Di Tanah Suci yang penuh gema takbir ini, kususuri memori masa muda. Dulu, kaki-kaki ini melangkah ringan seperti angin gurun yang menari di atas pasir. Tawaf terasa seperti memutar kenangan, dan mencium Hajar Aswad bukanlah perjuangan, melainkan bagian dari kegembiraan ibadah. Usia muda adalah anugerah yang kadang tidak kita sadari nilainya; ia memberi tenaga yang tak terukur, keberanian yang tak tertandingi.
Namun di hadapan Ka’bah, waktu berputar lain. Kurasakan tubuh ini tak lagi selincah dan setangguh dahulu. Nafas mulai agak pendek, langkah terasa berat, dan denyut jantung lebih kencamg, kondisi ini sedang mengajarkan kehati-hatian dibanding keberanian. Lautan manusia seperti arus deras yang tak mengenal kompromi, membawa setiap orang dalam putaran yang seringkali memeluk, bahkan menenggelamkan.
Fisik Asia Timur dan Asia Tenggara memang kecil, rapuh seperti bambu muda. Tak seperti saudara-saudara seiman dari Asia Barat yang besar, atau jamaah Eropa yang tegap seperti tiang-tiang masjid tua. Ketika tubuh-tubuh besar itu bertemu dalam satu putaran dan pusaran tawaf, kita baru mengerti bahwa ibadah ini bukan hanya perjalanan rohani, tetapi juga pertarungan fisik yang nyata.
Beberapa bulan lalu, kabar dari Pinrang memecah hati: seorang wanita muda wafat di depan Hajar Aswad. Lalu sekitar tiga minggu lalu, seorang lelaki setengah baya dari Jawa Barat uga disambut takdir pada tempat yang sama. Kata staf JTN Travel, gelombang manusia tidak selalu ramah; sering ia menjadi tembok, kadang ia menjadi badai. Di depan batu hitam suci itu, manusia datang dengan niat mencium rahmat, namun tak sedikit yang justru bertemu dengan batas kehidupannya.
Hari ini kucoba lagi, sebelum salat Jumat. Awalnya kubayangkan seperti dahulu—sekadar menyelinap, menyempil, menaruh keberanian di antara pundak-pundak jamaah lain. Nyatanya desakan itu seperti gunung runtuh. Bahu terasa ringkih, napas tercekat, dan langkahku tak lagi punya kuasa. Aku mundur perlahan-lahan mencoba menenangkan hati yang sempat dilanda gemuruh.
Aku bergeser menuju tempat sa’i, dan di situlah napas kembali damai. Di antara dinding hijau dan lantai marmer panjang, aku merasa seperti kembali ke diriku sendiri. Sa’i memberikan ruang, memberikan jeda, memberikan kesempatan untuk mengingat bahwa ibadah seharusnya membawa hidup, bukan memaksakan diri menuju celaka. Sebentar kulanjutkan putaran tawaf, gumamku dalam hati.
Dalam perjalanan kecil ini, timbul monolog dalam batinku, “Apakah mengejar banyaknya amal lebih mulia daripada menjaga nyawa yang dititipkan Allah? Bukankah Dia pernah mengingatkan bahwa diri kita adalah amanah? Bahwasanya tidak ada pahala yang lahir dari kesia-siaan atau kesemberonoan? Bukankah keselamatan adalah bagian dari ibadah itu sendiri?
Kusadari, kini bukan lagi saatnya memaksakan diri. Jika Hajar Aswad dulu menjadi langganan bibirku, sekarang cukup menjadi langganan rindu dalam hati. Tak ada yang hilang dari ibadah seseorang hanya karena ia tidak mencium batu hitam itu. Pun tidak bertambah kemuliaan seseorang jika ia nekad mencium namun meninggalkan dunia dalam kondisi tidak siap.
Lalu, monolog muncul kembali dalam pikiranku, “Biarlah amal kurang maksimal, asal pulang utuh. Biarlah pahala sederhana, asal keluarga tidak menerima sekadar nama. Di hadapan Ka’bah, kita bukan sedang berlomba-lomba menjadi yang paling tqngguh dan gagah. Kita hanya sedang belajar pulang; tentunya pulang dengan selamat, pulang dengan hati yang tunduk, pulang dengan kesadaran bahwa Allah lebih mencintai hamba yang menjaga dirinya daripada yang membinasakan diri atas nama ibadah. [HTB-JT]
Mekah, 14 November 2025
Pk. 13..30 WAS
