Orang tua mana yang tidak harap-harap cemas melihat anaknya mengidap epilepsi. Maaf, tulisan “penderita” epilepsi. Saya ganti menjadi ‘penyandang atau pengidap’ hal ini guna menghapus stigma.

Kata penderita, menandaskan bahwa epilepsi menyiksa, menderita, menyengsarakan bahkan menjauhkan dari bermasyarakat, ironis sih, namun tidak semua orang dengan epilepsi itu menderita kok.

Orang tua mana yang tidak khawatir, was dan cemas, belum lagi melihat perkembangan pendidikan dan kehidupan bersosialisasi anak-anak dengan epilepsi di tengah masyarakat.

Seorang ibu menuliskan, anaknya waktu kecil berumur 4 bulan sudah kena epilepsi selama 2 minggu dan sempat bolak balik rumah sakit untuk EEG dan hasilnya tidak ada apa-apa.

Kemudian dijelaskan bahwa saat ini anaknya kini sudah berumur 10 tahun, sekarang dia ngomongnya nggak jelas, pelupa, kalau belajar susah, apalagi menghapal, susah bersosialisasi dengan temannya. Apa itu ada sangkut pautnya dengan penyakit bayinya? kalau benar obatnya apa ya?

Dari pertanyaan diatas melalui media online dokter spesialis syaraf menjelaskan secara gamblang bahwa gangguan perkembangan pada anak dapat disebabkan oleh banyak kemungkinan.

Perkembangan anak sendiri dapat dibagi menjadi:

• perkembangan motorik, pada anak yang lebih besar misalnya kemampuan untuk berlari, loncat, naik tangga, dll

• perkembangan bicara dan bahasa, pada anak yang lebih besar misalnya kemampuan mengerti pembicaraan orang dan kemampuan untuk berbicara yang dapat dimengerti orang lain

• perkembangan sosial emosional, pada anak yang lebih besar misalnya kemampuan untuk meminta bantuan orang lain, mengekspresikan perasaan, bergaul dengan anak seusianya

• perkembangan kognitif, pada anak yang lebih besar misalnya kemampuan belajar, rasa ingin tahu, kemampuan mengeksplor hal-hal baru disekitarnya

• Kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, pada anak yang lebih besar misalnya kemampuan makan sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, dll

Seorang anak bisa mengalami gangguan perkembangan pada salah satu aspek saja, namun bisa juga mengalami gangguan perkembangan pada semua aspek yang disebutkan di atas.

Pada dasarnya gangguan perkembangan bisa terjadi karena banyak faktor, misalnya:

• Komplikasi saat kehamilan dan persalinan, misalnya prematuritas, berat badan lahir rendah, hipoksia (kekurangan oksigen) saat lahir, infeksi dalam kehamilan, ibu konsumsi alkohol atau obat tertentu saat kehamilan

• Paparan terhadap zat berbahaya dari lingkungan sekitar misalnya keracunan timah

• Nutrisi yang kurang baik selama masa kehamilan dan tahun-tahun pertama kehidupan anak

• Kondisi keluarga yang kurang baik (mengalami penyiksaan/kekerasan pada anak, keluarga tidak harmonis)

• Kondisi medis tertentu, misalnya infeksi telinga kronis, masalah penglihatan, gangguan metabolik tertentu, dll. Kejang berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan pada otak juga bisa menjadi faktor penyebab gangguan perkembangan

Pada dasarnya seorang anak harus selalu dipantau tumbuh kembangnya setiap kali pergi ke dokter anak untuk kontrol dan vaksinasi. Hal ini sangat penting dilakukan agar bila terdapat gangguan perkembangan, gangguan tersebut dapat dideteksi sedini mungkin dan dapat diatasi sedini mungkin. Mengatasi gangguan perkembangan sedini mungkin dapat membantu mencegah terjadinya gangguan perkembangan lebih lanjut saat anak sudah besar nanti.

Dalam kasus anak anda, sebaiknya anda segera membawa anak anda ke dokter anak agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap gangguan perkembangannya. Dalam kasus gangguan perkembangan, anak biasanya akan disarankan untuk melakukan terapi-terapi tertentu, misalnya untuk gangguan bicara dapat dilakukan terapi wicara pada anak, bila terdapat gangguan belajar, anda dapat disarankan untuk menyekolahkan anak di sekolah khusus, bila terdapat gangguan psikologis tertentu, anak juga dapat dikonsultasikan pada psikolog anak.

Selanjutnya, bila tidak segera dikonsultasikan dan tidak mendapat terapi secepatnya, anak bisa mengalami gangguan perkembangan lebih lanjut dan bisa jadi mengalami kesulitan untuk menjalani hidupnya (hidup sendiri, bekerja, ataupun menjalin relasi dengan orang lain) saat anak dewasa nanti.

Anak bisa jadi terus bergantung pada orang tua. Oleh karenanya sebaiknya sebagai orang tua segera membawa anak ke dokter anak agar dapat dievaluasi lebih lanjut.

(Visited 24 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.