Oleh: Muhammad Sadar*

Sektor pertanian telah menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan pangan penduduk Indonesia. Sumber pangan yang berasal dari nabati maupun hewani yang menghasilkan pangan berupa karbohidrat, protein, lemak, serat, dan mineral lainnya. Subsektor hortikultura sebagai bagian dari sektor pertanian yang menghasilkan tanaman sayuran dan buah-buahan yang sifatnya semusim atau tahunan.

Sayuran merupakan komoditas hortikultura yang berperan penting terutama sebagai sumber vitamin,
mineral,serat, dan nutrisi bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan kesehatan manusia. Sayuran memiliki keragaman yang sangat besar baik dari jenis tanaman atau produk yang dikonsumsi. Potensi sumber daya lahan pertanian yang menyebar mulai dataran rendah hingga dataran tinggi serta bervariasinya jenis sayuran yang ada di Indonesia memungkinkan untuk usaha budidaya sayuran secara luas. Berdasarkan keragaman sumberdaya yang dimiliki, terdapat jenis tanaman sayuran asli tropis dan subtropis hasil introduksi.

Tersedia berbagai macam varietas sayuran dan adanya upaya adaptasi budidaya secara berkelanjutan. Secara garis besar,wilayah adaptasi agroekologi sayuran dapat dibagi menjadi empat kelompok,
perpaduan antara topografi yaitu: dataran rendah-sedang (< 900 meter di atas permukaan laut), dataran tinggi (> 901 meter di atas permukaan laut), dan iklim yaitu: wilayah iklim basah dan iklim kering. Sayuran yang sesuai untuk dataran rendah-sedang umumnya adalah sayuran asli tropis seperti kangkung, cabai, bayam, labu, paria, terong, sawi, kacang panjang, mentimun, selada air, bawang merah, dan kacang tunggak. Sedangkan pada dataran tinggi budidaya sayuran seperti asparagus, brokoli, kentang, wortel, labu siam, kubis, jamur, pakis, dan bawang putih. Pada wilayah iklim kering dan berpengairan sesuai untuk cabai, bawang merah, dan kacang panjang. Untuk semua agroklimat, kunci utama memproduksi sayuran adalah struktur tanah yang gembur, kandungan bahan organik yang tinggi, serta hara tanah dan pengairan yang cukup.

Permintaan terhadap produk sayuran untuk pasar domestik atau perdagangan antar pulau maupun pasar lokal menunjukkan adanya peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan masyarakat, dan perubahan pola makan untuk mengurangi konsumsi beras. Negara Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial bagi produk hortikultura termasuk sayuran.

Konsumsi sayuran bagi masyarakat Indonesia yaitu 44 kilogram per kapita per tahun, masih tergolong rendah berdasarkan rekomendasi FAO sebesar 65 kilogram per kapita per tahun. WHO dan Kementerian Kesehatan (2017) menganjurkan mengonsumsi sayuran dan buah-buahan untuk balita dan anak usia sekolah sebanyak 300-400 gram per kapita per hari dan bagi remaja dan orang dewasa sebesar 400-600 gram per kapita per hari. Sekitar dua per tiga dari jumlah anjuran konsumsi tersebut adalah porsi sayur sebesar 250 gram. Badan Pangan Nasional,2022 menetapkan target konsumsi sayur dan buah untuk penduduk Indonesia sebesar 286,9 gram per kapita per hari, namun realisasi konsumsi sayur baru mencapai 237,5 gram per kapita per hari.

Dalam struktur pembentukan PDB sektor pertanian, subsektor hortikultura berkontribusi sebesar 1,44 persen. Di dalam subsektor hortikultura, PDB sayuran menempati urutan kedua setelah tanaman buah. Pada tahun 2022, jenis sayuran yang paling banyak di produksi petani Indonesia antara lain wortel, sawi, tomat, cabai besar, kentang, cabai rawit, kubis, dan bawang merah. Volume produksi mencapai antara 720 ribu hingga 2 juta ton. Sedangkan volume importasi sayuran Indonesia dalam kurun waktu 2018-2022 sebesar 800 ribu sampai 1 juta ton. Jenis sayuran yang paling dominan di impor adalah bawang bombay, bawang putih, brokoli, wortel, dan paprika (BPS, 2023).

