Sosok seorang wanita selalu digambarkan dengan lemah, manja, penyanyang dan penuh kasih. Karena gambaran itu, tidak sedikit wanita telah menjadi obyek kejahatan baik secara fisik maupun batinnya. Sosoknya yang mudah percaya dengan rayuan dan janji manis membuatnya sering terluka. Itulah kemudian membuat wanita seorang penipu ulung, karena dia akan menipu orang-orang disekitarnya dengan lakon terlihat baik-baik saja ketika sedang rapuh diterpa masalah.
Seperti halnya sosok yang satu ini. Dia yang terlihat sangat kokoh dan tidak akan pernah tumbang, padahal sesungguhnya hatinya sedang terkoyak retak laksana cernin yang jatuh dari ketinggian.
Ia sangatlah cerdas menyembunyikan kesedihannya hingga orang-orang disekitarnya tidak mengetahui betapa remuk hatinya. Tempatnya mengaduh di atas puing-puing jiwanya hanya pada Sang Pemilik hidupnya.
Dalam setiap sepertiga malamnya, ia bersujud mengaduhkan segalanya. Bersimpuh dan memohon untuk selalu tegar dan tidak menyerah dengan keadaan. Ia tidak pernah menyalahkan Sang Penciptanya atas takdir yang menimpanya.
Kesabarannya luar biasa dasyatnya. Sungguh aku iri dengannya. Tak sedikitpun ia membenci orang yang telah melukai hidupnya. Sanggupkah diri ini sepertinya? Sekuat, setangguh, sesabar, dan seikhlas berdamai dengan keadannya?
Pada sudut bibirnya selalu dihiasi dengan senyum yang indah, walau hatinya sedang menangis pilu tanpa seorang pun yang mengetahui pilunya. Terjatuh dan bangkit lagi adalah visi hidupnya. Kadang aku berfikir, apakah dia seorang manusia?Bagaimana bisa ada seorang yang begitu luar biasa sabar dan penyanyang seperti dia.
Siapa pun yang telah melukai hatinya, engkau telah membuang berlian yang indah hanya untuk kerikil jalanan yang hanya jadi benalu. Pakaian sehari-harimu yang indah yang selalu menjagamu dari pandangan buruk orang, engkau tukar dengan baju yang lusuh dan tak cukup kainnya. Sungguh apa yang ada dalam benakmu.
Benar bahwa “sesempurna apa pun wanita itu, mau dia mandiri, pekerja keras, cantik, baik, kaya dan seperfect apa pun dia, jika seorang laki-laki tidak mau memperjuangkannya maka dia tidak akan memperjuangkannya dan akan membuangnya. Sebaliknya, seburuk apa pun wanita itu, mau dia jahat, jelek, miskin, manja dan seburuk rupa apa pun dia jika seorang pria mengganggap bahwa wanita ini ingin dia pertahankan maka dia akan memperjuangkannya sampai akhir, menyanyanginya dengan penuh kasih dan mencintainya dengan segenap jiwanya”.
Jadi kita sebagai seorang wanita, jangan pernah beranggapan untuk menjadi perfect agar diperjuangkan, tetapi jadilah versi senyaman mungkin dalam menjalani hidup.
Men would never become a good man because of a woman but he will change because of himself
