Oleh: Gusnawati Lukman
Hari ini suasana hatiku benar-benar dongkol . Bagaimana tidak,diawali ketika teman-teman di ruang guru lagi ramai-ramainya membahas kelangkaan minyak goreng di pasaran. Itu aku anggap sudah lumrah, karena sudah beberapa lama ini hal itu menjadi keprihatinan kita bersama, menyaksikan gejolak sosial yang terjadi di masyarakat akibat susahnya mendapatkan salah satu kebutuhan pokok itu. Menyaksikan antrian yang tidak bisa terurai hanya untuk mendapatkan jatah satu liter minyak goreng murah.
Miris melihat keadaan masyarakat yang benar-benar berada dalam himpitan ekonomi yang tak tertahankan lagi. Lebih miris lagi ketika menyaksikan antrian mendapatkan minyak goreng murah yang menyebabkan kematian seorang ibu tangga. Sungguh kenyataan pahit yang mengiris-iris sanubari kita. Sudah sedemikian parahkah keadaan negeri kita yang terkenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah, negeri subur gemah ripah, loh jinawi?
Kami ingin bersuara, namun siapakah yang ingin mendengarkan suara hati rakyat kecil seperti kami ini? Semuanya bungkam. Tak berdaya.
Hal yang paling membuat aku histeris dan betul-betul tak percaya dengan semuanya ketika salah seorang teman pergi berbelanja di pasar dan membeli minyak goreng kemasan 2 liter dengan harga 75 ribu. What!! 75 ribu? Aku benar-benar kaget,khawatir sekali. Aku yang selama ini tidak peduli, cenderung cuek kalau teman-teman lagi ramai borong minyak goreng murah. Aku yang selama ini berprinsip yang penting barangnya ada dijual, tidak ada masalah. Tidak pernah terbayangkan harga minyak goreng akan melonjak sedemikian rupa seperti itu. Aku kini mulai membayangkan betapa tambah menjeritnya masyarakat apabila keadaan akan terus menerus seperti ini. Bagaimana mungkin masyarakat dengan ekonomi pas-pasan, sementara harga bahan pokok yang semuanya sudah mulai menanjak naik, bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kehidupan mereka semakin keras dan memprihatinkan. Ibu-ibu rumah tangga akan semakin sulit mengatur keuangan keluarga. Para pedagang kecil yang menggantungkan kehidupan mereka dengan menjual makanan yang terbuat dari gorengan entah bisa bertahan atau akan gulung tikar. Keadaan sekarang semakin tidak pasti. Mau mengeluh pada siapa. Mau bersuara siapa yang mau mendengarkan.
Bisik-bisik lagi, katanya tanggal 16 Maret 2022 nanti sudah mulai banyak stok minyak goreng di retail-retail modern. Harganya sudah rata karena tidak dapat lagi subsidi dari pemerintah. Minyak goreng kemasan 2 liter yang kemarin-kemarin sempat antri bisa membelinya dengan harga murah, dan di pasar dijual dengan harga 75 ribu, sudah bisa diperoleh dengan harga 48 ribu. Entah itu benar atau tidak, kita akan membuktikannya nanti.
Semoga pemerintah dapat merasakan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Semoga pemerintah dapat menemukan solusi yang terbaik dari banyaknya permasalahan yang timbul di masyarakat sekarang ini. Jangan sampai yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya.
Watansoppeng, 13 Maret 2022
