Oleh : Samrin Samad
Hari ini adalah hari dimana semua sekolah melaksanakan upacara perayaan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November 2022. Setiap kali aku membuka media sosial, postingan yang muncul hampir semua ucapan selamat kepada guru-guru yang telah mendedikasikan dirinya untuk kemajuan dunia pendidikan.
Tidak terkecuali aku, pasti akan mengucapkan hal sama. Namun itu hanya terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Entah mengapa, kali ini jemariku seakan kaku untuk merangkai kata dan kalimat untuk sebuah ucapan selamat kepada pahlawan tanpa tanda jasa itu. Mungkin karena lagi fokus menjalani kegiatan PPG, kataku membatin. Namun, prasangka itu seketika berubah ketika kegiatan zoom berakhir di sore hari.
Aku coba menguatkan hati untuk membuat kalimat ucapan selamat, tapi lagi-lagi aku tidak bisa. Setiap kali aku rangkai huruf demi huruf, seketika itu pula sesosok bayangan yang tak asing muncul dalam benakku. Sosok yang saat ini hanya mampu aku lihat dalam tidur, yang selama ini kurindukan kasih dan sayangnya.
Sosok itu tak asing di dunia Pendidikan. Selama kurang lebih 20 tahun, ia telah hibahkan dirinya untuk mendidik anak-anaknya di rumah dan di sekolah. Bahkan dari dirinyalah, aku mengenal profesi pendidk pertama kali. Profesi yang dahulu, dipandang sebelah mata sebagian orang karena penghasilannya yang tak sebanding dengan kinerja.
Sosok itu seorang guru, ia ayahku yang telah meninggalkanku saat aku masih berumur sembilan tahun. Saat itu ia sedang melaksanakan tugasnya sebagai seorang kepala sekolah pada saat perayaan HUT RI tahun 1995. Seketika bulir air mata ini terjatuh ketika mengenang ayah menghembuskan napas terakhirnya saat memangku aku dalam perjalanan pulang ke kampung untuk melihat rumah yang sementara ia buat untuk isteri dan anak-anaknya.
Hanya selembar foto kusam di dompetku yang selalu menemaniku di saat aku rindu. Di saat aku sangat membutuhkan bahu untuk menyandarkan segala beban hidup yang datang bertubi-tubi. Hari ini, genap sudah 27 tahun kepergianmu ayah. Bermacam aral telah aku lewati tanpa kehadiranmu, hingga sampai saat ini tidak ada yang engkau tinggalkan kepadaku, kecuali ilmu yang itu pun hanya bisa aku dengar melalui kisah kawan-kawan seperjuanganmu. Ayah, di hari yang spesial ini, izinkan aku mengucapkan selamat hari guru ayahku. Engkau adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Terima kasih telah mengajarkanku arti perjuangan menjadi seorang guru. Terakhir, izinkan aku meneruskan perjuanganmu sebagai seorang GURU, hingga akhir hayat ini. Selamat hari guruku ayahku. Mataku basah mengenangmu.
*Guru SMP Haji Agussalim Kolaka Utara
