Pernahkah anda antri dan tiba-tiba ada yang menyalip antrian tanpa merasa berdosa? Semoga anda tidak pernah mengalami kejadian yang seringkali kualami dalam berbagai situasi, tempat dan kondisi ini. Sebab bila anda juga pernah mengalaminya, maka betapa tidak menariknya hidup ini. Berikut ini beberapa kisahku ketika disalip di antrian.

#1

Pagi itu, aku berangkat ke kantor dengan membonceng seorang kawan. Berhubung ada tugas kantor untuk memperbanyak sebuah surat, aku menyempatkan diri ke kios fotokopi sebelum sampai di kantor. Kios masih sepi, baru satu orang konsumen yang dilayani, di kios tersebut ada dua orang karyawan. Jadi, tanpa harus menunggu, aku langsung dilayani.

     “Tolong digandakan sebanyak lima belas lembar ya,” tak lupa aku membumbuinya dengan senyum yang super manis, maklum karyawan perempuan itu pun manis. Lumayan, masih pagi sudah dapat pemandangan segar.

     “Iya pak, silakan tunggu ya,” jawabnya dengan senyum kecut. Aku membatin, waduh aku disapa bapak, apa mukaku sudah demikian tua?

Tak lama, tiba-tiba datang seorang lelaki bergaya parlente menyodorkan selembar KTP dan Kartu Keluarga untuk digandakan. Karyawan perempuan itupun menyambutnya dengan semringah, suratku yang sebelumnya sudah digandakan beberapa lembar disingkirkan dari mesin fotokopi dan digantikan oleh KTP dan Kartu Keluarga dari si bapak bergaya parlente itu.

Sontak aku berdiri dan mengajukan protes keras.

     “Kok surat aku disingkirkan?”

     “Ini cuma selembar kok, Pak, tak akan lama”. Karyawan perempuan itu berkilah

     “Tapi aku kan lebih dulu, kalau semua yang bawa selembar begitu didahulukan, suratku kapan selesai digandakan?” Ujarku ketus. Karyawan itu cuma diam, tapi terus juga melayani si bapak parlente tersebut.

Melihat protesku, si lelaki parlente berkomentar.

     “Aku terburu-buru, Pak, lagian cuma sebentar kok.”

     “Tahu dari mana kalau aku juga tidak terburu-buru?” Aku makin gondok.

     Dengan muka bloon dia cengengesan, menerima KTP dan Kartu Keluarga-nya yang digandakan, dia membayar ongkosnya lalu berlalu tanpa merasa berdosa.

#2

Selepas salat magrib di masjid, aku mampir di sebuah mart untuk membeli popok anak yang sudah menipis. Setelah memilah-milih dan mengisi keranjang belanjaan dengan barang kebutuhan, aku bergegas menuju kasir. Berhubung konsumen yang banyak dan kasir cuma dua, terciptalah dua baris antrian menuju kasir, dan aku berada di salah satu barisan.

Antrian perlahan bergerak seiring makin berkurangnya jumlah konsumen yang dilayani. Ah, senangnya hati ini ketika tinggal seorang ibu paruh baya yang berdiri di hadapanku, berarti sebentar lagi giliranku. Namun begitu si ibu paruh baya selesai dilayani dan giliranku telah tiba, kesabaranku pun diuji.

Seorang gadis bertubuh sintal, berambut panjang tergerai, dan berwajah lumayan imut muncul dari arah kiri, sekitar 45 derajat, dia tiba-tiba menyalip. Rambut hitamnya sempat menyerempet mukaku dan menebarkan aroma sebuah sampo yang cukup familiar. Beberapa jenak aku terpana, tak sadar apa yang terjadi. Ternyata, dia menyodorkan belanjaannya ke kasir, mendahului sodoran belanjaanku. Dia menggunting antrian.

Dengan upaya menahan amarah setengah mati, aku memasang mata melotot dan menantap tajam ke arah kasir. Kasir yang masih belia itu mengkerut, tapi tetap saja dilayaninya gadis ayu itu. Sontak dari mulut aku keluar celetukan,

     “Di sini tidak harus antri ya?”

     Si Kasir terdiam sebentar, lalu menjawab santai,

     “Ke kasir sebelah saja, Pak.”

