Drrrrrrrttt……drrttttt…..suara getar alarm membangunkan tidurku. Kuusap kedua bola mataku, malas sekali rasanya untuk membuka mata ini. Sebenarnya aku masih sangat ngantuk karena semalam aku tidur begitu larut. Jam 11 malam aku baru bisa istirahat, keluarga besar majikanku makan malam bersama untuk menyambut kelulusan anaknya menjadi sarjana kedokteran.

Kuraih ponselku, waktu menunjukan pukul 3:30 pagi waktu Hong Kong. Dengan langkah sedikit malas aku ayunkan kaki ini ke kamar mandi. Air wudu begitu terasa sejuk, rasa malas dan kantuk seketika hilang. Pori-pori kulitku begitu terasa segar. Kutepuk-tepuk mukaku. “Semangat ayo semangat, kataku dalam hati.

Kuberjalan pelan-pelan memasuki kamarku. Aku takut menimbulkan suara yang nantinya akan membuat penghuni rumah ini merasa terganggu. Temaram lampu malam memaksa kedua bola mataku untuk membuka lebih bulat agar aku lebih jelas melihat benda di setiap langkahku menuju kamar.

Kuraih mukena yang tergantung di dinding kamarku. Kutunaikan salat Tahajud. Selesai salat Tahajud kubuka Al-Qur’an. Kubaca ayat demi ayat. Kuresapi makna setiap ayat. Hati ini begitu terasa lapang. Suasana pagi yang tenang membuat hatiku semakin terasa damai.

Suara mobil di luar terdengar samar-samar. Lampu-lampu jalan begitu terang menerangi setiap sudut jalan. Sesekali kulihat beberapa orang melewati jalan. Aku yang berada di apartemen lantai 12 hanya melihat dari balik jendela.

Kututup Al-Qur’an, kuraih buku tebal berwarna biru langit. Kuhirup napas dalam-dalam dan kuhembuskan pelan. Kubuka buku itu… buku yang selalu menemaniku, buku yang selalu setia mendengarkan keluh kesahku.

Celana pendek di atas lutut. Kaos singlet berwarna merah. Tidak lupa aksesoris lain menghias penampilanku. Anting di telinga kanan kiri terpasang empat, di hidung terpasang satu, dan di lidahku juga terpasang satu. Rambut kucat berwarna pirang sedikit biru. Yessss….itulah penampilanku hari ini.
Untuk hari berikutnya pasti akan beda lagi.

Tiluuulitttu tiluulitttt….suara hp-ku terdengar nyaring.

“Hallo, Bro. Kita ketemuan di mana nih? Di tempat biasa ajah ya? Cuaca kelihatannya tidak bersahabat. Kelihatannya mau hujan nih,” suara temanku di ujung telepon.

“Oke oke, sepuluh menit lagi aku turun. Paling 15 menit nyampe situ. Oh iya, jangan lupa kabarin teman-teman yang lain juga. kita makan-makan. Soalnya hari ini aku lagi banyak duit. Majikanku ngasih bonus nih”.

“Uwiiihhhhh mantapppp, Broooo! Syippppp. Aku kumpulin tentara kita nanti,” sambung temanku.

Kututup telepon, kumasukkan dalam tas ranselku. Tanpa menunggu lama, cusssss…. aku siap berangkat. Setelah izin majikanku, aku bergegas berangkat libur. Yahhhh, inilah jadwal acara liburku hari ini.

Sesampainya di tempat libur, teman-teman sudah menyambutku. Penampilannya tidak jauh beda denganku. Yah, beginilah caraku dan teman-teman menghabiskan waktu libur. Kumpul dan makan-makan enak. Makanan kampung mah jauhhhh…. Sering juga kami makan bersama. Pokoknya yang penting senang. Gaji sebulan habis tak tersisa sudah biasa. Tak pernah terpikirkan untuk menabung dan lain-lain.

Kami joget-joget, suara musik dari hp membuat suasana semakin ramai. Sesekali aku dan temankku menenggak minuman keras.

“Lanjuuutttttttt…..tarikkkkk….ciiiiissss….kita bersulanggg, haa haa haa…” suara riuh begitu membahana.

