Oleh Devi Seixas 1125

Sebagai kaum perempuan tentu uang akan merombak kehidupanmu dari gelap menjadi terang. Akan tetapi kamu tidak akan terang seperti matahari untuk selamanya, karena segala upaya untuk kebutuhan selalu membuat orang berkomitmen untuk berusaha terjung ke negara mana yang baik bagi setiap individu.

Kita kaum perempuan berasal dari negara Timor-Leste, negara dimana memperoleh kemerdekaan dengan penuh perjuangan, banyak masyarakat termasuk kaum perempuan.

Setidaknya saat ini kita sudah menikamti hasil sebuah perjuangan yakni kemerdekaan, dan kita harus sadar bahwa kemerdekaan yang diperoleh, merupakan sebuah warisan oleh para pejuang yang tentu butuh penjagaan, seperti kita menjaga diri kita sendiri.

Banyak yang kini menggunakan media sosial, sambil mencaci maki seolah perbuatan mereka akan mendapatkan pujian. Sesungguhnya kita malu pada diri kita sendiri, karena di negara manapun kamu menetap, kamu mencari nafkah untuk dirimu sendiri, bukan untuk masyarakat Timor-Leste seluruhnya.

Kita sebagai generasi penerus harusnya sadar darimana kita berasal, hingga tumbuh dan berkembang dan bisa menetap di negara lain, demi mencari nafkah untuk diri kita sendiri, untuk keluarga kita sendiri, bukan untuk semua orang yang hidup di Timor-Leste.

Jagalah lidah kita yang tak bertulang dan saling menghargai satu sama lain, adalah tugas kita sebagai generasi penerus, tanpa harus mencaci maki, tanpa harus mencelah, tanpa harus mencari titik kelemahan orang lain, karena masing-masing manusia memiliki kehidupan.

Sebagai sesama perempuan di negara Timor-Leste, tentu kita di tuntut untuk menjunjung tinggi nilai-nilai akan kebudayaan kita, yang diwariskan oleh nenek moyang kita, tanpa harus menyombongkan diri untuk menjatuhkan orang lain, seolah-olah kitalah yang paling benar dan sempurna di antara mereka.

Salin mencela, saling menjatuhkan, apalah artinya jika kita sadar, bahwa kita adalah bagian dari negara kita Timor-Leste yang seharusnya menjadi panutan bagi anak cucu kita di masa depan, tanpa harus menunjukkan jari kita pada pihak lain, tapi bertanya pada diri kita sendiri, apa yang sudah saya lakukan untuk membantu negara saya Timor-Leste.

Kita bisa saja memilih, mau melanjutkan hidup di negara mana, bahkan benua manapun, adalah keputusan berbasis tanah kelahiran kita Timor-Leste.

Mencobalah kita bersama sebagai kaum perempuan untuk saling menghargai satu sama lain, agar jangan saling mencari titik kelemahan sesama perempuan, harusnya menjadi sebuah fondasi bagi kita semua, sebagai kaum perempuan.

Jika ingin menyelesaikan sebuah masalah tidak harus saling menjelekkan sesama kita, apalagi mereka jauh lebih dewasa dari kita. Sesungguhnya harta kekayaan yang kita miliki, bukan jaminan agar kita menganggap orang lain di sekitar kita adalah lumpur, akan tetapi mereka adalah sesama kita yang memiliki kehidupan yang sama seperti kita.

Ingatlah JAGALAH mulut kita, karena mulut kita bisa menjadi celah bagi kehidupan kita sendiri di kemudian hari. Jika saat ini kehidupan kita bagai di surga, maka sadarilah bahwa tidak semua manusia di planet ini memiliki mimpi yang sama seperti anda, untuk hidup bagai di surga.

Kita bisa menguasai dunia, kita bisa menggunakan kendaraan mewah dan bermerek, kita bisa makan makanan luar negeri, akan tetapi ketika bertindak janganlah lupa bahwa, kita sedang berada di daratan yang sama yakni bumi tempat tinggal kita bersama.

Janganlah terlalu mencari kesempatan untuk terus mengadili orang-orang di sekitar kita, bahkan menghina sesama perempuan ataupun orang lain, dengan nada suara yang keras, dengan menggunakan media sosial, karena akan ada kesempatan segala kata-kata yang kita ucapkan, berbalik arah dan menyerang kita kembali pada waktu yang tidak ditentukan.

Jika kita terus menghina orang lain secara fisik, maka berkacalah apakah kita jauh lebih cantik dari orang yang kita hina, atau kita jauh lebih sempurna dari mereka yang kita cela.

Harusnya kita jadi exemplar women bagi sesama kita yang lemah, apalagi kehidupan kita sudah menembus dinding negara maju.

Ketika kita bertindak saling menghargai satu sama lain, maka itu sudah pasti kita telah terlibat dalam menjaga derajat negara kita Timor-Leste yang kita cintai.

Sudah saatnya kita menyadari kesalahan kita, tanpa harus menyebut nama orang lain, di balik tindakan kita yang tidak bermoral karena setiap kesempatan ucapan -ucapan yang Keluar dari mulut kita adalah doa bagi diri sendiri yang tidak kita sadari.

Menjaga derajat negera kita tidak harus kita berteriak di negara lain bahwa aku orang Timor -Leste, melainkan dari hal-hal kecil yang kita bangung baik dari karakter maupun pola pikir kita. Contoh saling menyapa dan memberi ucapan selamat saja sudah merupakan sebuah penghormatan mulia bagi nama baik negara kita.

Jadi sudah saatnya kita redahkan amarah kita, emos kita, kecemasan kita, kecemburuan kita, dan majukan persatuan dan persaudaraan serta perdamaian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat keseluruhan dimana pun kita berada, sebagai jasa kita untuk menjaga derajat negara kita Timor-Leste.

Wahai kaum perempuan tua dan muda, sadarlah bahwa kita semua memiliki kehidupan dari daratan yang sama. Jadi buanglah tindakan-tindakan kita yang suka, mencela orang lain, karena tidak ada keuntungan bagi kita, ketika saling mencaci dan merendahkan satu sama lain, karena kita semua berlabel paspor atas nama Timor-Leste, meskipun beradaptasi dengan budaya lain, yang mungkin sudah lebih maju.

Berkacalah bahwa kita adalah satu generasi penerus bangsa kita Timor-Leste. Kita harusnya menjadi seorang yang mampu mendidik diri agar lebih bermoral meksipun kita hidup di negara lain, karena orang tidak akan merubah label paspor yang bertuliskan tanah kelahiran kita sampai kapanpun.

Kita tetap anak-anak Timor-Leste yang memiliki harapan serta impian yang berbeda, jadi segala permasalahan yang terjadi, entah apapun masalahnya, mari kita selesaikan layakannya anak negeri ini tanpa harus mencaci maki satu sama lain, karena derajat negara ini ada di tangan kita semua.

(Visited 40 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.