Ikatan Alumni Sastra (sekarang FIB) Angkatan 86 atau IKAS86 Universitas Hasanuddin Makassar termasuk aktif melakukan pertemuan. Selain ada pertemuan rutin bulanan, para anggota juga aktif bertemu dan silaturrahmi misalnya jika ada acara pernikahan anak salah seorang anggota, atau pertemuan Alumni UNHAS secara keseluruhan Angkatan. IKAS 86 juga aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi IKA UNHAS.

Kekompakan ini juga terlihat pada reuni alumni IKAS86 beberapa waktu lalu tepatnya Sabtu 19 November 2022 lalu. Acara kumpul kumpul yang direncanakan akan dilaksanakan di Kawasan perbukitan Karst Rammang-Rammang, ternyata tidak terlaksana karena cuaca yang tidak mendukung. Sehari sebelumnya hujan deras yang mengguyur Makassar dan sekitarnya menyebabkan banjir dan genangan air serta pohon tumbang terjadi di beberapa ruas jalan. Peristiwa banjir itu juga menyebabkan kemacetan lalu lintas dimana mana.
Karena pertimbangan cuaca itulah akhirnya, reuni di Rammang-Rammang dibatalkan, namun kegiatan pertemuan tetap dilaksanakan. Apalagi sudah ada bus yang telah dibooking oleh anggota IKAS86. Akhirnya diputuskan untuk naik bus saja ke Maros dan Pangkep dan nanti di sana ditentukan akan kemana. Pokoknya pertemuan dan silaturrahmi antar sesama anggota harus terlaksana.

Sabtu masih pagi pagi, anggota IKAS86 sudah kumpul di tempat bus yang telah ditentukan, yaitu di depan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) di Jalan Andi Pangerang Petta Rani Makassar. Beberapa anggota lainnya menunggu di jalan yang aka dilewati. Anggota yang tinggal di Maros dan Pangkep juga menunggu di daerahnya masing masing.
Ternyata pagi itu cuaca cukup bersahabat. Meskipun tidak terlalu cerah, namun tidak ada hujan dan juga tidak tampak mendung yang menghitam yang biasanya menjadi pertanda akan turunnya hujan. Bahkan beberapa ruas jalan yang tergenang banjir kemarin sudah tidak ada lagi. Semua berjalan lancar pagi itu.

Perjalanan “jokk-jokka” diawali dengan suasana ceria dalam bus yang menyusuri jalan Andi Pangerang Petta Rani, menuju ke jalan poros ke arah Maros. Singgah sebentar di Tamalanrea menjemput ketua IKAS86 dan selanjutnya menuju kota Maros. Di Maros juga ada anggota, sehingga semakin ramai suasana dalam bus. Selain bercerita berbagai macam topik, juga ada yang sambil menyanyi secara karaoke. Kalau soal menyanyi, banyak anggota yang memiliki suara merdu dan bakat menyanyi.
Di kota Maros, rombongan singgah makan siang di “Coto Rampa”. Lokasinya agak masuk kedalam di Pantai Tak Berombak kota Maros. Pantai Tak Berombak adalah semacam kolam buatan yang dipinggirnya banyak lapak penjual makanan di kota Maros. Kalau malam hari lokasi ini ramai oleh pengunjung. Coto Rampa-nya enak dan banyak direkomendasikan bagi yang ingin menikmati makanan khas Makassar ini di Maros. Saat rombongan tiba di tempat, cukup banyak pengunjung lain. Dinding restorannya juga ditata dengan baik dengan display foto rempah rempah yang digunakan dalam racikan masakan coto tersebut dilengkapi dengan manfaat setiap rempah. Selain ada keterangan khasiat rempahnya, juga ada kata kata yang jenaka.

Tujuan selanjutnya, rombongan menuju kota Pangkep. Dalam perjalanan singgah shalat dzuhur di Resto Tahu Sumedang yang terkenal. Selain lahan parkirnya yang luas, tempatnya juga menyenangkan, toilet dan mushallahnya bersih. Di tempat ini pula bergabung lagi beberapa anggota IKAS86 yang bermukim di Pangkep. Sambil menikmati Tahu Sumedang yang sedap, dengan sambalnya yang nikmat serta segelas teh hangat, para anggota berembuk, dan memutuskan untuk jalan jalannya dilanjutkan sampai Pare Pare.
Perjalanan ke Pare-Pare diisi dengan karaoke sepanjang jalan, sehingga tak terasa sampai juga di kota Pare-Pare. Tujuan pertama adalah berfoto bersama di tepian muara sungai dengan latar belakang bangunan gedung RS Ainun Habibie. Kemudian, menuju ke toko tempat penjualan barang barang dari Malaysia. Ternyata di Pare-Pare banyak toko yang menjual barang produksi asli Malaysia.

Destinasi wisata terakhir yang dikunjungi di Pare-Pare adalah Monumen Cinta Ainun-Habibie yang berlokasi di sudut lapangan Andi Makkasau. Di Google Map tertulis Eternal Love Monument of Habibie-Ainun. Bisa dikatakan monumen ini adalah ikon kota Pare-Pare. Warga dari luar, banyak yang berfoto di bawah patung Habibie-Ainun sebagai kenangan pernah berkunjung ke Pare-Pare.

Sore hari rombongan kembali ke Makassar, masih dengan suasana ceria. Sampai sore tidak ada hujan. Singgah sebentar di jalan Poros Barru- Pangkep menikmati penganan khas yaitu Dange. Dange adalah campuran ketan hitam, kelapa, dan gula merah yang dibakar di atas bara api. Rasanya cukup nikmat. Sepanjang jalan itu penuh dengan lapak penjual Dange. Dange ini juga ada varian rasa keju dan coklat.

Rombongan IKAS86 singgah lagi di kota Pangkep menikmati kopi dan teh hangat, pisang dan ubi goreng disalah satu resto yang dikelola oleh teman IKAS86. Makam malam juga diresto ini, sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Makassar. Tiba di Makassar sekita jam 10 malam. Perjalanan sepanjang hari yang awalnya mengkhawatirkan para anggota karena cuaca, ternyata justru cuaca cerah dan tidak ada hujan sama sekali. Acara kumpul kumpul bersama sahabat yang membahagiakan. Kata Richard Paul Evans, “The sweetness of reunion is te joy of heavens”.