“Aduhhhh, perutku sakit nih. Aku nyari toilet dulu yah?” pamitku pada teman-teman.

“Syiappp broooo!” jawab temanku.

Setelah dari toilet, aku lanjut joget-joget dan minum-minuman keras. Sku begitu menikmatiny alunan musik yang membuatku semakin bersemangat.

Tiba-tiba kepalaku pusing, dada terasa sesak, rasanya mau muntah. Ada apa denganku? Tidak seperti biasanya.
Teman-teman menolongku, suara musik dimatikan, teman-teman yang sedang asyik berjoget berhenti. Mereka mengerubungiku.

“Kamu kenapa, kamu sakit?” tanya temanku.
“Entahlah, kepalaku terasa berat. Kepalaku pusing,” jawabku.

“Kamu kebanyakan minum kali?”

“Enggak juga.”

“Tadi aku lihat Si Kribo memasukan sesuatu di minumanmu. Coba kamu tanya dia,” kata temanku yang lain.

“”Kribooo, sini kamu! Apa yang kamu lakukan? Apa benar kata si pirang?” bentakku keras.

“Maaf bro, cuma bercanda. Gitu aja marah,” jawab temanku tanpa rasa bersalah.

“Bercanda bolehlah, tapi jangan keterlaluan. Ini bukan bercanda namanya, tapi kamu mau membunuhku!” bentakku kesal.

Sambil menahan sakit, aku berusaha bangkit. Jalanku sempoyongan.

“Bangsattt kamu yah, beginikah balasanmu kepadaku? Kurang ajar kamu!”

Aku tarik baju temanku. Aku berkelahi dengannya.Teman-temanku melerainya.

“Kribo, kamu juga sih cari gara-gara. Kalau terjadi sesuatu kepadanya, bagaimana? Bisa repot urusannya!” Kata temanku yang lain.

Aku rasanya tidak kuat. Badanku terasa sakit semua.

“Teman-teman, aku pamit pulang dulu. Kalau kalian mau lanjut silahkan,” kataku.

“Ini baru jam delapan malam. Biasanya kamu pulang libur jam sebelas malam. Nanti dulu lah!” temanku menambahkan.

“Aku tidak bisa. Nanti kalau terjadi apa-apa denganku, bagaimana nanti kalau aku pingsan di jalan? Bisa runyam urusannya. Kalau majikanku tahu bisa tamat aku!” jawabku

Meskipun penampilanku tomboy, tetapi majikanku tidak tahu kegiatanku kalau libur. Setiap berangkat libur, penampilanku tomboy tetapi biasa tanpa aksesoris yang nyleneh. Tetapi setelah keluar dari rumah, aksesoris yang ada dalam tas ranselku aku keluarkan.

Di rumah majikan, aku adalah Cece (mbak) yang baik, tidak neko-neko. Semua pekerjaan rumah beres. Anak-anak majikan terurus sangat baik. Itulah sebabnya majikanku sangat baik terhadapku.

Dengan langkah sempoyongan, aku berusaha kuat untuk pulang lebih awal. Di dalam kendaraan menuju pulang, orang-orang melihatku dengan tatapan mata yang sinis.

“Iihhhh, pasti dia mabok,” dengarku samar-samar.

Aku tidak mempedulikan mereka.

Sesampainya di rumah majikan, aku melihat majikan sedang duduk santai di sofa.

“Hai Cece, kok tumben kamu pulang lebih awal? Dan kenapa juga kamu kok seperti tidak enak badan?” tanya majikanku.

“Iya nyonya,aku sedang tidak enak badan. Kepalaku pusing,” jawabku.

“Ya sudah,kamu mandi gih terus istirahat!”

“Baik, nyonya, terima kasih.”

Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan badanku di atas kasur. Aku tidak kuat untuk mandi. Badanku agak demam.

Rasa sakit badan semakin terasa. Pusing di kepala membuatku ketakutan. Semua terasa berputar-putar kencang. Setelah itu, aku tidak ingat apapun. Aku pingsan.

