Buku : Bahasa dan Gender dalam Masyarakat Bugis
Penulis : Murni Mahmud
Penerbit : Pustaka Refleksi
Tempat Terbit : Makassar
Tahun : 2009
Jumlah Halaman : ix + 72
Bahasa Bugis termasuk bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak hanya di Sulawesi Selatan, orang Bugis yang merantau diberbagai daerah dan di beberapa negara juga banyak yang tetap menggunakan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari hari. Bahasa ini adalah salah satu bahasa daerah di Indonesia yang masih menggunakan aksara tersendiri yaitu aksara Lontara. Berbagai jenis naskah kuno Bugis masih tersimpan pada lembaga lembaga seperti Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi, Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, Museum, dan berbagai perpustakaan di luar negeri.
Salah satu aspek bahasa Bugis yang belum banyak dikaji oleh para peneliti adalah aspek penggunaan bahasa Bugis berdasarkan gender. Menurut Lakoff (1976) perempuan dan laki laki seringkali berbeda dalam menggunakan suatu bahasa. Apakah perempuan dan laki laki dalam menggunakan bahasa Bugis sehari hari juga berbeda? Aspek inilah yang dibahas dalam buku kecil ini.
Terdiri dari empat bagian, diawali dengan pengantar dari penerbit dan pengantar dari penulis. Bagian pertama tentang orang orang Bugis, mulai dari aspek budayanya, kehidupan beragama, sistem sosial, dan perubahan perubahan dalam masyarakat Bugis. Sedangkan pada bagian kedua tentang gender, dampak perbedaan gender, dan bahasa yang sering digunakan oleh kaum perempuan.
Pada bagian ketiga adalah topik utama pembahasan buku ini. Bahasa dan gender dalam masyarakat Bugis, termasuk didalamnya gender dalam masyarakat, konsep perbedaan bahasa dan gender, dan refleksi perbedaan bahasa dan gender. Sedangkan bagian terakhir (keempat) adalah penutup dimana sebuah renungan, daftar pustaka dan riwayat hidup singkat penulis.
Buku sangat direkomendasikan bagi para pemustaka, peneliti atau masyarakat umum yang tertarik mengkaji bahasa Bugis dari segi aspek gender.

