiedimamabdullah@gmail.com

(Visited 74 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.