“Kembalilah, Nak. Kembali!”

Seketika itu aku bangun, aku kaget.

“Ada apa denganku? Apa yang terjadi? Apakah aku masih hidup?” Aku bicara sendiri.

Aku raba-badanku. Aku cubit tanganku. Aku lihat sekelilingku.

“Alhamdulillah, ternyata aku masih hidup.”

Aku termenung sejenak. Aku ingat-ingat kejadian semalam.

“Semalam aku bertemu almarhum emak. Emak bilang ‘kembalilah, Nak. Kembalilah’ apa maksudnya?” batinku dalam hati.
“Tapi kenapa muka emak kelihatan sedih? Emak seperti gelisah,” batinku.

Emakkk, tiba-tiba aku kangen Emak.

Emak meninggal dunia tanpa aku di sampingnya. Aku tidak bisa melihat wajah emak untuk yang terakhir kalinya.

Emakkk….

Aku tiba-tiba menangis. Bayangan wajah emak begitu sangat jelas.

“Nduk, Emak restuin kamu bekerja di luar negeri. Baik-baik di sana. Jaga kesehatan dan jangan lupa jaga pergaulan. Jangan tinggalkan salat juga,” kata-kata emak sebelum aku berangkat ke luar negeri.

Hari-hari berikutnya, aku tidak seperti biasany. Kata-kata Emak begitu melekat di hati. Aku kadang sering melamun. Hari libur pun aku tidak bersemangat untuk bertemu dengan teman-temanku.

Beberapa kali libur, aku sering menyendiri. Teman-teman mencari keberadaanku. Aku selalu bilang ke temanku kalau aku tidak libur, padahal aku bohong. Aku terpaksa. Aku tidak mau diganggu. Sejak kejadian itu, aku lebih banyak merenung.

Singkat cerita, dalam langkahku samar-samar terdengar seperti suara azan. Aku yang libur sendiri, berjalan tanpa arah menyusuri setiap tempat. Kebetulan ada banyak anak-anak Indonesia yang libur di situ. Penampilan mereka banyak yang berkerudung panjang.

“Mbak, ini tempat apa? Kok banyak yang pada liburan di sini?” tanyaku kepada salah satu dari mereka.

“Oh, ini masjid, Mbak,” jawab dia.

“Ohhhhh gitu ya, makasih ya, Mbak!”

“Sama-sama.”

Langkahku terhenti, antara masuk atau tidak. Aku putuskan untuk masuk.

“Masuk sajalah. Lagian mau ke mana lagi, daripada bingung?” kataku dalam hati.

Di dalam masjid, ternyata begitu ramai anak-anak Indonesia yang libur. Ada yang sedang mengaji, ada yang sedang hafalan Qur’an, dan ada yang mendengarkan ceramah.

Aku tersentak.

Beginilah aku dulu, beginilah keadaan aku sewaktu aku di kampung. Mengaji di surau depan rumahku. Surau buatan bapak yang terbuat dari anyaman bambu. Surau kecil yang selalu ramai anak kecil mengaji. Jamaah yang paling hanya bisa menampung sepuluh orang, tetapi tidak pernah sepi. Aku juga setiap hari mengajari anak-anak kecil salat dan membaca Al-Qur’an bersama Bapak dan Emak.

Tidak terasa butiran bening jatuh di pipiku. Semakin lama semakin banyak. Cepat-cepat aku hapus air mataku. Suara azan berkumandang. Saatnya salat Zuhur telah tiba.

Kulangkahkan kaki ke tempat wudhu. Air begitu terasa sejuk membasuh setiap anggota badanku. Lama, lama sekali aku tidak menunaikan salat. Lama sekali anggota badanku terkena air wudu.

Butiran-butiran bening di kelopak mataku tidak biasa aku tahan. Semakin deras dan deras. Tidak kuasa aku menahannya.

Rakaat demi rakaat Salat begitu kunikmati. Mukena yang aku pinjam di masjid basah karena derasnya air mataku. Begitu lama aku tinggalkan salat. Begitu lama aku tinggalkan puasa. Sampai aku agak lupa doa dan gerakan salat. Padahal, di kampung aku rajin salat dan puasa.

