Dalam perspektif al-Qur’an, kematian menurut Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, L.C., M.A. di dalam kitab tafsir Al Misbah menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya hikmah peristiwa kematian itu adalah untuk mempertegas asal, tempat dan tujuan kita di permukaan dunia ini.

Pertama, bahwa kematian itu pada hakekatnya menjadi sebuah peristiwa yang mengingatkan tentang darimana asal kita. Ketika kita melihat sebuah peristiwa kematian, paling tidak yang pertama yang harus kita lakukan adalah menghadirkan sebuah pemikiran di dalam hati betapa janji Allah SWT nyata bahwa,” Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati (Q.S. Al-Ankabut : 57)”. Segala makhluk hidup di permukaan dunia ini akan mengalami yang namanya kematian. Manusia, hewan dan tumbuhan akan mengalami masa-masa itu. Lantas sebagai manusia, akan timbul sebuah pertanyaan, jika kita memangalami kematian, kemana kita kan kembali ? Hal ini telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 156 yang artinya : “sesungguhnya kita berasal dari Allah SWT dan pada saatnya akan kembali kepada-Nya.”

Kedua, bahwa pada hakekatnya kematian itu mengingatkan kita tentang keberadaan kita di permukaan dunia ini. Bahwa betapa pun hebatnya seseorang, betata pun kayanya seseorang, betata pun seseorang itu dirawat dengan fasilitas yang mewah, tetapi ternyata kesemua itu tidaklah menjadi penyebab untuk melanggengkan kehidupan kita di permukaan dunia ini. Artinya, keberadaan kita sebagai umat manusia di permukaan dunia ini bukanlah tempat selama-lamanya. Siapa pun kita, keberadaan kita di dunia ini akan berakhir, keberadaan kita di dunia ini akan diputus. Apa yang mengakhiri keberadaan kita di dunia ini? Apa yang akan memutus kehidupan kita ? ialah kematian. Peristiwa yang akan mengantarkan kita dari dunia fana menuju tempat abadi, yaitu akhirat. Dunia sementara, akhirat selama-lamanya.

Ketiga, oleh karena kita berasal dari Allah SWT dan kemudian kita hadir di permukaan dunia ini hanya bersifat sementara. Pertanyaanya kemudian, untuk apa tujuan kita hidup dipermukaan dunia ini? Inilah yang kemudian dijawab oleh Allah SWT dalam Al Qur’an Surah Az Zariyat ayat 56 yang artinya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Sahabat BNers, makanya ketika  kemudian ada yang diberikan kesempatan hidup dan tidak menjadikan ibadah sebagai tujuan hidup adalah hal yang keliru. Ketika kita diberikan kesempatan, berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia. Bahkan tak sedikit yang mengatakan masih tak cukup waktu untuk bekerja 1 kali 24 jam. Mulai pagi hingga tembus malam tapi juga merasa tak cukup tuk memenuhi kebutuhan duniawi.

Menuntut duniawi memang penting, tetapi mengejar akhirat adalah faktor utama. Jika sekiranya Allah SWT memberikan jalan kepada kita, bahwa ketika kita mencapai target dari sebuah aktifitas pekerjaan yang kita lakukan menjamin kehidupan kita selama-lamanya. Maka tidak akan menjadi masalah kita bekerja nonstop satu kali 24 jam. Tetapi segiat apapun kita bekerja, sekuat apapun fisik kita, semua itu tidaklah menjadi jaminan bahwa kita akan kekal di dunia. Kesempatan yang diberikan hanyalah sebagai wadah untuk mempersiapkan diri menuju ke Alam Akhirat.

Ketika Allah SWT memberikan kita kekuasaan, jabatan dan harta, maka sesungguhya kesemuanya itu adalah wadah, sebuah nikmat yang diberikan kepada kita untuk kita pergunakan mengabdi kepada-Nya. Bukan sebaliknya. Berapa banyak manusia yang diberi kekuasaan tetapi mereka hanya mempergunakannya untuk menindas sesama makhluk. Berapa banyak manusia yang diberi jabatan, tetapi mereka tidak mempergunakan jabatan tersebut untuk menolong sesama, bahkan tak sedikit yang mempergunakan jabatan yang titipkan hanya untuk memperkaya diri, tanpa memperhatikan orang sekitar yang sangat membutuhkan uluran tangannya.  Dan berapa banyak di antara kita yang diberi harta yang berlebih, akan tetapi tidak menggunakan harta tersebut dijalan yang Allah ridhoi.

Sahabat BNers, semoga dengan peristiwa kematian dapat menyadarkan kita dari mana asal kita dan kemana tujuan kita, serta untuk apa kita hidup di permukaan dunia ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi apa kita lakukan, hingga dengan segala sesuatu yang kita kerjakan bisa menjadi sebab kita diperkenankan menginjakkan kaki di surga-Nya kelak, aamiin.

Dikutip dari ceramah oleh Ustaz Hamka Hamid, S.Pd.I.

Kalu-kaluku, 30 Januari 2022

(Visited 332 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.