Setiap kali kita melihat foto kota besar di negara negara maju, kita akan terkesan dengan kebersihan kota kota tersebut. Foto kota besar negara negara maju memang kemungkinan sudah di edit sebelum dicetak atau diterbitkan, namun kenyataannya memang kota besar dunia bersih, apik, dan serba teratur. Pola hidup masyarakatnya sudah sangat terbiasa dengan hidup bersih, disiplin dan teratur. Lalu bagaimana pengelolaan sampah di kota besar di negara maju?
Ketika saya tinggal belajar di Sydney, Australia, saya sempat mengamati bagaimana pemerintah kota Metropolitan Sydney mengelola sampah. Tinggal di apartemen bersama beberapa orang Caucasian (bule) dari berbagai negara dan Asia lainnya sesama mahasiswa, kami saling berbagi dapur dan kamar mandi. Kami yang tinggal bersama dalam satu unit yang biasanya terdiri dari beberapa kamar, menggunakan dapur bersama dan tempat sampah di depan apartemen juga untuk para penghuni. Dalam keseharian kami, saya sempat mengamati bagaimana pemerintah kota Sydney, khususnya Randwick City Council mengelola sampah sampah rumah tangga.
Setiap unit apartemen atau satu rumah tangga masing masing memiliki 3 jenis tempat sampah besar, masing masing dibedakan dengan warna penutupnya yaitu merah, kuning dan hijau. Tempat sampah berpenutup warna merah adalah untuk sampah dapur atau sampah yang bisa hancur dan melebur dengan alam. Yang berpenutup warna kuning, adalah untuk sampah daur ulang (Recycling). Tempat sampah ini, bagian dalamnya terbagi dua lagi, satu untuk botol, kaleng, plastik dan wadah karton susu, dan sebelahnya untuk kertas, karton, kardus, majalah dan koran bekas, cardboard. Sedangkan yang berpenutup hijau untuk sampah hijau, misalnya rumput, ranting pohon yang habis dipangkas, bunga bunga hidup yang sudah layu, dan sampah pangkasan pagar hidup.

Setiap tahun setiap rumahtangga dan unit apartemen mendapatkan masing masing satu Kalender sampah yang bisa ditempelkan di kulkas. Selama satu tahun, tanggal pada kalender tersebut diwarnai kapan waktunya, sampah sampah itu diangkut. Misalnya tanggal 5 Januari diwarnai dengan warna kotak merah, maka pada tanggal tersebut tempat sampah berpenutup merah yang akan diangkut. Biasanya pengangkutan sampah pada jam jam 5 – 6 pagi.
Bagaimana dengan sampah elektronik dan sampah berbahan kimia? Komputer, radio, handphone, televisi, kulkas atau barang elektronik lainnya yang rusak tidak bisa dibuang begitu saja ke tempat sampah. Masing masing rumahtangga atau unit apartemen diberi 4 kesempatan pengangkutan sampah elektronik dan sampah kimia. Dua kesempatan yang terjadwal dan dua lagi yang tidak terjadwal, artinya kapan saja kalau misalnya sampah elektronik atau sampah kimia sudah begitu banyak, dapat menelepon Council’s Call Centre. Sampah kimia misalnya sisa cat, kosmetik yang sudah tidak dipakai, bekas racun tikus, obat-obat yang sudah tidak digunakan lagi dan lain lain. Mobil pengangkut sampah juga tidak mau mengambil sampah yang tidak dibungkus rapi, misalnya dalam kantongan.
Pada kalender sampah tersebut, semua dijelaskan secara detail. Misalnya, sampah apa yang masuk ke tempat sampah berpenutup merah, kuning, hijau. Pintu kulkas rusak harus dilepas pintunya sebelum diletakkan di depan rumah untuk pengangkutan. Dapat dikatakan bahwa pemerintah kota Sydney benar benar serius dalam menangani persoalan sampah. Bahkan untuk mengurangi sampah plastik, pemerintah membagi-bagikan setiap rumah dan setiap unit apartemen satu tas kain yang bisa digunakan berbelanja berkali kali.

Bagaimana dengan barang yang masih bagus, namun kita tak membutuhkannya lagi, dan juga tidak terlalu bernilai jual? Gampang saja, letakkan saja dengan rapi di depan rumah atau apartemen dilengkapi dengan tulisan besar “Free”, maka orang yang membutuhkan akan mengambilnya. Bukan hanya gelas, piring, buku tulis baru, bahkan kadang kursi, lemari, televisi, komputer dan lain lain dapat ditemukan di waktu tertentu. Mahasiswa asing di Sydney cukup banyak yang isi kamarnya hampir semua dari hasil “memungut” barang buangan orang lain.
Pemerintah kota di Indonesia mungkin perlu belajar dari pengalaman kota besar negara maju dalam mengelola sampah (waste management). Kalau saja setiap pemerintah daerah / kota yang ada di Indonesia menerapkan pengelolaan sampah seperti di negara maju, maka akan mudah kota kota tersebut menjadi bersih. Kita di Indonesia hanya giat membersihkan kota kita jika akan diadakan penilaian Adipura atau lomba kebersihan kota dan desa.