Al-Qur’an yang berada di rak aku gapai, aku buka. Inilah ayat-ayat yang dulu di kampung aku ajarkan kepada anak-anak dan ibu-ibu. Tapi sekarang… Ya Allah, kenapa aku menjauhimu. Ya Allah, maafkanlah aku, maafkan.

Aku baca ayat demi ayat dengan linangan air mata. Mataku terlihat sembab. Mukena putih ini pun tak luput dari derasnya air mataku.

Hari-hari berikutnya aku ubah penampilanku. Aku mulai berkerudung. Baju dan celana pendek sudah aku tinggalkan.
Majikanku yang baik hanya menatap sambil bilang, “Cece, kamu kelihatan cantik!”

Dan aku pun hanya tersenyum.

Teman-temanku heran melihat penampilan baruku. Mereka semakin menjauh dariku. Mereka sudah tidak mau lagi menghubungiku. Aku hubungi nomor hp mereka, tapi tidak ada satu pun yang aktif. Meskipun ada yang bisa dihubungi, tetapi setiap kali aku ngobrol, jawaban mereka selalu ketus. Biarlah, jalanku dengan mereka sudah berbeda.

Aku mulai salat. Puasa mulai aku tunaikan. Ayat-ayat Al-Qur’an mulai aku baca kembali.

“Nduk, kapan kamu ada waktu? Bapak kepingin ngobrol,” tulisan bapak di hp-ku.

Segera aku telpon bapakku.

“Assalamualaikum, Bapak. Bapak sehat?” tanyaku.

“Alhamdulillah, Bapak sehat, Nduk. Kamu bagaimana kabarnya, sehat juga, kan?”

“Alhamdulillah, aku sehat.”
“Ada apa, Pak? Tadi bapak bilang katanya bapak mau ngobrol. Semua baik-baik saja, kan?” tanyaku agak sedikit khawatir karena tidak seperti biasanya bapak begini.

“Nduk, kamu masih ingat kan dengan Ilham? Ilham anaknya Pak Haji Umar tetangga kita itu?”

“Iya, Pak. Aku masih ingat. Emangnya ada apa ya, Pak”? tanyaku lagi.

“Begini, Nduk. Tadi Pak Haji Umar beserta istri dan Mas Ilham datang ke rumah. Mereka menanyakan kabar kamu.”

“Kok tiba-tiba mereka ke rumah? Sebenarnya ada apa, Pak”? tanyaku serius.

“Mereka mau melamarmu, Nduk. Apakah kamu bersedia? Kalau Bapak tidak berani menjawabnya, Nduk, sebelum ada jawaban dari kamu.”

“Apa, Pak? Aku tidak salah dengar?”

“Benar, Nduk!”

“Pak, mereka kan tahu bagaimana keluarga kita. Kita bukan orang berada. Keadaan kita sangat jauh dengan mereka.”

“Bapak sudah menjelaskan semuanya, Nduk. Tetapi mereka bersikeras untuk melamarmu. Bapak bisa apa?”

Ilham adalah anak Pak Haji Umar. Keluarga terpandang di desaku, dari keluarga baik-baik pula.Terkenal dengan keramahannya, rendah hati, dan dermawan.

Ilham teman sekolahku, juga teman ngaji sewaktu di kampung. Setelah lulus SMA, Ilham melanjutkan pendidikan di luar kota. Sedangkan aku berangkat ke Hong Kong menjadi TKW.

Aku dan Mas Ilham adalah dua remaja masjid dari sekian banyak remaja di kampungku. Apabila ada pengajian, Mas Ilhamlah yang selalu menjadi qori dan aku menjadi saritilawahnya.

Mas Ilham orangnya cerdas, pintar, dan pendiam. Tidak banyak omong. Apabila aku bertemu dengannya, hanya sepatah dua patah kata, seperlunya saja.

Bapak bilang sekarang Mas Ilham sudah bekerja sebagi seorang dokter spesialis penyakit dalam. Sebentar lagi katanya mau diangkat sebagai kepala rumah sakit di tempatnya dia bekerja.

