Siapa yang baca tulisan saya ini dulunya pernah kecil? Hayo acungkan tangan! udah jangan malu – malu. Pernah tidak dulu waktu kecil, ya kira – kira balita lah ya, ketika ingin berdiri, berjalan, atau ambil mainan mikir dulu atau takut dulu baru dilakukan? ada yang seperti itu? kalau ada berarti dirimu pencilan, hehe. Kenapa saya bilang pencilan atau yang berbeda sendiri, karena sebagian besar ketika kita kecil saat ingin melakukan sesuatu pasti langsung dilakukan tanpa pikir panjang. Seorang balita hingga usia SMP masih melakukan suatu hal dengan lakuin dulu baru mikir, sampai jebur selokan juga bisa begitu. Tapi jangan yah jebur selokan mah. Artinya apa, pada saat kita masih balita atau anak – anak, keberanian kita begitu powerfull/penuh dengan kekuatan, tidak takut halangan rintangan tak jadi beban pikiran (itu mah kera sakti yah).
Maka itu tak heran anak – anak cenderung mempunyai impian yang besar, bahkan sangat besar. Ada yang ingin jadi pilot, dokter, insinyur, guru. Ketika ditanya, mau jadi apa kamu nak? dokter bu, polisi bu, pilot bu. Benar begitu? Iya kan? ngaku aja deh? Ya………….. Ehm, iem jawabannya benar, valid!. Karena saat itu dirimu lugos (lugu dan polos), berapi – api (bukan api kayu bakar ya, artinya bersemangat), bertekad kuat sehingga menjadikanmu begitu yakin untuk menggapai impian yang begitu besar.
Nah, lantas apa yang terjadi ketika dirimu beranjak dewasa?…., impian yang sebelumnya ingin jadi dokter, polisi, pilot, berangsur – angsur mulai pudar. Loh, loh, loh apa yang terjadi? Apakah kebanyakan pemutih pakaian atau bagaimana? Yap.. dirimu mulai dihinggapi rasa takut. Biasanya akan muncul kalimat: masuk perguruan tinggi itu saingannya berat, udah gitu passing gradenya besar (standar nilai masuk suatu perguruan tinggi). Masuk akademi kepolisian itu harus rajin olahraga, jadi dokter itu harus ga boleh takut jarum suntik, jadi pilot itu harus jangan takut ketinggian, sedangkan aku kan phobia,. Bla…. Bla,… Bla…. dan bala – balaaaaaaaa. Lah terus so what???! kata anak muda zaman sekarang. Ya biarin aja passing gradenya gede, harus berani sama jarum suntik, ketinggian, dan sebagainya. Itu kan syaratnya, kenapa harus takut? Cinta sama impianmu?. atau ketakutanmu?
Generasi muda kita ternyata masih 50:50 dengan pertanyaan di atas dalam menjawab dan menyikapinya. Kenapa ga sekalian phone a friend aja ya? Iya (dalam suatu kuis di tv). Alhasil karena 50% masih mencintai ketakutannya akhirnya muntaber (mundur tanpa berita) atau mengcancel langkah, lebih parah lagi mengcancel doanya. Sehingga masuk perguruan tinggi dengan istilah : asal glinding, daripada tidak kuliah dimarahi ortu, masuk jurusan yang bukan passionnya (minatnya), yang penting kuliah setelah itu gampang jadi apa aja,.. Whatss!!!! bukankah kesuksesan itu dihasilkan dari sebagian perencanaan yang matang minimalnya. Ini mah bukan lagi sebagian, sepersepuluh pun entah. Nah akhirnya apa yang terjadi? Jadi mahasiswa abadi (tidak lulus – lulus), asal lulus, lulus tidak kompeten, lulus tapi bingung mau kerja apa,lulus tapi tidak dibutuhkan baik oleh perusahaan maupun masyarakat. Laaaadallaaaaa (joke yang mengartikan tidak sesuai harapan/tiba – tiba kaget oleh orang Indramayu). Nah guys…… itu coz because faktor ketakutan yang menderu di dada. Nah jadi gimana dong? Jawabannya tak lain dan tak bukan munculkan lagi kalimat AKU BISA seperti saat masih balita dan anak – anak yang tanpa takut untuk menggapai sebuah mimpi. Yah saya memang mengerti bahwa semakin berumur memang perlu ada pertimbangan. Namun tidak untuk sebuah mimpi kawan!. Banyak pertimbangan itu manakala melakukan hal negatif. Misalnya seperti muda – mudi yang keluar rumah pulang malam atau nggak ya, pacaran atau nggak yah, nah itu perlu banyak pertimbangan, kalau bisa jangan. Namun untuk sebuah impian kita harus memiliki sifat seperti anak kecil yang tidak pernah takut.
Katakan selalu bisa agar menjadi biasa, setiap harinya setiap saatnya. Agar hidupmu lebih muda menemukan solusi. Karena orang yang selalu berkata tidak bisa, biasanya pikirannya akan selalu semrawut (banyak beban), mengeluh, bicara yang tidak baik, berkubang di masalah yang sama tanpa solusi. Tapi berbeda dengan orang yang selalu berpikir bisa. Kehidupan mereka akan cenderung lebih stabil, mencari solusi untuk memecahkan masalah, bahkan suatu keadaan timpang pun bisa diubahnya menjadi sebuah peluang. Seperti kata mbah saya (impian)/Henry ford (penemu mobil ford) : “weather you think you can or think you can not you’re right”. Di mana artinya kurang lebih : ketika kamu berpikir bisa atau tidak bisa ya kamu tetap benar. Nah daripada yang benar itu yang terjadi yang tidak bisa, mending berpikir bisa kan?, supaya yang terjadi juga bisa. Jadi, ayo mulai sekarang dari bangun tidur hingga tidur lagi biasakan kita selalu berpikir bisa. Semangat ya, kita dijamin sukses sama Allah.

