Oleh: Juharman Muliadi

Suasana peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. 1444 H./2022 M. di SMP Haji Agussalim Katoi berlangsung dengan penuh khidmat.
Kegiatan yang bertema ” Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai bekal membangun generasi unggul, insan cerdas dan islami” di hadiri oleh Ayahanda Hasbi Latief, S.Pd.,M.Pd. selaku sekeretaris yayasan Haji Agussalim Katoi.

Dalam momentum yang sangat berbahagia itu , beliau menyampaikan 3 poin penting yang harus dimiliki seorang guru untuk membangun generasi yang unggul, diantaranya :

  1. Kecerdasan emosional
    Seorang guru harus mampu mengontrol emosi dalam menghadapi peserta didik karena setiap anak memiliki tingkah laku yang berbeda. Oleh karena itu, dibutuhkan pengelola yang bijak dari seorang guru dalam mendidik agar mampu membantu siswa dalam menemukan potensi dirinya. Dan kita semua harus yakin bahwa setiap anak itu cerdas karena tidak ada satu pun ciptaan Allah SWT yang hadir di muka bumi dalam bentuk kesia-siaan.
  2. Kecerdasan Intelektual
    Kemampuan individu yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, agar dia mampu menganalisis, merencanakan dan memecahkan masalah. Sehingga setiap penjelasan dari materi yang diberikan itu logis bagi siswa dan muda dipahami, tidak hanya sekedar menjadi kata-kata indah yang kedengaran asing dan guru pun harus menguraikan pada siswa untuk mengatasi kebingungan peserta didik. Oleh karena itu, tak ada jalan pintas untuk seorang pendidik agar memiliki kecerdasan intelektual kecuali perbanyak membanyak buku sehingga wawasan guru tidak hanya sekedar lebih tua semalam ketimbang pengetahuan siswa.
  3. Kecerdasan Spiritual
    Kemampuan yang wajib dimiliki oleh seorang pendidik. Seorang guru dituntut tidak hanya mampu menjelaskan tentang nilai-nilai dan makna hidup tetapi juga di tuntut, agar bisa menjadi contoh buat para siswa. Agar nantinya siswa memiliki rasa tanggung jawab, kerendahan hati dan juga kebahagiaan karena akhlak yang dibangun sejak dini. Pada dasarnya setiap orang wajib memiliki kecerdasan spiritual dalam mendidik anak. Tapi dalam hal ini seorang pendidik harus sadar bahwa ketika guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari. Oleh karena itu, mari kita mulai dari diri kita sendiri. Baik secara transidensi maupun secara humanitas dengan harapan, agar siswa bisa menjadi generasi cerdas dan berakhlak mulia sehingga peran guru untuk di guguh dan di tiru juga bisa terlaksana.
(Visited 46 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.