“Bapak, sebenarnya aku malu. Apa pantas orang seperti saya menjadi istrinya Mas Ilham”? tanyaku.

“Kata Mas Ilham, sebenarnya dia sudah naksir kamu dari dulu, tetapi dia malu untuk mengungkapkannya. Dia sering merasa tersanjung dengan suara merdumu ketika kamu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an.”

Aku hanya terdiam.

“Kok diam? Gimana, Nduk, apa jawabanmu?”

“Nanti kalau bapak bertemu dengan Mas Ilham, bilang untuk ngomong saja langsung dengan saya.”

“Baiklah, Nduk. Ya sudah, Bapak cuma mau ngabarin ini saja. Besok disambung lagi.”

“Nggih, Pak. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Allohu Akbar Allahu Akbar…..
Suara azan Subuh membuyarkan lamunanku. Kututup diary biruku.

Aku yang dulu, kini telah berubah. Ulat yang menjijikan dan menakutkan itu telah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah.

Dulu aku yang bergelimang dosa. Kini mulai bangkit menata langkah demi langkah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Surau yang dulu hanya berdinding bambu kini telah berdinding kokoh. Surau yang dulu hanya bisa menampung sepuluh jamaah, kini bisa menampung 200 jamaah.

Bonusku selama kerja enam tahun aku gunakan untuk membangun masjid di depan rumahku. Aku tidak mengambil sepeser pun. Semua aku serahkan untuk pembangunan masjid. Ditambah teman-temanku di Hong Kong yang begitu antusias menggalang dana untuk membantu berdirinya masjid di kampungku. Masjid di mana aku dulu mengajar anak-anak dan ibu-ibu belajar membaca Al-Qur’an.

Kini, surau itu berubah menjadi masjid yang selalu ramai jemaah, anak-anak mengaji, pengajian, tempat santunan anak yatim, dan kegiatan keagamaan lainnya.
Gajiku bekerja selama lima tahun lenyap sia-sia karena kesalahanku dalam memilih pergaulan. Kini aku ingin menebus dosa-dosaku.

Tahun ini aku genap sepuluh tahun bekerja di Hong Kong. Lima tahun gajiku tertata dengan baik. Aku tidak ingin kerja kerasku sia-sia.

Akhir tahun ini aku memutuskan pulang. Pulang ke kampung halaman; kampung halaman yang sudah sangat lama aku tinggalkan. Aku akan menikah dengan Mas Ilham. Akad nikah akan dilangsungkan di masjid depan rumahku.

Kututup diary biruku. Segera kutunaikan salat Subuh. Hari ini adalah hari terakhir aku libur dan bertemu teman-temanku di Hong Kong. Hari ini adalah hari terakhirku mengajar. Iya, sekarang setiap libur aku sibukkan di masjid, mengajar baca Al-Qur’an, dan tilawatil Qur’an.

Aku akan berpamitan dengan mereka. Teman-teman yang sudah menerimaku dengan baik. Teman-temanku yang sudah mengingatkanku ketika aku salah melangkah.

Teman-teman yang baik adalah sebuah mutiara yang indah dan sangat berharga.

Beny adalah nama tomboyku. Nama asliku Nurul Hidayah, nama pemberian orang tuaku. Selamat tinggal, Beny! Selamat datang kembali Nurul Hidayah!

Kupakai kerudung panjang berwarna biru dan gamis putih pemberian emak.
Pemberian emak yang selama di Hongkong tidak pernah aku sentuh sama sekali.

Aku langkahkan kaki menuju bandara internasional Hongkong.

“Emakkkk!!!! aku kembali,aku kembaliii…”tangisku.Selamat datang kembali Nurul Hidayah.

Kupakai kerudung panjang berwarna biru dan gamis putih pemberian Emak. Ya, pemberian Emak yang selama di Hong Kong tidak pernah aku sentuh sama sekali. Aku langkahkan kaki menuju Bandara Internasional Hong Kong.

“Emakkkk! Aku kembali. Aku kembaliii…”tangisku. []

(Visited 83 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.