Emmanuel Levinas adalah seorang filsuf Prancis kontemporer. Filsafat Levinas merupakan perpaduan unik antara tradisi agama Yahudi, tradisi Filsafat Barat, dan pendekatan fenomenologis

wikipedia

Kematian bukanlah sekadar peniadaan, menjadi tak-ada, menuju ketiadaan, melainkan peristiwa tertentu bagi yang ditinggalkan tanpa adanya respon (without-response).

Sebuah Utas tentang Kematian dari Kajian Kelas Isolasi, [Subjek, dan Tanggungjawab Levinasian].

Pada pemakaman Emmanuel Levinas, 28 Desember 1995, Derrida menyampaikan pidato “Adieu To Emmanuel Levinas” untuknya.

Dalam momen ini Derrida takut menyampaikan Adieu atau selamat jalan
Pemikiran Levinas tentang keadilan, etika yang-lain, dan juga tentang Abrahamik telah mempengaruhi karya-karya Derrida seperti esai “Violence and Metaphysics”, “Force Of Law”, “The Violence of the Light”, “The Politics of Friendship”.

Arti kata adieu, a-dieu, yang Derrida dapatkan dari Levinas, musti kembali kepadanya.

Peristiwa ganjil tersebut membuat Derrida mempertanyakan siapa yang akan merespons sapaan tersebut?
Peristiwa kematian, dan bagaimana kita membahahasakannya, seringkali tidak cukup untuk menggambarkan peristiwa duka yang dialami. Derrida menyebut hal ini sebagai the work of mourning, yaitu keadaan termenung sedih tak percaya ditinggalkan pergi oleh orang yang kita kenal.

Keadaan berduka ini, mengarahkan diri kita pada yang-lain, berbicara untuk dan tentang yang-lain.

Ketika Derrida berusaha mengucapkan adieu pada Levinas, momen tersebut tidak hanya untuk Levinas, tapi menunjukkan relasi antara Aku-Engkau-Yang-Lain.

Dalam Death and Time, Levinas menjelaskan bahwa kematian hanyalah menunggu waktu (death as the patience of time).

Kematian bukanlah sekadar peniadaan, menjadi tak-ada, menuju ketiadaan, melainkan peristiwa tertentu bagi yang ditinggalkan tanpa adanya respons (without-response).

Dalam pidato “Adieu To Emmanuel Levinas”, Derrida meminjam perkataan Levinas tentang kematian, bahwa kematian bukan hanya faktisitas empiris.

Kematian bukan hanya dalam arti yang tampak
Derrida juga menekankan pentingkan gagasan hospitality (keramahtamahan) Levinasian. Hospitality Levinasian ingin mengatakan bagaimana kita seharusnya menyambut (to welcome) dan menerima (to receive).

Menyambut adalah membiarkan diri terekspose oleh yang-lain.
Bagi Derrida, keramahtamahan Levinasian tidak hanya berlaku dalam tataran wilayah (politis) tapi lebih daripada itu, the holy, the holiness of the holy.

Revolusi yang dibawa oleh Levinas tentang keramahamtamahan ialah tentang subjektivitas. Subjek tidak lagi diidentifikasi sebagai diri yang berkesadaran, melainkan keterbukaan terhadap yang lain.

Menurut Derrida, subjek dalam Levinasian, adalah yang tak terbatas, yang menyambut dan menerima orang lain melampaui batasan-batasan kita sebelumnya dalam menyambut seseorang.

Gagasan keramahtamahan Levinas merupakan sebuah etika yang melampaui politik di dalam politik itu sendiri.

Melampaui politik bukan berarti non-politis, melainkan sebuah gerakan politik yang tak bisa diidentifikasi sebagai politik A, politik B, yakni politik yang akan datang, sebuah messianic politik terhadap yang asing.
Materi dari Kelas isolasi.

Sudirman Muhammadiyah
Daftar Pustaka:

  • François Raffoul, On Hospitality, between Ethics and Politics, Research in Phenomenology, 1998, Vol. 28 (1998), pp. 274-283
  • Jacques Derrida, Adieu To Emmanuel Levinas, Translated by Pascale-Anne Brault and Michael Nass, Stanford University Press, 1999.
(Visited 113 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Sudirman Muhammadiyah

Dr. Sudirman, S. Pd., M. Si. Dosen|Peneliti|Penulis| penggiat media sosial| HARTA|TAHTA|BUKU|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.