Oleh: Muhammad Sadar*

Pada setiap tahun di bulan agustus, kita bangsa Indonesia menjadikan periode waktu tersebut sebagai timing yang sangat bersejarah dan monumental. Berbagai peristiwa heroisme dan kejadian penting yang berlangsung pada bulan ini yang menentukan kedaulatan negara agar setara dengan bangsa lain di dunia. Salah satu kesakralan bulan ke delapan pada penanggalan masehi bagi rakyat Indonesia adalah pengucapan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh dwi tunggal Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta yang bertepatan pada hari Jumat, 09 Ramadhan 1367 Hijriyah.

Deklarasi kemerdekaan dari sang proklamator, memberi pesan tegas kepada masyarakat dan pemerintahan global bahwa bangsa Indonesia dengan kepala tegak berdiri, telah bebas dari segala bentuk invasi atau aneksasi, intervensi maupun intimidasi dan penindasan penjajahan yang harus dilenyapkan dari muka bumi dan merdeka untuk menentukan nasib bangsanya sendiri.
Institusionalisasi dan revolusi perjuangan kemerdekaan, sangat nyata membawa perubahan besar bagi rakyat Indonesia khususnya dalam hak azasi manusia merdeka yang berdaulat sebagai authorized capital dan legitimasi untuk pengakuan dunia internasional menjadi independent nation state.

Sikap pernyataan kemerdekaan yang dilakukan oleh para pendiri negara pada tahun 1945 sebagai pertanda bahwa struktur penjajahan bangsa asing dalam sistem kolonialisme, imperialisme dan feodalisme di republik ini telah berakhir. Kekuatan falsafah 3 G (Gold, Glory and Gospel) yang dianut para invaders berhasil diruntuhkan oleh pejuang bangsa. Semangat nasionalisme, patriotisme, cinta tanah air dan persatuan nasional memenangkan pertarungan ideologi antara pejuang dengan kaum penjajah.

Kini, pada tanggal 17 Agustus 2025 sebagai hari nasional negara merdeka atau independence day bagi bangsa Indonesia, kembali akan memperingati 80 tahun usia kemerdekaan dimana arah dan tujuan pembangunan nasional dalam konstitusi masih sarat dengan berbagai tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dinamika bidang politik, ranah hukum dan HAM, sektor ekonomi, bagian kesetaraan atau keadilan sosial, isu lingkungan dan perubahan iklim, dunia kesehatan maupun pendidikan masih mewarnai ketimpangan maupun disparitas kesejahteraan rakyat Indonesia.

Namun ditengah berbagai tantangan dan kelemahan negara ini, tepat 30 tahun silam dari sekarang atau 10 Agustus 1995 dalam menyongsong peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia Emas 50 Tahun Indonesia Merdeka, pemerintahan orde baru mendeklarasikan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ditandai dengan penerbangan perdana pesawat CN-235 Gatot Kaca yang disaksikan oleh Presiden Soeharto, para menteri Kabinet Pembangunan VI dan tokoh nasional. Karya pesawat terbang hasil rancang bangun dan ciptaan anak negeri yang diproduksi oleh industri strategis nasional PT. Dirgantara Indonesia, dipimpin Menristek/Kepala BPPT Prof.Dr.Ing. B.J. Habibie. Aksi take-off CN-235 sebagai langkah awal bangsa Indonesia dalam memasuki era kebangkitan teknologi dan inovasi nasional diberbagai bidang.

Dalam nomenklatur keputusan Direktur Sistem Inovasi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi Nomor: 01/IV/2017 menyatakan bahwa dalam rangka menanamkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai strategis pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun inovasi dalam membangun peradaban dan kesejahteraan bangsa, serta dalam upaya menumbuhkan kehendak dan mengembangkan serta menghargai prestasi di bidang teknologi, perlu diselenggarakan Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

Dalam penyelenggaraan Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-22 Tahun 2017, telah ditetapkan kegiatan bakti teknologi tanam padi unggul di 24 Kabupaten/Kota se-Provinsi Sulawesi Selatan. Tepat sewindu atau delapan tahun lalu, Kabupaten Barru merupakan salah satu lokus rangkaian demonstrasi plot pengenalan varietas padi unggul baru yang diciptakan dan dipatenkan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN). Varietas padi yang tergolong baru di wilayah ini diberi nama oleh institusi pengusulnya, BATAN yaitu Inpari Sidenuk.

Penggalan kata Sidenuk adalah Aplikasi dan Dedikasi Nuklir yang berlatar partikel atom dalam seleksinya dan berasal dari jenis padi inbrida varietas Diah Suci diradiasi dengan sinar gamma pada dosis 0,20 kGy dari 60 Co. Umur tanaman tergolong genjah 103 hari pasca semai dan postur tanaman tegak dengan tinggi 104 centimeter. Posisi daun bendera tegak, jumlah gabah per malai antara 175-200 butir, model gabah ramping berwarna kuning serta kerontokan sedang dan tahan rebah.