Komoditas sayuran diperlukan secara universal bagi kehidupan dan kesehatan manusia. Sayuran dapat menyelamatkan kehidupan pada masa-masa kritis kekurangan bahan pangan di pedesaan dengan biaya yang lebih murah dan bisa mensubstitusi keterbatasan bahan pangan pokok. Berbagai fungsi sayuran yang tidak dapat digantikan oleh bahan pokok lain terutama fungsi antioksidan, serat, senyawa karotenoid/beta karoten, likopen, niacin, dan lain-lain. Bukti empiris bahwa sayuran memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan terlihat dari sedikitnya prevalensi penyakit serangan jantung dan pencapaian umur panjang pada penduduk di perdesaan yang menu makanannya lebih banyak terdiri atas sayuran dan kacang-kacangan.

Sebagai komponen pangan, sayuran berfungsi sebagai penyegar tubuh, pelancar dan penyeimbang sistem metabolisme, perawat fungsi organ, dan bahkan penyembuh terhadap penyakit fisiologik tubuh serta meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah kerusakan sel, di samping fungsi sumber nutrisi, vitamin, mineral, dan serat (Kementerian Kesehatan, 2020).

Bahkan, WHO dan FAO (2021) memperingatkan bahwa kekurangan asupan buah dan sayuran dapat menyebabkan risiko kematian akibat kanker saluran cerna sebesar 14 persen, risiko kematian karena penyakit jantung koroner sebesar 11 persen, dan risiko terkena stroke sebesar 9 persen.

Kabupaten Barru merupakan salah satu daerah yang memposisikan sektor pertanian sebagai sektor unggulan karena sebagian besar penduduknya bekerja pada bidang tersebut. BPS (2022) mencatat bahwa jumlah penduduk Kabupaten Barru sebanyak 186.910 jiwa, sedangkan luas baku sawah 15.703 hektare,
lahan kering 7.807 hektare yang terdiri atas kebun, tegalan dan huma. Kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB Barru sebesar 35,02 persen. Angka tersebut tak terlepas dari sumbangsih subsektor hortikultura. Jenis sayuran yang dikembangkan petani antara lain bawang merah, bayam, cabai, jamur, kangkung, ketimun, kacang panjang, paria, sawi, terung, dan tomat.

Skala pertanaman relatif tidak luas dan nyaris tidak berproduksi secara terus menerus karena dibatasi oleh pemanfaatan lahan untuk musim tanam padi sebagai komoditas utama, kecuali usaha pertanaman dilakukan di lahan kering. Arahan pemerintah untuk mengembangkan kawasan pertanian berbasis komoditas di setiap daerah yang memiliki potensi dan peluang usaha budidaya.

Hal ini di pertegas melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 18/PERMENTAN/RC.040/4/2018 Tahun 2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani. Kabupaten Barru merencanakan untuk menggarap dan mengembangkan peluang tersebut dengan memanfaatkan potensi lahan dataran rendah hingga dataran menengah-tinggi dengan kondisi agroklimat pada dua musim yang memungkinkan dapat diusahakan sayuran sepanjang tahun.

Program dan kegiatan pengembangan agribisnis sayuran telah memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan produksi dan penyediaan sayuran yang beragam sesuai permintaan pasar. Komoditas sayuran diharapkan menjadi salahsatu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi perekonomian daerah dan nasional,yaitu pengembangan lapangan usaha, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan, dan nilai tambah masyarakat petani dan pedesaan.

