Ternyata waktu adalah pencuri.
Ini kata-kata yang meluncur dari mulut Laela ketika ketemu Adnan, yang dijawab dengan anggukan kepala tanda setuju sambil senyum lebar. Dalam pertemuan yang kurang dari lima menit itu, mereka bercerita flash back hampir dua dekade ke belakang, lalu direfleksikan ke masa kini.
Laela dan Adnan adalah dua sosok yang dipertemukan oleh nasib saat baru merintis karir di pemerintahan, hampir 20 tahun yang lalu. Waktu itu, mereka ditempatkan di dua instansi yang berbeda. Dan sama-sama baru membina rumah tangga.
Meski berbeda institusi, mereka sering kali ketemu dalam berbagai kegiatan resmi ataupun sosial kemasyarakatan. Di dalam kegiatan dengan banyak audiens seperti simposium dan semacamnya, mereka sering hadir. Biasanya berawal dari anak bawang yang bersifat pelengkap, lalu mencoba aktif dan memberikan warna. Bisa ditebak, akhirnya dalam kelompok kecil pada akhirnya ditunjuk jadi juru bicara di kelompok besar. Lumrahnya yang sudah tua mulai malas dan akan berpikir untuk berikan kesempatan kepada yang muda.
Perlahan muncul ke permukaan. Orang-orang berucap, ‘ternyata’, ‘kita tak salah memilih’, dan lain-lain. Lalu di kegiatan serupa selanjutnya, bisa ditebak apa yang terjadi saat mereka hadir lagi.
Mereka juga sering tampil bersama sebagai juri di berbagai lomba, meski jarang interaksi karena biasanya ditempatkan di cabang berbeda.
Begitulah kisah mereka. Yang jelas, sangat aktif, bersemangat, penuh energi, dan seolah ingin menelan bumi bulat-bulat.
Di sisi lain, seiring berjalannya waktu, mereka semakin hanyut dalam dunia masing-masing. Karir semakin naik, semakin jarang mengikuti kegiatan bersama-sama. Akhirnya, tenggelam dalam dunia masing-masing, terlena dengan jenjang karir yang fenomenal dan kadang menggiurkan.
Saat bertemu di fase tahun-tahun setelahnya, hanya secara kebetulan dan biasanya cukup say hello, senyum, basa-basi dengan para pasangan, lalu good bye. Seperti di acara hajatan. Meski duduk satu meja, tidak bisa ngobrol banyak karena suara musik memekakkan telinga. Dipaksa bicara pun, setengah berteriak dan makanan loncat dari mulut, masuk ke piring orang lain. Mau?
Mereka juga tidak terhubung dalam grup-grup media sosial, dan tidak menyimpan nomor kontak satu sama lain. Tidak ada juga urgensinya saling menelpon, karena selain harus menjaga perasaan pasangan masing-masing, tugas pokok dan fungsi tidak beririsan sama sekali. Diagram Venn menyebutnya Himpunan saling lepas.
Hingga suatu ketika, di masa kini, secara tidak sengaja mereka bertemu dalam suatu kegiatan yang cukup resmi. Namun kini, selain penampilan yang sudah jauh berbeda, peran mereka pun tak lagi seperti yang dulu, karena masing-masing hadir sebagai pimpinan lembaga yang diwakilinya. Suasana formal berlangsung, duduk berseberangan, pasang wajah sedikit kaget, saling tatap, menganggukkan kepala, lalu senyum. Tak seperti banyak kawan lama lainnya, yang merenung dulu sesaat ketika ketemu, mencoba pura-pura mengingat (padahal kenal aja), lalu menyebut nama sambil menunjuk. Sok-sokan.
Pertemuan berlanjut. Laela melihat Adnan tak ubahnya seperti seorang sutradara, yang diam berdiri melihat para aktor adu peran. Adnan pun melihat Laela sebagai sosok yang bersahaja, duduk manis, menikmati suasana, memahami semua intisari pertemuan, tampak menelaah dan mempelajari kemungkinan untuk melakukan reduplikasi di tempat kerjanya.
Usai kegiatan, mereka bertemu beberapa menit, sambil berjalan menuju parkiran. Bukan ‘apa kabar’ yang terucap. Tapi ‘waktu adalah pencuri.’ Betapa cepatnya waktu 20 tahun berlalu. Dulu mereka begitu semangat dan energik dalam bekerja. Sekarang?
Mereka sepakat, bahwa kehidupan telah berubah. Kini giliran generasi selanjutnya yang berperan. Mereka tinggal muhasabah diri.
===
Sahabat, hidup di dunia sangat singkat. Ini sering kali disampaikan di khotbah Jumat. Yang tidak tidur pasti dengar. Tapi ada yang jauh lebih singkat, yaitu menjalani peran sebagai makhluk sosial, zoon politicon.
Lihatlah, baru kemarin rasanya Laela dan Adnan gembira dalam menjalani masa awal meniti karir, hari ini semuanya terasa berubah 180 derajat. Satu yang tetap sama, karena memupuk silaturahmi satu sama lain, sehingga saat bertemu, seperti saudara yang sudah lama berpisah.
