Ketika kegelapan mulai menyelimuti bumi, tiada cahaya yang muncul kita akan tersesat. Begitulah cahaya ini datang untuk menyinari jalan kita untuk mengikutinya melangkah ke depan dalam perjalanan hidup di dunia ini. Ketika semua orang beramai-ramai mencari sekolah untuk mendaftarkan diri mereka ke sekolah, saya juga mengikuti jejak mereka melankah ke tempat itu untuk belajar membaca dan menulis.

Di usia yang masih belia tidak tahu menghitung, tetapi minimal sudah bisa membaca dan menulis di rumah sebelum melangkah ke SDN Iliomar untuk belajar lagi banyak ilmu pengetahuan yang masih terbungkus di sekolah itu. Sehingga pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh, bulan juli, sebagai hari pertama saya mendaftarkan diri di sekolah itu, dan melangkah ke dalam kelas untuk mengikuti mata pelajaran bersama dengan teman-teman.

Pak guru bertanya pada kami, “Siapa yang tahu membaca dan menulis angkat tangan?” Kami yang sudah tahu sedikit segera angkat tangan. Kemudian, guru menyuruh kami membaca sebuah bacaan dalam bahasa Indonesia. Tetapi, waktu itu saya belum tahu, sehingga baca saja seperti bahasa portugis.

Kemudian, guru menyuruh menulis beberapa kata yang dia sendiri dikte untuk menulis di papan tulis, saya ikuti saja. Akhirnya, guru memutuskan bahwa bagi mereka yang sudah bisa membaca dan menulis, besok datang duduk tersendiri dan langsung ke kelas dua. Bagi mereka yang belum tahu membaca dan menulis tetap duduk ke kelas satu.

Ketika itu, guru kami semua adalah polisi dan tentara saja yang mengajar, karena guru tetap belum ada. Buku rapor juga tidak ada. Jadi, kalau mau naik kelas, berbaris saja lalu guru memanggilnya untuk berdiri terpisah. Bagi yang tidak dipanggil, itulah yang tinggal kelas. Lucunya, teman-teman yang tidak naik kelas nangis di tempat. Guru berkata, “Kalau mau naik kelas, baris di sebelah sana supaya naik kelas,” sehingga teman-teman yang nangis jadi otomatis naik kelas.

Tahun berikutnya saya di kelas dua. Guru memberi ujian matematika. Saya tidak tahu, jadi isi sembarang saja apa yang saya tahu. Lalu teman saya bernama Frederico yang duduk di samping saya menunjukkan jawabannya padaku. Katanya ini yang benar, jadi copy saja. Saya pun menulis apa yang dia tulis. Akhirnya, kami berdua mendapat nilai sepuluh.

Namun, saya tidak puas karena saya tidak tahu prosesnya penyelesaiannya. Sehingga teman saya tersebut membantu mengajari saya matematika, bagaimana caranya menghitung matematika yang baik. Akhirnya saya tahu dan naik ke kelas tiga.

Sampai di sana, guru memberi ujian lisan matematika perkalian dan pembagian, menyuruh satu per satu ke depan untuk menyelesaikannya. Sampai giliran saya ke papan tulis, saya tidak bisa menghitung dan hasilnya salah. Guru pun memindahkan saya ke kelas sebelumnya untuk belajar matematika. Setelah semingu, baru saya kembali ke kelas tiga.

Saya terus melangkah maju ke kelas empat tampa hambatan. Sampai di kelas empat, mau naik ke kelas lima, waktu itu kami naik dua kali. Tentara yang mengajari kami akan pindah ke hutan untuk mencari geriliawan falentil. Akhirnya, sampai di kelas lima mau naik ke kelas enam, baru ada dua orang guru tetap yang datang dari Kupang-NTT. Pak Yosep dan Pak Andiku datang menetap di Iliomar, mengajar kami sampai tamat di Iliomar.

Sampai di kelas enam, saya selalu dekat dengan guru untuk menanyakan apa saja yang saya tidak tahu. Ketika menjelang tamat, dia (guru) mempercayai kami berdua, saya dan Raimundu, untuk menulis buku rapor kami sendiri. Tetapi, pak guru memberi peringatan keras bahwa kami berdua tidak boleh menambah nilai dan menyimpan rahasia dengan baik sebelum mengumumkan hasil kelulusan. Kami berdua sudah tahu bahwa di antara kami kurang lebih enam puluh siswa, ada empat orang yang tidak lulus.

Ketika sibuk bekerja untuk perpisahan di sekolah, mereka berempat yang tidak lulus rajin sekali bekerja. Kami berdua sudah tahu, tetapi kami selalu menjaga rahasia sampai saatnya tiba pengumuman hasil kelulusan, karena pak guru memberi peringatan pada kami bahwa jika kami berdua memberi tahu duluan pada mereka, kami berdua yang akan ganti mereka tidak lulus. Jadi,kami tetap diam saja melanjutkan pekerjaan kami. Akhirnya setelah makan, pak guru mengumumkan hasil kelulusan bahwa mereka berempat tetap tidak lulus.

Selama belajar lima tahun di SDN Iliomar, pekerjaan yang selalu saya kerjakan di kelas adalah sekretaris. Untuk menulis suatu materi atau tugas dari guru-guru, saya selalu menulis di depan dan menjelaskan sebagian ke teman-teman yang tidak mengerti. Begitu pula saya membantu guru-guru mengisi buku rapor karena dia melihat tulisan saya yang bagus. Maka, mimpi jadi guru sudah dimulai dari sana.

Selain itu, saya juga bergabung di gereja untuk belajar bernyanyi, membaca bacaan, dan putra altar (akolit). Ketika kunjungan uskup D. Martinho ke Iliomar, saya yang menjadi akolit pada saat itu. Akhirnya, saya mengakhiri studi saya di Iliomar dan menlangkah ke kota Kabupaten Lautem-Lospalos dengan naik helikopter. Saat itu, jalan raya masih rusak dan belum diperbaiki. Kami pun menggunakan transportasi udara ke kota kabupaten.

Dari hal-hal yang sederhana itulah sampai saat ini aku jadi doster (dosen terbang), setelah 36 tahun baru saya kembali ke SDN Iliomar, yang merupakan gudang mencari ilmu. SDN Iliomar telah melahirkan banyak profesor, doktor, tetapi namamu tidak akan hilang di benak kami sampai napas terakhir. Seperti kata Yesus pada Petrus, “Dari batu inilah saya mendirikan gereja, neraka tidak mempan menghadapinya.” Begitu pula dari batu inilah saya akan mendirikan kebijaksanaan saya, hujan dan angin tidak akan merobohkannya, dan akan selalu permanen di memori kami untuk menceritakan kembali kisahmu dari generasi ke generasi berikutnya. []

By Prof. Emil Santos’21

(Visited 31 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.