Kembali pahitnya gula dan manisnya kopi terasa. Benar adanya kopi itu bukan sekadar minuman. Tapi kopi juga pelajaran untuk semua orang, pun tak terlepas pada diri ini.
Warna hitam yang ada pada kopi tak pernah berdusta atas nama rasa meskipun itu pahit. Ada kalanya rasa pahit itu menjadi pengobat fisik yang sedang tidak baik-baik saja.
Lidah dan mulut yang terasa pahit seakan memberiku isyarat bahwasanya
yang hitam tidak selalu kotor. Rasa pahit kopi pun bukan kesedihan. Hitam putih, pahit manis itu biasa. Hanya proses menjadikan yang pahit itu terasa nikmat memerlukan cara tersendiri menyikapinya.
Gagal sekali itu manusiawi, seperti halnya kali ini hampir gagal membalut luka lama yang kembali menganga. Kata hampir yang membuatku tersadar bahwa kopi di mana pun, pahit atau manis, selalu menemukan penikmatnya sendiri. Tanpa rekayasa dan selalu apa adanya.
Kopi tidak pernah memilih bagaimana ia disajikan..
Kopi tidak meminta dengan apa ia disandingkan.
Kopi pun tidak pernah memaksa kapan ia dinikmati.
Begitu juga dengan hati.
Bagaimana hati memilih dan terpilih, semua hanya berdasarkan rasa nyaman dan ketulusan..
Seorang pecinta kopi akan tahu kapan dan bagaimana ia menikmati kopinya, dan pecinta sejati akan tau bagaimana ia menjaga dan merawat kekasih hatinya.
Bahkan kopi tanpa gula sekalipun. Adalah jati diri. Karena ia tidak perlu bermanis-manis di mulut.
Namun hati tak berfungsi.
Biarlah aku apa adanya tanpa harus menjadi manis dibalik pahitnya kopi yang kusuguhkan.
*Penggiat literasi membaca dan menulis