Komposisi lain dari Inpari Sidenuk adalah berdasarkan hasil ujicoba organoleptik para tim panelis memiliki tekstur dan rasa nasi pulen dengan kadar amilosa 20,6 persen. Rata-rata produktivitas mencapai 6,9 ton per hektar gabah kering giling. Sedangkan potensinya mampu dicapai hingga 9,1 ton per hektare gabah kering giling. Toti potensi tanaman bisa dioptimalkan melalui manajemen lahan, hara, air dan organisme pengganggu tumbuhan ditambah sikap pengelola yang cermat mengadaptasikan tanaman dengan lingkungan tumbuhnya.

Ciri morfologi lain Inpari Sidenuk yaitu agak tahan terhadap hama wereng batang coklat biotipe 1,2, dan 3. Terhadap penyakit tanaman padi, agak tahan hawar daun bakteri patotipe III, rentan patotipe IV dan agak rentan patotipe VIII, rentan tungro dan semua ras blas. Rekomendasi tanam Inpari Sidenuk pada ekosistem sawah dataran rendah hingga ketinggian 600 meter diatas permukaan laut dan tidak dianjurkan ditanam di daerah endemik tungro dan blas. Varietas Inpari Sidenuk dilepas berdasarkan SK Menteri Pertanian, Nomor: 2257/Kpts/SR.120/5/ 2011 Tanggal 02 Mei 2011 (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2022).

Pengembangan selanjutnya Inpari Sidenuk dalam kegiatan bakti teknologi varietas padi unggul di Barru pada tahun 2017 adalah pelaksanaan tanam bersama di areal sawah tadah hujan berpompanisasi dari air permukaan pada musim tanam gadu seluas 1,0 hektare. Perayaan tanam bersama diorganisir oleh Kemenristekdikti berkolaborasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pertanian Barru dan Kelompok tani Pattembang Desa Tompo. Sistem budidaya yang diterapkan berupa metode IPAT-BO
atau disebut Intensifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik.

Kajian Prof.Tualar Simarmata bahwa IPAT-BO adalah sistem produksi holistik dan terencana (by design) dengan menitikberatkan pemanfaatan kekuatan biologis tanah dan tanaman untuk melipatgandakan hasil padi. IPAT-BO menawarkan pilihan teknologi solutif yang memaksimalkan potensi tanaman dan potensi tanah untuk memperoleh hasil panen optimal. IPAT-BO merupakan suatu pola budidaya padi hemat air dan penggunaan benih, tanam bibit muda, penanaman tunggal per titik tanam serta jarak tanam lebar menggunakan caplak. Selain itu lahan sawah disuplementasi bahan organik decomposer sebagai penyubur tanah.

Diseminasi varietas Inpari Sidenuk di tingkat lapang dalam bakti teknologi Kemenristekdikti adalah merupakan bagian dari upaya membangkitkan jenis padi unggul nasional, serta memperkenalkan temuan inovatif anak bangsa berupa golongan padi berumur genjah yang memiliki potensi produktivitas tinggi. Rangkaian budidaya padi yang dilakukan mulai olah tanah, pemupukan dasar, pesemaian kering, penanaman, pengendalian OPT, pengelolaan air hingga panen. Durasi kegiatan yang berlangsung sejak tanam perdana 20 April 2017 hingga panen 20 Juli 2017 dengan rentang waktu 103 hari sesuai dengan umur kegenjahan varietas Inpari Sidenuk.

Setelah melalui tahapan pertumbuhan vegetatif dan pengamatan perkembangan segenap morfologi tanaman dan lingkungan tumbuhnya hingga memenuhi syarat matang fisiologis, maka siklus hidup Inpari Sidenuk diakhiri melalui prosesi panen serentak perdana varietas genjah di daerah ini. Hasil panen menunjukkan produktivitas sebesar 6,9 ton per hektare gabah kering panen atau setara 5,7 ton per hektare gabah kering giling (GKG). Analisis produktivitas berdasarkan ubinan petak langsung memberikan gambaran hasil Inpari Sidenuk sedikit lebih rendah 1,2 ton per hektare dari rata-rata potensinya.

