Di malam minggu, tanggal 7 juni 2025, di sudut kota Dili, saat menanti Roh Kudus turun atas para rasul, pada hari raya Pentakoste, Ia juga juga turun atas kedua keluarga yang selama ini bertikai bertahun-tahun, bagaikan kucing dan tikus yang saling mengintai, namun malam itu Roh Kudus benar-benar memenuhi dan menerangi hati mereka masing-masing, hingga mereka dapat merangkul kembali satu sama lain.
Saat-saat indah yang penuh haru dan tegang itu kini telah menjadi bahagia, berlinang air mata bahagia membasahi di pipi mereka, pertanda bahagia merasuk di relung-relung lubuk hati mereka. Sentiment bahagia meliputi suasana kekeluargaan mereka, menceritakan kembali memori-memori pahit mereka, yang memisahkan mereka bertahun-tahun. Hal ini merupakan karya setan, namun cahaya ilahi Roh Kudus menghalau dan mengusirnya, dan kini kembali menjadi anak-anak Tuhan, yang hidup damai berdampingan di taman Eden di planet bumi.
Hal ini mungkin sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek-moyang, ayah-ibu, hingga diwariskan kepada anak-cucu. Mengapa tidak? Karena di jaman mereka juga demikian adanya, terjadi cekcok antara kakak perempuan dan adik laki-laki, yang salah paham gara-gara cinta buta salah kamar dari sang kakak perempuan. Akhirnya sang adikpun dendam pada sang kakak perempuan yang telah salah jalan, akibat dari cinta buta, salah kamar tersebut. Sang adik lelakinya ingin menghabiskan nyawa sang kakak, tapi tak sempat direalisasikan.

Namun rencana Tuhan lain dengan rencana manusia. RencanaNya selalu indah pada waktunya. Dimana sang adik yang sebelumnya pendendam untuk menghabisi kakak perempuanya, Tuhan menegurnya dengan menjadikannya sakit parah yang tak dapat terobati. Lalu dibawanya ke rumah sakit Lospalos baru dapat disembuhkan. Hal inilah yang membawa kembali kedamaian di antara mereka berdua, yang telah sekian lama bermusuhan dan dendam satu sama lain.
Hal serupa juga yang terjadi antara adik “Bosco” dengan kakak perempuannya “Ady”, yang saling bertikai, dendam dan bermusuhan selama lima tahun, gara-gara persamalahan sekolah dari anak-anak dari Kakak tertuanya yang menghantui pikiran adik Bosco hingga melampiaskan amarah, dan melontarkan kata-kata jorok dan makian terhadap kakak perempuannya.
Namun selang waktu sekian lama telah berlalu, mereka dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus yang telah diterimanya lewat sakramen pernikahan yang diterimanya di gereja, serta moral dari imam yang menikahi mereka, telah meresapi kalbu mereka, hingga meluluh-lantahkan hatinya yang selama ini beku, menjadi cair terhadap cinta tulus dari sang adik perempuannya.
Memang kita tidak luput dari dosa, setan selalu mencari jalan, untuk mengusik kedamaian dan ketenangan keluarga kita. Maka kita harus banyak berdoa, agar cahaya Roh Kudus mampu menembus batas-batas relung hati kita yang paling dalam. Dimana kita selalu melihat kesalahan orang lain, tapi kesalahan kita sendiri dilupakan. Supaya kita terhindar dari dendam dan bermusuhan dengan orang lain, dan dapat menciptakan surga di bumi.
Semoga dengan kedamaian yang baru saja tercipta berkat dari Roh Kudus ini, dapat bertahan sepanjang hidup, bersama keluarga dan handai taulan, hingga anak cucu dan cici kita di masa mendatang.
By prof.Edo Santos’25
