Pertemuan adalah hal yang selalu kuinginkan. Pertemuan dari sekian tahun terpisahkan. Pertemuan yang dihiasi dengan tangis kerinduan. Kerinduan akan sosok yang tidak pernah ada selama belasan tahun lamanya. Aku hanya mengenal namanya tapi tidak dengan kasih dan sayangnya. Aku hanya tahu bahwa aku ada karena dia ada tapi tak tahu bagaimana rasa memilikinya. Maka, jika ada yang bertanya bagaimanakah sosoknya dalam hidupku. maka aku akan kukatakan aku tidak tahu.
Sosoknya hanya ada dalam imajinasiku. Figurnya hanya ada dalam cerita teman-temanku dan dia hanya seseorang yang tertulis di Kartu Keluargaku. Bukan karena telah kembali kepada-Nya tetapi karena dia telah pergi meninggalkanku, meninggalkan sejuta luka dihatiku. Dia meninggalkan keluarga kecilnya hanya untuk keluarga barunya.
Dia pergi ketika aku masih sangat membutuhkannya. Dia meninggalkanku tanpa berpaling melihatku. Melangkah terus, terus dan terus dengan sangat mudahnya meninggalkan putra dan putri kecilnya.. Yaa dia adalah ayahku.
Ayah yang katanya cinta pertama untuk putrinya. Ayah yang katanya pahlawan untuk putranya. Ayah yang akan mengorbankan segalanya demi anak-anaknya. Tapi mengapa itu tidak berlaku untukku.
Rasa iri selalu menghampiri diri tatkala melihat seorang ayah menggandeng tangan putrinya, memeluknya erat dalam dekapannya, menemaninya bermain dan memberinya uang jajan. Sedangkan aku, aku hanya terpaku melihat dan berusaha untuk memposisikan diriku seperti putri kecil itu. Aahhh ingin rasanya aku merasakannya. Tapi itu hanya impian yang tidak akan pernah aku dapatkan sehingga membuat hati ini semakin terluka.
Aku tak pernah mengenal bagaimana wajahnya. Aku telah melupakannya. Hingga aku tak sengaja menemukan selembar foto pernikahan dan ternyata itu adalah foto ayah dan ibuku. Aku memandanginya dengan sangat lekat. Kutelusuri setiap sudut wajahnya.. waahh ternyata wajahnya seperti ini. Wajah yang selalu ingin ku lihat disetiap pelupuk mataku.
Ibu tidak pernah sedikitpun menceritakan sifat buruknya di depan anak-anaknya. Karena baginya, tidak akan penah ada yang namanya mantan ayah atau ibu. Ibuku selalu berkata “Kamu tidak akan pernah ada jika ayahmu tidak pernah bersama ibu. Nak mantan suami dan istri pasti ada tapi mantan anak atau mantan ayah tidak akan pernah ada”.
Hingga aku dewasa, ketika fikiran sudah terbuka dan hati sudah berdamai dengan keadaan. Aku bersama kakak dan adikku pergi mencarinya. Yang aku harapkan, dia hidup bahagia dan berkecupan tapi pemandangan yang pertama kali yang aku jumpai adalah sosok yang lusuh dan badan yang ringkih. Inikah alasannya mengapa selama ini dia tidak pergi menemui kami. Mengapa kehidupannya seperti ini?
Langkah demi langkah aku menghampirinya hingga aku berhenti dan terdiam. Kutelusuri wajahnya yang tidak muda lagi. Badannya sudah tidak tegap lagi. Wajah yang sangat ingin kulihat. Ketika mata ini bertemu dengan mata sayunya yang sudah tidak sejernih dulu lagi, dia terdiam dan terlihat bingung beberapa saat. Hingga akhirnya dia bersuara dan bertanya kepada kakakku, “Nak kamu datang dengan siapa?” Aku terhenyu. Sebegitu lamanyakah kami tak bertemu hingga dia tak mengenaliku dan adikku. Aku menangis sejadi-jadinya.
Ku ambil tangannya dan ku ciumnya dengan sangat lembut. Tangan ini yang telah menanggangkatku pertama kali saat aku lahir ke dunia ini. Tangan ini yang membelaiku dengan sangat lembut ketika aku bayi. Ayah, aku anakmu. Anakmu sudah besar yah. Tolong maafkan aku yang pernah membencimu begitu dalam dan berprasangka buruk kepadamu. Yah, sungguh berdosa diri ini kepadamu. Sungguh durhaka anakmu ini yah.
Ayahku tertunduk lesu dan berlinang air mata. Dia tidak mau menatap mataku. Dia mundur secara perlahan seakan memberi jarak. Ayah bukan membeciku tapi penyesalan telah memenuhi hatinya. Rasa malu menguasainya hingga tidak mau memperlihatkan mukanya.
Hingga lambat laun dia menggangkat kepalanya dan memeluk kami dengan sangat erat. Kata maaf… Maaf.. maaf terucap terus menerus ditelingaku. Rintihan dan isak tangisnya sungguh membuat hati ini terasa sangat sakit.
Pertemuan yang aku sangka hanya angan-angan saja kini telah jadi kenyataan. Bertemu dengannya adalah hal terindah dalam hidupku. Akhirnya aku bisa memeluknya, mencium tangannya dan merasakan kasih sayangnya. Aaahh ternyata rasanya seperti ini.
Dad, we have go on now. Forget what happened in the past. Move to the future.
Dad, I love you more..
