Mengenalkan literasi sejak usia dini merupakan langkah awal yang baik. Ketika anak mulai menunjukkan ketertarikan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa itu?” “Apa ini?” “Kenapa begitu?” “Kenapa begini?” itu adalah tanda bahwa anak sudah siap untuk belajar. Keterlibatan anak dalam memahami gambar dan bercerita dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka. Oleh karena itu, orang tua dan guru memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas dan kepercayaan diri anak-anak.

Menurut survey yang dilakukan oleh UNESCO minat baca di Indonesia hanya 0,001%, itu artinya dalam sebuah wilayah hanya 1 dari 1000 orang yang memiliki minat baca yang tinggi, sungguh miris bukan? Lalu, kenapa hal tersebut dapat terjadi? Itu karena kurangnya motivasi dari orang tua untuk menyuruh anaknya membaca. Oleh karena itu kita memperkenalkan anak literasi sejak usia dini

Salah satu cara yang efektif untuk mengenalkan anak pada literasi, khususnya literasi baca, adalah dengan mengajak mereka mengunjungi perpustakaan. Saat ini, sudah ada perpustakaan ibu dan anak yang dapat menjadi wahana wisata keilmuan bagi anak-anak. Dengan memperkenalkan buku-buku yang mengandung unsur bermain melalui gambar-gambar dalam literatur di perpustakaan, anak-anak dapat lebih mudah tertarik dan terlibat dalam dunia literasi.

Menumbuhkan budaya gemar membaca itu memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Sebagai generasi penerus bangsa, para siswa harus berkawan baik dengan buku. Apakah kita ingin bangsa kita dikatakan sebagai bangsa yang bodoh? Tentu saja hal tersebut kita tidak inginkan. para guru selayaknya ikut mengarahkan siswa untuk selalu mendatangi perpustakaan dan lebih banyak membaca buku pengetahuan.

Ilmu adalah suatu hal yang penting, dan membaca adalah sarana untuk memperoleh ilmu, seperti kata C.S Lewis “Membaca buku layaknya menyalakan sebuah api, dimana suku kata yang dieja layaknya percik yang menerangi”.

Mari bersama-sama membiasakan budaya literasi pada anak-anak di usia dini melalui metode bermain melalui perpustakaan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengembangkan literasi. Jika ada kepingan surga yang jatuh dari langit, salah satunya adalah perpustakaan.

(Visited 61 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.