Cerita ini dimulai sekitar tahun 2012 di sebuah kampus ternama di Kota M. Waktu itu Ara (nama panggilan) masih di semester 4, dan ketemu dengan Rahma (nama samaran) yang merupakan adik tingkat satu tahun. Mereka bertemu saat Rahma mendaftar sebagai mahasiswa baru. Entah bagaimana ceritanya sehingga mereka saling jatuh cinta, lalu kata teman-teman kuliahnya, sejak saat itu mereka selalu terlihat bersama-sama di setiap kesempatan.
Dari kecil Ara dididik untuk selalu jujur dengan orang tua, sehingga hubungannya dengan Rahma pun sudah diketahui semua keluarga pada bulan ketiga mereka merajut kasih. Kepada penulis, Ara sering bercerita tentang Rahma, melalui telepon tentunya. Syukurlah, yang penting kuliah tetap nomor satu.
Lambat laun hubungan mereka semakin serius. Katanya, Rahma orangnya pintar bergaul, dari SMA ikut organisasi, sehingga waktu kuliah langsung didaftarkan Ara ke sebuah organisasi ekstra kampus yang cukup terkenal. Satu lagi, Ara yang pandai main gitar, sering menghabiskan waktu luang bersama Rahma menyanyi. “Kami suka nyanyikan lagunya Eren, Takkan Pisah,” katanya suatu waktu.
Sayang, aku ingin berbicara kepadamu
Tentang apa yang tengah aku rasakan
Ada apa? Ada apa? Katakanlah semuanya
Ku ‘kan dengarkan, duhai cintaku
Yahh…….. semoga langgeng. Live together happily, ever after.
Waktu berlalu, dengan terasa (bukan tanpa terasa, seperti yang sering terucap) Ara memasuki tahap akhir. Dan lulus. Kemudian dia menyeberang ke Kalimantan Timur. Mau mencari peluang kerja katanya. Selama dua pekan itulah dia banyak bercerita tentang Rahma. Rupanya anak ini serius dengan pilihannya, dan ingin cari kerja cepat-cepat buat melamar kekasih hatinya.
Penulis hanya bisa memberikan nasihat, agar jangan memberatkan orang tua. Kebetulan orang tua Ara bukan termasuk berada. Ara pun ke Kalimantan bukan naik pesawat, tapi naik kapal laut. Sementara Rahma berasal dari keluarga yang-menurut pandangan penulis-harus diajak bicara super serius dan secermat mungkin, terutama dari segi finansial.
“Jangan khawatir om, saya sudah dua kali bawa ke kampung. Dia tahu keadaan kita. Juga sudah bicara dengan orang tuanya. Cuma satu kendala, dia tidak tahan cuaca dingin,” Ara mencoba meyakinkan penulis. Okelah.
Dia lalu memutar lagu di HP. Lagunya Eren, Takkan Pisah. Beberapa menit mendengar dan meresapi lagu itu. Setelah lagu habis, dia berkata: kami nyanyikan lagu ini pada malam sebelum saya naik kapal ke sini. Matanya menerawang. Dalam sekali.
Bila nanti orang tuamu tak meridhoi dengan
Apa yang kurasakan padamu
Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya
Begitu pun orang tuaku
And the writer was reminiscing. Bait kedua lagu ini membuat penulis termenung. Mungkinkah takdir kembali terulang. Kisah serupa pernah terjadi, sekitar 15 tahun sebelumnya. Namun akhirnya kandas. Alasannya klasik, tidak ada titik temu antara keluarga.
Selama di Kalimantan, Ara sangat giat mencari informasi kerja. Akhirnya dia dapat. Di Kalimantan Utara. Saat tiba waktunya, dia berangkat untuk wawancara, dan guess what, diterima. Ara mulai meniti karir di sebuah perusahaan. Sementara Rahma, yang juga sudah mau selesai kuliah, katanya mau menyusul. Yang ini, keluarga tidak setuju. Harus nikah dulu, tegas ayah Ara. Begitu juga keluarga Rahma.
