Dihimpun dari berbagai sumber berita, Mathlaul Anwar adalah sebuah organisasi masyarakat yang dibentuk oleh tokoh agama pada masa kolonial Belanda setelah runtuhnya kejayaan Kesultanan Banten di tangan penjajah, dengan keadaan masyarakat yang sangat majemuk serta tekanan dari para penjajah maka sebagian tokoh masyarakat Kya,i ulama dan tokoh agama mulai terusik, oleh karena itu mereka memulai kembali Lembaran Baru dengan menghimpun para ulama dan para Kyai untuk mewujudkan rasa kenyamanan, Kedamaian serta memeluk agama Islam dengan tentram.

Mathla’ul Anwar lahir di Banten pada tanggal 10 Ramadhan 1334H/10 Juli 1916 di Kampung Kananga, Menes, didirikan oleh KH Mas Abdurrahman bin KH Mas Jamal bersama beberapa kiyai lainnya antara lain : KH Tubagus Muhammad Sholeh, KH Entol Muhammad Yasin, Kyai Tegal, KH Abdul Mu’ thi, Kiyai Soleman Cibinglu, KH Daud, Kiai Rusydi, Kyai Entol Danawi, dan KH Mustaghfiri.

Adalah KH Raden Mas Abdurahman Saleh Abdurahman Jamal, salah satu ulama yang berjasa bagi dunia pendidikan di Banten dan Indonesia. Ia adalah sosok muda, sekembalinya dari Mekkah ia mendirikan Mathla’ul Anwar bersama kyai-kyai lainnya.

Lahir tahun 1882 di Desa Janaka (Gunung Aseupan), Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang dan meninggal tahun 1943. (Muhammad Idjen, penulis buku berjudul KH Mas Abdurrahman Karismatik Ulama Besar Dari Tutugan Gunung Aseupan). Sumber lain mengatakan bahwa ulama ini lahir sekitar tahun 1875 dan meninggal pada tanggal 16 Agustus 1944 dan dimakamkan di Sodong Cikaliung, Kecamatan Saketi, Pandeglang atau di sekitar lokasi Universitas Mathlaul Anwar (UNMA). 

M Nahid Abdurahman, penulis buku berjudul KH Abdurrahman, Pendiri MathlaulAnwar. Sedangkan menurut buku ‘Dirosah Islamiyah I Sejarah dan Khittah MA’ yang diterbitkan oleh General Manager Mathla’ul Anwar, disebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 1868 dan meninggal pada tahun 1943.

Mathla’ul Anwar bertujuan terwujudnya pendidikan dan ajaran Islam di kalangan umat Islam dan masyarakat muslim. Agar ajaran Islam menjadi landasan kehidupan individu dan masyarakat.

Mathla’ul Anwar kini telah menjadi salah satu kekuatan masyarakat sipil yang sangat diperhitungkan sebagai katalis bagi seluruh agenda pembangunan bangsa. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, selain Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

Mathla’ul Anwar justru menjaga netralitasnya dalam menyikapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, tak terkecuali dalam konteks politik.
Kini, di usianya yang sudah menginjak 106 tahun, Mathla’ul Anwar harus pandai berbenah diri guna mengoptimalkan peran dan kontribusinya demi bangsa ini. Olehnya itu, tidak ada salahnya jika kita yang peduli dengan masa depan Mathla’ul Anwar mencoba merenungkan keterkaitan Mathla’ul Anwar dengan politik yang kerap mengundang perdebatan panjang.

Dalam konteks nasional, peran dan aksi Mathla’ul Anwar sangat diharapkan, peran strategis. Mathla’ul Anwar harus bisa mengendalikan perjalanan bangsa ini ke arah yang lebih baik. 

Kita saksikan moralitas bangsa saat ini telah dicabik-cabik oleh sistem politik, hukum dan ekonomi yang korup. Mathla’ul Anwar bukan sekedar kekuatan besar yang “ditakuti”, tetapi lebih berperan menyebarkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan untuk mengubah pola pikir politik saat ini yang cenderung pragmatis.

Oleh karena itu, refleksi adalah kata yang paling tepat untuk dilakukan. Refleksi ini penting untuk mengetahui lebih jauh peta kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang dimiliki Mathla’ul Anwar sehingga dapat diambil tindakan yang tepat, terukur dan strategis untuk memperbaikinya hingga mencapai tujuan yang maksimal.

Kelahiran Mathla’ul Anwar pada tahun 1916 dan strategi dakwahnya, sangat dipengaruhi oleh situasi politik kolonialisme Belanda. Padahal, dakwah Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah sangat dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik eksternal yang menentukan format, strategi, dan arah dakwah Islam.

Mathla’ul Anwar secara kelembagaan tidak perlu lagi menempatkan politik sebagai kepentingan yang dominan. Ia perlu dikukuhkan sebagai visi dan cita-cita gerakan kebudayaan, tanpa harus terjebak dalam pemenuhan kepentingan politik yang bersifat jangka pendek, tentatif, dan sesaat.

Mathla’ul Anwar harus memusatkan gerakannya pada penggarapan masalah-masalah sosial dan keagamaan yang beberapa waktu lalu terhenti akibat pergolakan politik nasional yang memecah konsentrasi sebagian besar pimpinan kedua organisasi tersebut. Kini saatnya keduanya bekerja sama dalam garis gerakan kebudayaan.

Berbicara tentang politik, sulit untuk melepaskan aspek kekuasaan dan jabatan. Berbicara tentang kekuasaan maka memiliki logika tersendiri. Jadi siapapun yang mencoba memasuki ranah politik, maka dia sebenarnya ingin mendapatkan kesempatan untuk berkuasa baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun terkadang persepsi seperti itu tidak sepenuhnya benar karena keterlibatan sebuah organisasi atau bahkan kadernya dihadapkan pada kewajiban untuk membantu memberikan solusi atas krisis kepemimpinan nasional yang cukup parah. 

Mathla’ul Anwar tidak boleh terpeleset dalam kubangan politik yang akan menjatuhkan  Mathlaul Anwar di kemudian hari. Sebagai organisasi keagamaan, Mathla’ul Anwar tidak boleh terlibat dalam ranah politik praktis.

Mathla’ul Anwar tidak dapat berafiliasi atau mendukung kekuatan politik tertentu. Di sisi lain, Mathla’ul Anwar harus menjaga kedekatan yang sama dengan kekuatan politik yang ada. 

Berdirinya Mathlaul Anwar patut diapresiasi atas jasa dan kontribusinya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat seperti sosial, pendidikan, ekonomi.

Tepat dikatakan keberadaan Mathlaul Anwar ini menuju arah baru untuk menata umat, merekat bangsa.

(Visited 689 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Subhan Riyadi

Bukan siapa-siapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.