Mendengar jawaban kasir tersebut, aku menjadi kaget dan kecewa dengan pelayanan ini. Belum lagi dengan respon dari si gadis ayu atau sok ayu yang menyalip antrian di hadapanku itu, dia cuma tersenyum manis. Mungkin dia pikir aku akan memaklumi tindakannya bila dia memberiku senyum termanisnya.

Begitu dia selesai membayar belanjaannya, dia kembali melempariku senyum manis. Tapi sayang, senyum itu malah terasa seperti penghinaan kepadaku. Tak kubalas senyumnya, kubayar belanjaanku dan saya berlalu dengan hati yang sangat dongkol.

#3

Dengan terburu-buru, kupacu mobil memasuki SPBU. Petugas SPBU mengarahkan aku ke counter satu, di sana cuma melayani seorang konsumen yang mengendarai motor. Dengan hati lega, aku pun mengarahkan mobil ke sana, aku memang lagi berlomba dengan waktu. Dengan menikmati alunan musik dari telepon genggam, saya melipat waktu penantian dilayani.

Tak tahunya, sebuah pengendara muncul dari belakang dan memarkir motornya di hadapan mobil yang aku kendarai. Dengan santainya, begitu pengendara yang dilayani berlalu, dia langsung mengajukan permintaan jumlah premium yang dia hendak beli. Dan parahnya, petugas SPBU pun melayaninya dengan sopan santun yang memadai.

Kehadiranku terabaikan, dia yang jelas-jelas menyalip dilayani dengan begitu sempurna. Lebih parahnya lagi, ternyata dia bukan mau membeli premium untuk motornya saja, dia membawa jerigen kapasitas 10 liter. Aku makin jengkel dibuatnya.

Melihat kejadian itu, kupencet klakson mobil berkali-kali. Aku memencetnya sampai petugas SPBU dan si pengendara menatap ke arahkku dengan sinis. Melihat hal tersebut, aku sengaja kembali memencet klakson. Si pengedara yang membawa jerihen itu menatapku dengan muka bingung, sementara petugas SPBU kelihatan emosional.

Perlahan, petugas itu berjalan ke arahku dan bertanya,

     “Ada apa pak? Kok membuyikan klakson berkali-kali begitu? Tidak bisa sabar ya?”

     Emosiku hampir saja meledak mendengar pertanyaannya, untung saja ditenangkan oleh istri yang duduk di sampingku. Dengan nada ketus kugertak petugas itu,

     “Yang datang duluan, dilayani duluan dong!” Kalimat ini kuucapkan dengan berteriak sehingga terdengar juga oleh si pembawa jerigen.

Perlahan, di pembawa jerigen meminggirkan motornya dan menyilakan petugas SPBU melayaniku lebih dahulu. Sampai mobil yang kukendarai beranjak pergi, si petugas SPBU tak pernah tersenyum ke arahku. Sebelum beranjak, aku masih sempat mengingatkan petugas itu untuk melayani dengan baik kalau tak mau aku laporkan pada manajemen SPBU. Ini ceritaku, mana ceritamu?

(Visited 66 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

2 thoughts on “Antri, Oh Antri”
  1. Waah saya barusaaan aja abis mengalami hal kaya gini. Lagi antri ambil paket di satpam. Sblm saya ada 2 org antrian dan satpamnya lelet bgt. Pas giliran saya satpam malah sibuk telponan saya udh bilang unit saya sekian tp kata satpam itu sbntar ya. Abis telponan satpam itu malah nanyain org sebelah saya. Langsung lah saya blg lah saya yg dtg duluan kok malah dilewatin? Satpam itu malah blg mba2 itu yg duluan dtg antrinya dr kiri. Pdhl saya jelas2 liat mba itu baru dtg, ngamuk2 lah saya disitu. Tp satpam ini akhirnya kerjanya jadi cepet abis saya bacotin haha. Banyak org gatau diri emg sih ya. Seenggaknya bs bilang kan kalo ibu ini yg duluan pak. Tp nyatanya malah diem aja dgn muka watados. Pgn rasanya cabik2 tuh muka si mba dan laporin ke pengelola biar itu satpam kena sp, kan bs liat cctv siapa yg dtg duluan. Tp niat bgt ga sih kalo sampe kaya gt hahaha

    1. Bikin emosi memang, yang paling menjengkelkan adalah, mereka tak merasa bersalah.

      Dan memang hal itu yang menjadi faktor utama mengapa mereka abai terhadap antri, karena mereka meyakini bahwa kita tak harus antri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.