Namun untuk mencari waktu menikah, tidaklah mudah, karena Ara yang belum setahun bekerja, tidak bisa begitu saja memperoleh cuti untuk waktu paling tidak lebih dari sepekan. Mereka akhirnya LDR. Long Distance Relationship. Hubungan berlanjut dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi: video call. Dan di antara ratusan, atau mungkin ribuan, video call itu, mereka sering duet menyanyikan lagu Takkan Pisah.
Kau takkan tinggalkanku
Takkan pernah, sayangku
Janjimu, janjiku untukmu
Bikin terharu dan merinding. Ara, yang sepengetahuan penulis, tak pernah pacaran sebelumnya, ternyata cintanya kepada Rahma tidak main-main. Yang layak mendapatkan jempol, kesetiaan Rahma. Prestasi akademik, kepiawaian dalam berorganisasi, serta penampilan yang mampu membuat para pria menoleh kembali, adalah modal yang sebenarnya bisa menjadi alasan untuk meninggalkan Ara. Daripada harus menunggu kapan karyawan perusahaan itu bisa cuti.
Mereka sabar menanti. Akhirnya hari itu tiba. Pertengahan 2017. Ara dan Rahma menikah, berlangsung di rumah mempelai perempuan. Tidak terlalu wah, tapi cukup meriah. Ada hiburan dari organ tunggal. Saat tamu mulai sepi, mempelai diminta menyanyi. Dan lagi-lagi, mereka menyanyikan lagu itu. Lagu andalan mereka. Kalimat-kalimat dari lantunan lagu itu ibarat doa di telinga hadirin, yang kemudian ramai-ramai mengaminkan. Meski situasinya sedikit kocak, ibu Rahma terlihat menyeka air mata yang sempat terlihat sembab. Bibirnya juga komat kamit, antara menyanyi dan berdoa, kurang jelas.
Pesta pun usai. Beberapa hari setelahnya Rahma langsung diboyong ke Kaltara. Kedua orang tua dan seorang adik perempuan ikut mengantar, sekadar memastikan Rahma memperoleh kehidupan yang layak. Selanjutnya pasangan baru hidup bahagia bersama, hingga punya 2 anak, laki-laki dan perempuan. Setiap ada waktu cuti, mereka pulang ke rumah orang tua. Biasanya dibagi waktunya secara adil. Fifty-fifty. Pernah juga sekali ke rumah penulis. Waktu itu pandemi Covid-19, dan mereka menempuh perjalanan darat dengan menyetir bergantian selama hampir 20 jam.
Di saat kedua anak sedang lucu-lucunya, mereka mendapat cobaan yang cukup berat. Penyakit lama Rahma kambuh. Dia menderita penyakit yang sama sejak kelas 2 SMA, dan ini untuk kesekian kalinya kambuh. Cuma lebih serius. Dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Umum, lalu pulang ke rumah. Kemudian kambuh lagi. Rencana mau dibawa ke RSUD di kota tempat kuliah dulu, namun takdir berkata lain. Rahma dipanggil Yang Maha Kuasa.
Rahma dimakamkan di kampung halamannya, sekitar 3 jam ke arah Utara dari kota tempat mereka bertemu dan merajut cinta. Ara tentu saja sangat sedih. Di dalam kedukaannya yang mendalam, dia mengambil gitar. Menyanyikan lagunya Eren, Takkan Pisah.
Jangan kau pergi tinggalkan aku
Bawa aku ke mana kau mau
Janjiku padamu
Jiwa dan ragaku, mati pun ku mau
Takkan ada yang pisahkan kita
Sekalipun kau telah tiada
Akan kupastikan
Ku ‘kan memeluk, menciummu di surga
(Takkan Pisah, Eren)
Paser-Kaltim, 13 Oktober 2025