Agribisnis sayuran umumnya merupakan usaha padat karya dan dikelola secara intensif, sehingga memerlukan curahan waktu kerja dan kebutuhan sarana pendukung yang besar. Pengeloaan komoditas sayuran ini dilakukan melalui pola tumpang, monokultur, dan rotasi tanaman dengan intensitas yang cukup tinggi.

Pemanfaatan dan tata guna lahan perlu dioptimalkan melalui kegiatan diversifikasi tanaman. Pengembangan komoditas strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti tanaman sayuran layak mendapat perhatian karena memiliki prospek menuju pada kesadaran gizi, gaya hidup, dan kesehatan serta peningkatan daya beli masyarakat telah menjadikan permintaan tinggi terhadap sayuran.

Menurut Saragih (2000), kegiatan agribisnis sayuran merupakan bagian dari usaha diversifikasi.
Diversifikasi tanaman sebagai pilihan yang rasional. Dengan melakukan diversifikasi usaha tani, maka petani dapat memperkecil risiko harga maupun produksi.

Ketergantungan pada satu jenis komoditas dapat membawa risiko tinggi pada pendapatan petani akibat turunnya harga, karena kerusakan pada satu jenis komoditas kemungkinan tertutupi oleh keberhasilan pada komoditas lainnya. Oleh karena itu, keberagaman tanaman menjamin pertanian berkelanjutan karena lebih stabil dari pada yang mengusahakan tanaman yang seragam.

Permasalahan mendasar yang sering ditemui di lapangan usaha adalah belum diterapkannya prinsip manajemen rantai pasokan atau Supply Chain Management (SCM)secara penuh, modal usaha petani terbatas, dan rantai pemasaran yang masih dikuasai oleh pedagang. Budidaya dan produksi sayuran selama ini masih didominasi oleh usaha skala kecil dengan penerapan teknologi sederhana. Dengan model penerapan tersebut menyebabkan produktivitas dan kontinuitas produksi tak berlangsung lama serta mutu produk relatif rendah. Produk sayuran memerlukan penanganan khusus sejak budidaya, panen, dan pasca panen. Dengan karakteristik tersebut, produk sayuran sangat elastis sehingga stabilitas pasokan sesuai dengan permintaan sangat mempengaruhi harga.

Penulis melihat adanya peluang peningkatan permintaan pasar dan sekaligus potensi ekonomi yang sangat besar terhadap komoditas sayuran perlu diikuti dengan pelaksanaan manajemen produksi yang terarah melalui perencanaan tepat dari segi jenis, jumlah, kualitas, dan kontinuitas pasokan. Upaya yang akan dilakukan adalah analisis terhadap kebutuhan untuk konsumsi,olahan, perdagangan, dan selanjutnya akan dijabarkan dalam bentuk kuota areal penanaman pada wilayah sentra produksi. Peningkatan pasokan penting diperhatikan secara cermat karena elastisitas permintaan yang mudah berubah sesuai dinamika pasar dan preferensi konsumen.

Permintaan sayuran di tingkat konsumen pada umumnya bersifat harian maka pola produksi diarahkan untuk dapat menjamin ketersediaan sepanjang waktu dengan harga yang lebih stabil. Untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional, ketahanan individu dan warga masyarakat serta untuk ketahanan gizi (nutrient security) seluruh lapisan rakyat Indonesia, sudah tiba saatnya memobilisasi kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi sayuran secara cukup.

Potensi sayuran adalah bahan pangan yang sangat berefek terhadap sisi kesehatan tubuh manusia dan sisi ekonomi para pembudidayanya serta sayuran adalah komoditas paling mudah di produksi di negeri ini. Dengan cukup mengonsumsi sayuran ditambah pangan sumber karbohidrat produksi lokal maka ketahanan, kekuatan dan kesejahteraan masyarakat akan terwujud.

Barru,23 Desember 2023

*Penguji Perbenihan dan Perbibitan TPHBun Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru

(Visited 100 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.