Beberapa faktor penyebab yang mengakibatkan produktivitas Inpari Sidenuk kurang sesuai potensinya pada musim tanam gadu 2017 di Barru antara lain ;

  1. Pengelolaan tanaman terkendala oleh gangguan OPT utama yaitu hama penggerek batang dan penyakit blas sejak tanaman padi berumur 15 hari setelah tanam termasuk ancaman dan serangan tikus pada umur padi mencapai 38-42 hari setelah tanam.
  2. Tantangan dinamika cuaca terutama intensitas curah hujan (hujan ringan hingga sedang) yang berdampak pada meningkatnya kelembaban udara yang memicu perkembangan jamur penyakit blas. Di sisi lain lokasi demplot dalam fase tertentu pertumbuhan tanaman, lahan harus dikeringkan namun jika sawah dalam keadaan kering hama tikus menjadi ancaman vital menerjang masuk ke area tanaman padi.
  3. Sikap petani masih perlu dilakukan pengawalan intensif didalam penerapan teknologi budidaya padi varietas unggul baru agar petani lebih memahami tindakan perlakuan terutama dalam kemampuan mengidentifikasi penciri sebaran spot organisme pengganggu tumbuhan. Penanganan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan tanah dan tanaman, penting juga disosialisasikan kepada para pelaku pertanian.
  4. Kondisi ideal dalam pengembangan sebuah varietas baru terkadang berbeda nyata dengan ekologi varietas tersebut ketika diciptakan.
  5. Potensi varietas dalam deskripsinya tak lebih dari suatu hasil ujicoba multi lokasi dari berbagai dimensi topografi, budaya petani dan tentunya lingkungan tumbuh yang berbeda sehingga penerapan varietas baru pasti akan mengalami berbagai tantangan dan adaptasi lokal. Kesesuaiannya akan terus diulang dan dibudidayakan agar mampu diterima oleh petani sebagai varietas yang menguntungkan.

Walaupun demikian adanya, upaya pengendalian tetap dilakukan oleh petani melalui cara mekanis hingga penggunaan bahan kimia beracun yang terukur. Jika dibandingkan dengan produktivitas varietas lain pada petak sawah diluar area demplot, kehilangan hasil sangat signifikan lebih tinggi 50-60 persen pada kondisi yang homogen ( baik iklim maupun tingkat kerusakan tanaman oleh OPT).
Gambaran ini bisa diinterpretasikan bahwa penggunaan varietas Inpari Sidenuk masih lebih unggul dibandingkan dengan varietas lain pada keadaan yang sama dan perlakuan tidak berbeda nyata. Begitu pula dengan angka produktivitas panen yang dihasilkan dapat dikatakan bahwa, Inpari Sidenuk masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi nasional antara 5,1-5,2 ton per hektare.

Sebagai varietas unggul, Inpari Sidenuk yang merupakan jenis padi inbrida nasional melalui penemuan yang berbasis riset dan inovasi sekiranya benih sumbernya terus tersedia di tingkat lapang. Transformasi penggunaan benih unggul harus digalakkan di kalangan petani agar varietas tersebut tidak punah dan tetap bertahan di wilayah pengembangan. Strategi perbanyakan benih unggul di daerah adalah melalui metode tangkaran sehingga benih sumber tersedia secara kontinyu dan berkelanjutan penggunaannya pada setiap musim tanam.

Salah satu sifat keunggulan pada varietas Inpari Sidenuk adalah dari sisi umur yang sangat presisi pada waktu panen yang tepat atau bersifat genjah. Sifat kegenjahan Inpari Sidenuk sangat membantu petani dalam manajemen waktu budidaya padi. Keunggulan lainnya adalah mampu beradaptasi pada kondisi pengairan kritis karena ketahanannya terhadap fase kering dan cekaman air yang kurang. Eksistensi keunggulan Inpari Sidenuk dari sisi umur pendek, sangat memungkinkan menjadi sebuah varietas andalan di dalam mendukung kegiatan optimalisasi peningkatan indeks pertanaman padi.

Berdasarkan dengan namanya yang berlatar teknologi nuklir dalam penciptaannya, namun varietas Inpari Sidenuk tetap akan menunjukkan dedikasinya sebagai sebuah varietas yang mumpuni untuk mensukseskan gelora swasembada pangan. Visi negara ini idealnya terus didukung oleh ketersediaan benih padi unggul terpilih dan memiliki produktivitas yang bisa diandalkan. Dengan karakter dan sifat-sifat keunggulannya, maka varietas Inbrida Padi Irigasi-Aplikasi dan Dedikasi Nuklir disingkat
Inpari Sidenuk telah melahirkan sebuah harapan besar menuju ketahanan bangsa dan kemandirian pangan nasional agar daulat negara tetap berjaya dan bernilai tinggi di pentas dunia.

Bersama Inpari Sidenuk, Dirgahayu Republik Indonesia ke-80 Tahun dan Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-30 Tahun. Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju

Barru, 08 Agustus 2025

*Pemerhati Varietas Padi Nasional

(Visited 86 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.