Malam itu, anakku merengek tak henti – hentinya karena merasa kesal selalu aku minta mengambilkan obat, makanan, dan memijiti aku saat aku sakit. “Mah, aku capek disuruh – suruh terus ambil ini ambil itu, mijitin, terus aja. Pegel”. Sambil menggoyang – goyangkan kakinya pada kakiku. Aku beri pengertian bahwa wajar seorang anak itu harus membantu orang tuanya, manakala sedang dibutuhkan dan sang anak mampu. Tapi rupanya dia tak mengindahkan itu, sehingga terus – menerus merengek. Karena aku mulai merasa tertanggu dan ingin memberikan pembelajaran, aku bergegas tidur di kursi ruang tamu.

Tak lama kemudian dia pun memanggil – manggil aku. “Mah, mah, mamah di mana?mah. Eh ternyata di sini mamah. Mah, ayo tidurnya di dalam yuk, di kasur sama aku, jangan di sini” (sambil dia menggoyang – goyangkan badanku). Mah, dia seka wajahku, mataku, rambutku. Karena ingin memastikan kondisiku, ditariklah meja tamu ke arah stop kontak lampu, dan dia nyalakan lampu itu. Mah,ayo masuk tidurnya (aku pun tetap diam tak bergeming), kemudian dia dorong lagi meja tamu itu untuk mematikan lampu yang sudah menyala. Karena susah untuk ditarik, dia berinisiatif dengan menumpuk bantal untuk mematikan lampunya. Dalam hati, “nak, kamu cerdas sekali”.

Rupa – rupanya dia mulai cemas dengan kondisiku, dia mulai ambil selimut lalu menutupkannya pada tubuhku, setelah itu dia cek hidungku apakah masih bernapas atau tidak. “Mah, (suaranya mulai gemetar, pilu, dan menelisik) mah,..di situlah hatiku bergetar (Ya Allah terima kasih Engkau anugerahkan malaikat kecil, seorang anak yang begitu sayang padaku, dialah buah syurga hadiah dariMu). Aku pun mulai membuka mataku, dengan berlinang air mata, seraya langsung ku peluk anakku. “Nak, mamah sayang Al Malik, Al takut kehilangan mamah ya, mamah tadi sebenarnya belum tidur. Tuh Al harus nurut ya kalau diberi tahu dan dinasehati, jangan nakal kaya tadi. Karena mamah sayang Al”. Iya mah, anakku pun membalas pelukanku dan kita menangis bersama.

Aku pun mulai setuju untuk tidur di tempat tidur. Saat di tempat tidur, aku memberi banyak nasihat padanya dengan saling berlinang air mata. Sungguh aku bersyukur memiliki anak yang begitu dewasa, sayang aku, padahal usianya baru 6 tahun.

(Visited 16 times, 1 visits today)

By Uus Usnawati

Seorang perempuan yang selalu happy, berjuang untuk hidupnya, tak kenal lelah. Panggil saja Uuz happyday atau Miss Happy

One thought on “Buah Surga, Hadiah Terindah dari Allah SWT”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: