***

Jingga adalah muda periang, koloni belianya menjulukinya “Rusher”, sebab disetiap jengkal peristiwa dialah yang selalu mendiplomasi masalah. Karib terdekat memanggilnya “Njing”, mungkin maksud mereka adalah anjing. Karena cinta, kesetiaan dan daya persahabatannya dianalogikan dengan domestikasi dari serigala ini.

” Huufffttt… Aku bisa saja menghempas tanggapnya, telaahnya belum tentu benar, kelemahan ku karena tidak maksimal saja menyiapkan bahan” Geram perempuan kuning langsat bermata teduh.

“Buang dalih membual mu, kau hanya tidak mampu terpercik mata Jingga… Haha… Ha.. Hahaaa” Kekeh sahabatnya.

Tak terkira, Jingga mendatangi ruang jeda perempuan kuning langsat, “maaf jika benturan diskusi tadi terlalu beringas” Sembari menjulurkan tangannya.

Jingga menyambung ujar “Aku hanya berupaya menyajikan diskusi cerdas, jikapun sedikit cadas itu hanya sebagai upeti bagi kerumunan siswa agar waktu mereka tidak sia terbuang, bukankah waktu kita tak banyak lagi? Aku juga hanya ingin menitip cerita kepada dinding tembok pemberi ilmu”.

Sepatah katapun tak menetes dari bibir perempuan kuning langsat, hanya lesung pipitnya terangkat sebelah dan berlalu membenamkan permohonan maaf Jingga.

Selepas jembatan besi buatan Belanda, Jingga menikung ke kiri menuju periuk ibunda, tentu saja lapar mendera akibat diskusi memberangsang dengan perempuan kuning langsat.

“Njing, matanya itu lho… Teduh nian” ujar tompel karib terbaiknya. Jingga menunduk mencabut rumput teki, batang dalamnya diselip ke sela bibir dan berlalu meninggalkan tompel.

***

“Ayah terlahir dari masa kolonial, tak pernah mengenyam bangku pemberi ilmu” Ayahanda berujar sembari memindahkan rumput ke kandang lembu,

“satu ekor mungkin tak akan menghantar citamu selepas ujian nanti” Ayahanda berjalan mengambil rumput yang diarit selepas terik,

“Rumput ini ayah cabut hari ini, beberapa hari lagi dia akan kembali tumbuh, jadi kau jangan meragu akan rezeki, langitkan saja cita mu nak!” Sembari menepuk bahu Jingga.

Jingga bergegas menjemput lembu-lembu dari Sabana gembalaannya, sebagai ungkap syukur akan semangat ayahnya.

***

“Ngga! Masalah dengan gadis kelas sebelah belum selesai? Congkak benar pekertinya”, ujar perempuan semampai bermaksud mensuaka Jingga.

” Kita berkarib lekat, tapi tidak semua hal yang bisa kau rasuki” Jawab Jingga,

“kau seperti membela dia!” Kesal dan sesal gadis semampai.

“Mendesak dia akan interpretasi Soeharto akan peristiwa Supersemar, aku rasa agak keterlaluan” Balas Jingga sembari menyuguhkan es serut ke gadis semampai.

Dari gerobak es serut Jingga melihat perempuan kuning langsat menempel sesuatu di mading sekolah. Setelah dia menghilang Jingga mendekati mading. Dengan kertas muda-mudi merah muda tertempel secarik kertas bertabur syair :

“….
Jika uluran tangan adalah maaf,
Mungkin matahari sudah mengulurkan tangan kepada bulan atas terangnya,
Jika ucap adalah maaf,
Tentunya gunung akan meneriakan laut akan tingginya,

Tapi tidak,
Maaf adalah kerumunan penyesalan yang dibungkus tulus,
Memintanya berarti berikrar tak akan mengulangi…”

Sekolah ini memang luar biasa, majelis pendidiknya menjadikan mading sebagai tempat berkreatifitas para penghuni sekolah, tempat menumpah segala keluh, segala kesah. Bukan hanya siswa, pendidiknya juga boleh menempel kreatifitasnya guna melecut potensi para praja.

Seketika Jingga merona, bersorai dalam jiwanya. Sepertinya Jingga sedikit tertarik dengan perempuan kuning langsat bermata teduh, aroma kecerdasannya terhirup indera penciuman Jingga, semerbak menyeruak relung hatinya. Tapi hingga kala ini, Jingga memang tak pernah memikir cinta, namun perempuan kuning langsat seperti mematahkan keteguhannya.

Petang kembali menghadap, Jingga menuju rumpun aur ditebing sungai tak jauh dari rumahnya. Jingga menyayat kelopak aur dengan sembilu dapur ibunda.

“Hmmm… Syairnya akan aku balas dengan cara tidak biasa” diskusi Jingga dengan hatinya. Kelopak aur diukir dengan jarum goni yang biasa digunakan ayahnda untuk menyulam karung rumput lembu.

Jingga mulai mengukir :
“….
Tunggu,
Kala rembulan menghampar di sabana gembalaan,
Maaf akan kembali datang keharibaan,
Dibungkus kertas kado yang berpita rama-rama,
Maaf akan bersujud sungkur menuju mata.

Semoga kelopak ini tidak menidurkan makna dari maaf…”(Bersambung)

(Visited 108 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Je Osland

"Maka bermimpilah hingga gugusan antariksa terakhir dari bumi ini, setidaknya separuh dari planet ini akan terkunjungi"

3 thoughts on “(bukan) JINGGA PENYULAM RAYA (bag.2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.