Oleh : Suwardi
Salah satu peribahasa yang populer di kalangan masyarakat adalah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Kurang lebih pengertiannya bahwa seseorang sudah sepatutnya mengikuti atau menghormati adat istiadat yang berlaku di manapun tinggal.
Peribahasa ini tentu sangat familiar bagi orang rantau yang hidup jauh dari keluarga dan kampung halamannya, tidak terkecuali saya. Bahkan sebelum merantau bekal utama yang harus dibawa, dipahami, dimaknai, dan diamalkan di daerah tujuan adalah petuah bijak ini.
Sudah ada 20 tahun saya merantau di Bumi Minangkabau Sumatra Barat untuk menuntut ilmu pengetahuan dan memperdalam agama. Sebagaimana kehidupan perantau yang jauh dari orang tua, keluarga dan handai tolang. Begitu pun juga saya menjalani rutinitas keseharian di bumi tempat para arsitek kemerdekaan bangsa bersemayam.
Dalam menjalani hari-hari sebagai mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Padang tahun 2010 ada satu hari saya menganggap diri beruntung. Betapa tidak, sudah delapan tahun saya mencari orang Bugis di Ranah Minang untuk menjadi teman diskusi, tetapi belum pernah menemukannya.
Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya bersyukur dan beruntung bisa punya hari bertemu dengan sosok seorang akademisi muda visioner, guru inspiratif, sahabat rendah hati, dan inspirator tangguh bernama Bapak Ruslan Ismail Mage yang lebih familiar dipanggil Bang RIM. Tidak terkesan sebagai akademisi tetapi kental sebagai intelektual muda yang haus ilmu.
Waktu itu Bang RIM tinggal di dekat masjid dan rajin salat berjamaah. Suatu ketika setelah salat kami bersalaman dan kenalan. Ternyata Bang RIM satu asal daerah dengan kedua orang tua saya yaitu Sulawesi Selatan. Sejak itulah kami mulai akrab dan selalu memberikan motivasi menyelesaikan kuliah tepat waktu untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Alhamdulillah, wejangan Bang RIM selalu membuatku lebih bersemangat belajar untuk menyelesaikan kuliah lebih cepat. Berkat bimbingan dan motivasi setiap bertemu, saya pun melanjutkan kuliah sampai magister dan berhasil jadi dosen sampai sekarang. Bukan sekedar memotivasi dengan narasi-narasi inspiratifnya, tetapi juga Bang RIM selalu mengajak ke forum-forum seminar mendampinginya sebagai narasumber utama.
Hampir semua tingkatan forumnya selama di Sumatera Barat saya dampingi. Mulai dari kelas inspirasi tingkat SMP, SMA, mahasiswa, pelatihan ibu/bapak ASN di lingkungan pemda, sampai workshop investasi politk calon anggota DPRD di beberapa kabupaten dan kota saya diminta mendampinginya. Luar biasa pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan secara gratis selama mendampingi Bang RIM di atas forum-forum besar.
Saya sangat terkesan dengan metode pembimbingan Bang RIM yang mengajak masuk ke dalam team kreatifnya pada waktu itu. Setiap tahun minimal tiga buku ditulis dan diterbitkan. Saya belum pernah melihat akademisi seproduktif Bang RIM menulis buku. Saya selalu ingat pesannya yang menggelitik, “Kalau ingin mengemudi harus punya SIM, kalau ingin menjadi akademisi andal juga harus punya SIM (Surat Izin Mengajar) berupa karya-karya buku”.
Sejak pandemi Covid-19 memutus mata rantai silaturahmi, sudah hanpir tiga tahun belum pernah ketemu guruku, inspirator dan penggerakku. Bang RIM fokus di Jakarta sementara saya tetap jaga gawang di kampus Universitas Ekasakti Padang. Namun, dua minggu lalu terpaksa saya menghubunginya karena sedang berada di detik-detik terakhir perjuangan seleksi sertifikasi dosen.
Sudah dua priode saya ikuti seleksi sertifikasi dosen tetapi belum lulus, tentu yang ketiga ini saya tidak boleh gagal lagi. Saya terus berusaha, fokus berdoa, dan bertawakkal kepada Allah Swt, agar ditunjukkan jalan bisa lolos sertifikasi dosen. Waktu terus berjalan mendekati limit yang sudah dijadwalkan, saya terus berproses memasukkan beberapa persyaratan yang dibutuhkan.
Pada saat melengkapi berkas itulah saya tiba-tiba teringat kepada Sang Inspirator Bang RIM untuk meminta petunjuk bagaimana mengisi deskripsi diri sebagai dosen. Saya teringat petuahnya beberapa waktu lalu yang mengatakan, “Jika engkau ingin bertanya alamat, tanyalah orang yang engkau yakini mengetahui alamat itu”.
Bukankah Bang RIM sudah lama sertifikasi dosen? Kataku membatin. Sesaat kemudian saya langsung mengirim pesan ke ponselnya memohon bimbingan dan arahannya. Kurang lebih lima menit Bang RIM sudah balas dengan narasi dan motivasi yang luar biasa menggugah jiwa. Saya diminta merekonstruksi ulang pemikiran saya dan narasi sesuai kebutuhan serta bidang ilmu yang akan dituangkan dalam tridarma.
Alhamdulillah, atas izin Allah Swt dan bimbingan Bang RIM, saya akhirnya lolos seleksi sertifikasi dosen periode ke-1 tahun 2022. Terima kasih ya Allah ya Rabb atas nikmat-Mu. Terima kasih orang tuaku atas doa-doa yang menggetarkan langit, dan terima kasih kepada sang guruku, sahabat, inspirator dan penggerak jiwa kami Bang RIM. Kami selalu merindukan narasi inspiratifnya yang menggugah jiwa.
Ranah Minang, 17 Agustus 2022

Profisiat pak. Puji Tuhan. Kita bisa bertemu dengan orang hebat seperti Bang RIM. Salam kenal.