Aku menangis ketika air mata dan air keringat menyatu, adalah narasi yang kubaca dengan apik pagi ini di Desktop Bengkel Narasi.
Berkelakar tentang suatu capaian yang luar biasa, dari seorang wanita yang lahir tahun 1997, telah menyelesaikan program Strata satu tahun 2019 dan Strata duanya tahun 2021.
Mengulas tentang campur aduk rasa bahagia, menghadirkan kedua orang terkasih bersanding dengannya dihari bahagia pelaksanaan wisuda.
Ia pernah menyatu dengan tangis dan bahagia saat ijasah ditangan, selanjutnya kupastikan tangis itu akan terulang ketika ijabsah. Hehehe
Lain kisah yang dinarasikan Ibu Dosen kelahiran 1996. Diksi yang dipilihnya menggambarkan kerinduan tentang kedua orang tua dan sanak keluarganya dikampung halaman, kerinduan tentang pulang dan kerinduan tentang orang-orang terkasih di tanah kelahirannya.
Energi kerinduan yang begitu kuat, membuat pembaca terbang jauh melayang mengangkasa. Melahirkan kekuatan dalam diri untuk tetap tegar serta tabah menanti hari esok kembali kepangkuan ibunda tercinta.
Pilihan narasi dari dua judul tulisan sahabat bengkel narasi yang kubaca pagi ini. Membuat saya sadar bahwa untuk sampai disatu titik pencapaian. Perlu air mata, keringat dan kerinduan dalam setiap langkah meniti kehidupan.
Hidup tak semudah membalikkan telapak tangan, dan tak sesulit membayangkan tanpa harus memulai. Mereka yang berhasil adalah mereka yang lebih banyak menghabiskan energi keringat ditengah terik, dan kerinduan dikala cahaya sang surya mulai temaram.
