Bengkel Narasi (BN) terus berproses menjadi rumah besar tanpa sekat bagi penggemar literasi menulis. Betapa tidak, diusianya yang masih setahun, sudah dihuni oleh ratusan manusia-manusia pembelajar lintas profesi, suku, daerah, dan agama. Mereka semua punya kepedulian terhadap literasi menulis dan membaca.

Salah satu keunggulan BN karena dikelola menggunakan “manajemen satu rasa,” yang menempatkan kepuasan batin sebagai indikator utama dalam berkarya. Mereka berkarya bersama, muncul bersama, senyum bersama, sedih pun bersama. Sebagai keluarga besar BN, mereka saling menginspirasi dan saling mendoakan dalam melahirkan karya-karya nyata.

BN sebagai komunitas menulis, telah berhasil menggali dan menemukan mutiara yang banyak terpendam di beberapa daerah, tidak terkecuali di Bumi Patampanua Kolaka Utara. Mutiara-mutiara itu terus digosok, diperindah, dipercantik, hingga kilauannya terpancar di mana-mana melewati batas ruang dan waktu.

Saya menyebut “mutiara” bagi penulis-penulis pemula yang banyak bermunculan di Kolaka Utara setelah BN menggali bakat mereka, lalu memunculkannya ke permukaan lewat gagasan-gagasannya yang menginspirasi banyak pembaca. Sekarang, puluhan guru di Kolaka Utara khususnya guru TK dan PAUD menemukan potensi dirinya menulis berkat sentuhan para mentor BN. Mereka terus berlomba melahirkan karya-karya tulis di media yang disiapkan oleh BN.

Luar biasa BN yang telah menyiapkan panggung terbuka bagi penulis-penulis pemula untuk muncul ke permukaan. Lebih luar biasa lagi saudaraku Ruslan Ismail Mage yang selalu kami panggil Bang RIM sebagai tokoh sentral berdirinya BN Indonesia. Kini BN sudah banyak menemukan mutiara (penulis) terpendam di Kolaka Utara.

Banyak tokoh penggerak literasi di lapangan, tapi yang menyiapkan dan membimbing dari awal sampai bisa mementaskan gagasan dan pikiran anggota komunitasnya di angkasa hanya Bang RIM. Sehingga sangat benar dan tepat kalau teman-teman menjulukinya RIM “The Eagle” Literasi. Di samping karena memang nama kecilnya Elang, juga karena semangat membumikan gerakan literasi menulis dan membaca laksana burung elang yang tidak mengenal rasa takut.

Sang Elang yang belajar terbang dari salah satu sudut kampung di Cabenge Soppeng, kini terus mengangkasa karya-karya bukunya melintasi wilayah, kota, dan negara. Walau sebagian bulunya sudah memutih, tetapi kepakan sayap literasinya tidak pernah melemah. Alhamdulillah, sudah dua kali hinggap bertengger di dahan literasi Bumi Patampanua Kolaka Utara. Kehadirannya selalu dirindukan, kedatangannya selalu dinantikan, keberadaannya selalu menginspirasi.

Sungguh cengkraman penanya begitu kuat memeluk kemanusiaan, keadilan, dan kehidupan. Tidak jarang kuku-kuku penanya yang runcing menusuk keegoisan, kesombongan, dan keangkuhan jiwa. Bahkan bisa menukik tajam mencakar dan mencabik-cabik bangkai ideologi yang mengancam eksistensi bangsanya. Begitulah Sang Elang literasi, matanya begitu tajam menemukan mutiara di Bumi Patampanua.

(Visited 1,829 times, 1 visits today)
3 thoughts on “Sang Elang Literasi Menemukan Mutiara di Bumi Patampanua”
  1. Dengan di sediakannya panggung terbuka BN .bagi penulis pemula seperti kami ini , dapat membakar semangat kami untuk tetap selalu mengangkasa , lewat karya karya kami ,itu berkat dari sang Elang mutiara dari cabbengnge soppeng ,dengan julukan RIM The Eagle “Literasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.