Ini hanya cerita biasa. Alhamdulillah, bukan fiktif. Di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri, bisa merasa seperti Laela, atau seperti Adnan. Atau seperti mereka dulu, dan sekarang. Atau seperti mereka dulu, namun sekarang tidak.
Banyak yang dulu akrab, teman rasa saudara, namun seiring berjalannya waktu, silaturahmi menjadi renggang. Bahkan ada yang tak lagi saling kenal. Dan lebih parah, ada yang bermusuhan. Parahnya lagi, bermusuhan karena masalah dunia. Meski beberapa temannya berteriak-teriak dengan suara parau: woy, dunia aja ini.
Kita tidak tahu seperti apa kehidupan besok, lusa, pekan depan, tahun depan, di masa pensiun, atau kehidupan setelah mati. Namun kisah Laela dan Adnan, adalah salah satu cerminan, betapa pentingnya memupuk silaturahmi, menjaga hubungan kekerabatan dan memelihara pertemanan sebanyak-banyaknya. Jangan ada musuh, meski hanya satu orang. Atau setengah orang. Kata bijak, sejuta teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.
Kita tentu gembira jika, di saat ke Selatan ada yang menyapa, ke Utara ada yang merangkul, ke Timur ada yang mengulurkan tangan untuk jabat tangan, dan ke Barat ada yang mengajak senyum. Ke manapun, harus ada teman. Teman rasa saudara. Bukan teman karena ada modus, atau ada maunya. A friend in need is a friend indeed.
Kita ingin, saat pensiun nanti, semoga sampai, ada yang menyapa saat sedang duduk di antrean bank di awal bulan. Kita ingin, ada yang mengajak salaman ketika olahraga ringan, meski tangan kita berminyak campur keringat. Kita ingin, ada yang mempersilakan mengisi saf depan saat salat jamaah di masjid. Kita ingin, ada yang menoleh dua kali lalu mendatangi saat ketemu di pasar. Kita ingin, saat komentar di media sosial, banyak yang suka, beri emoticon dan menanggapi. Dan kita ingin, saat makan di warung tiba-tiba penjual berkata: sudah dibayar oleh orang yang tadi duduk di situ.
Bayangkan, sebaliknya. Sedang antre berjam-jam di bank, nomor antrean sudah dekat lalu tiba-tiba ada kasir yang memasang tanda ‘istirahat’ atau ‘next teller’. Atau sedang jogging lalu keseleo namun orang hanya menoleh sebentar dan berlalu seolah tak terjadi apa-apa. Atau lagi, di masjid orang pura-pura tidak kenal padahal bersebelahan, dan setelah salam dia langsung berbalik, pergi ke belakang untuk zikir. Saat ditoleh, dia pejamakan mata. Atau lagi dan lagi, ketemu di pasar dia pura-pula tidak melihat dan berbelok mengambil jalan lain, pura-pura mau membeli sesuatu. Padahal ekor mata yang sudah mulai rabun masih sempat melihat dia berjalan menuju arahnya. Atau lagi, lagi dan lagi, tadinya grup media sosial cukup ramai, saat kita beri komentar, grup itu langsung sepi selama sepekan. Sadis. Apa lagi? Masih berharap ada yang mau traktir di warung? Mimpi.
Kisanak, kita ingin, saat maut menjemput, orang menerima berita kepergian kita dengan doa yang baik, husnul khatimah. Mereka ikhlas tinggalkan kesibukan dunia lalu datang melayat. Mereka mengambil air wudu lalu ikut salat jenazah. Mereka mengantar ke peristirahatan terakhir. Mereka mengucap amin saat doa dibacakan. Mereka menyapa keluarga dekat kita sebelum melangkah pergi.
Bandingkan jika ini yang terjadi. Orang menerima berita kematian lalu berucap: inna lillah, memang sudah lama sih sakit. Mereka enggan datang ke rumah duka karena harus selesaikan kerjaan di hari itu. Kalaupun datang, hanya sebentar, menyalami beberapa tamu, duduk cerita, merokok sebatang lalu pamit. Atau datang saat salat jenazah namun enggan ikut dengan alasan malas buka sepatu. Mereka mengantar ke makam tapi dari awal hingga akhir bercerita sambil ketawa-tawa. Menengadahkan kedua tangan saat doa dibacakan tapi mulut tak berhenti bercerita sambil bisik-bisik karena malu dilihat yang lain. Terakhir, sebelum berpisah, masih sempat ngomong dengan yang di sebelah: hilang lagi satu teman, kira-kira siapa yang cocok di posisi dia. Astaga pakai perasaan nggak ngomong gitu, saat air mata masih mengalir di pipi keluarga yang berduka cita, dia bersuka cita. Padahal ngakunya teman.
Itulah kehidupan. Penuh misteri, lika-liku, dinamika dan romantika. Saking enaknya hidup berdua, tak terasa sarung bertukar. Saking enaknya hidup bersama, tak terasa gigi bertukar.
Dan ternyata, waktu adalah pencuri. Once more, time is money allegedly, but for others, it is a thief.
Paser, 16 Mei 2025
