Oleh: Sabrie Mustamin*
Perayaan maulid nabi Muhammad Saw di Indonesia dirayakan dengan meriah berdasarkan tradisi di setiap daerah. Demikian juga di daerah Sulawesi, perayaan maulid Nabi Muhammad Saw tidaklah sempurna jika tidak ada tersaji gogos yang terbuat dari beras ketan yang diasapi, ditemani telur.
Hari lahir Nabi Muhammad Saw yang jatuh pada hari Senin tanggal 12 Rabiul awal tahun gajah memiliki keistimewaan yang luar biasa bagi umat Islam.
Dalam kitab Al-Hawi Lil Fatawa dijelaskan bahwa yang pertama merayakan maulid nabi Muhammad Saw adalah Raja Malikul Mudzafar (549 -630 H). Seorang Raja yang alim, pemberani, visioner dan adil, yang beradal dari kalangan ahli sunnah waljamaah. Selanjutnya Sultan Shalahuddin Al Ayyubi atau Muhammad Al Fatih melakukan hal yang sama mengadakan perayaan maulid nabi Muhammad Saw dengan tujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan semangat jihad kaum muslimin dalam menghadapi perang salib melawan kaum salibis dari Eropa dan merebut kembali Jerusalem (1101 -1200) atau abad ke 12.
Terlepas dari siapa yang pertama dan pro kontra tentang boleh tidaknya maulidan, bukan menjadi pembahasan dalam tulisan ini. Bagi penulis, perayaan maulid nabi Muhammad Saw di era milenium ini menjadi keharusan untuk kita rayakan meriah dengan mengulas sejarah sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw sampai wafatnya dan khalifah-khalifah penggantinya.
Hikmah dan semangat perayaan maulid nabi Muhammad Saw tahun ini adalah, “Momentum paling tepat bersiap untuk menyongsong kebangkitan dari keterpurukan politik, ekonomi, sosial budaya, dan kepemimpinan Nasional”.
Dalam buku, The Changing World why Nations Succeed and Fail” oleh Ray Dallo, dikatakan bahwa indikator untuk menjadi negara yang besar dan maju adalah strong leadership yaitu pemimpin negara yang kuat bukan pemimpin yang dikendalikan oleh sekelompok orang tertentu.
Untuk bangsa Indonesia, peluang untuk cepat bangkit menjadi negara yang besar dan maju sangat memungkinkan karena di samping indikator tersebut, Indonesia mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah ruah dan jumlah penduduk yang besar. Jadi, dengan semangat maulid nabi mari kita bersatu dalam perbedaan dan bersama dalam keragaman membangun bangsa.
*Penggiat litetasi dan anggota DPRD Kolaka Utara
