Oleh : Dev Seixas 1125
Suatu hari aku sudah kehabisan akal pikiran bukan akal Budi. Aku hampir kehabisan tenaga bahkan kebutuhan hidup untuk terus menulis.
Capek rasanya orang-orang yang kita kenal dalam hidup selalu mencari pembenaran selama kurung wantu mengenal kita. Mereka selalu memposisikan kita garis yang salah dan mencari pembenaran dari setiap relasi yang kita jaling.
Hidup di tepian Danau Tasi-Tolu, Comoro, Dili Timor-Leste duduk di atas puncak memandang ke Danau kapan ide-ideku yang ada, berhenti menyapaku biar aku hidup lebih tenang dan mencari lagi pekerjaan yang lain.
HP rusak, LAPTOP rusak hilang kepercayaan terhadap orang-orang yang aku kenal, bahkan yang memberikan kepercayaan kepadaku, karena berpikir sosok mereka bukan benar-benar tulus jadi kawan, akan tetapi mencari pembenaran diri melalui diri kita sendiri.
Bukan saja orang jauh saja, melainkan orang dekat juga yang selalu beradegan seperti drama-drama dalam scrip film yang aku nonton.
Capek, ujarku dalam hati dan pikiran. Terkadang mereka berharap kita jadi orang sukses, terkadang mereka bertopeng di balik harapan mereka ke kita baik dekat maupun jauh.
Terkadang mereka yang memotivasi, terkadang pula mereka yang menjatuhkan lagi kita bahkan mulut mereka selalu mengeluarkan suara merdu bagai madu, saat berbahasa akan tetapi pada kenyataannya mereka adalah manusia bertopeng.
Aku berpikir sepanjang bulan sambil memandang ke arah Danau Tasi-Tolu tempat aku menetap. Aku sadar biaya kontrakan belum bisa aku lunasi, biaya makan minum juga terkadang sulit, bahkan aku sering dapat bantuan dari teman kecilku Rio Soares, sahabat tebaikku mama Okan, Ibu Elvira, Kaka Mena dengan Sang Suami, Mama Marcela, Mama Qcau dan Mama Laura, sekalian adik-adikku yang ada di England juga kakak aku Elizet.
Itu semua karena aku tidak pernah malu, pada apa yang sedang aku alami dalam hidupku. Aku tidak mencari pembenaran diri semata, dari orang-orang yang aku kenal semata dalam hidup. Aku hanya ingin agar semua orang sadar bahwa, tiada relasi yang akan bertahan sepanjang sejarah, kehidupan kita sebagai manusia. Akan amal kebaikannya seseorang yang kamu kenal di setiap derap langkah tentu akan selalu melekat dalam sukma.
Tanah menjadi kering, tak ada air di rumah, debu-debu makin tebal mengundang udara. Musim panas mulai dekat tinggal sebulan lagi, rencana kepergian dari orang-orang yang ingjn salary tinggi ke negara lainpun terus berlalu lalang di hadapanku.
Hmmm rasanya capek mau menulis, harus menunggu putraku tidur dan bermimpi indah, agar ketika aku ambil HP ia tak bisa melihat, karena keadaan Laptop rusak lagi. Rasa malas tidak pernah ada di kampus hanya sedikit capek karena harus menabung ide kelamaan di benak, dimana tak ada fasilitas untuk mengeluarkan ide agar dunia membaca.
Jika dalam skala waktu beberapa menit atau jam aku telah menulis bahkan merangkai berapa judul tiap hari karena ide atau hasil imajinasi akan hidup ini terus bertumpuk. Terkadang emosiku lampiaskan sama putra dan putriku karena masalah HP.
Terkadang aku harus sadar jika anakku sudah remaja, butuh berkomunikasi dengan kawan maupun lawan, apalagi di masa puber, tentu komunikasi penting bagi putraku dengan sang kekasih hati atau teman- teman dekatnya.
Terkadang berteriak pada putriku, melampiaskan amarahku, namun ada suara-suara manis dari adik Sofi memberi salam, melihat Selly praktis literasi English yang akan ke England, melihat Catalya lewat mengucapkan salam dengan bahasa inggris “Good Afternoon Teacher” melihat Laura berjalan ke arahku, melihat Marcela dan Aje datang memanggilku ibu buat apa?
Melihat Abesi dan Acau bermain dan si kecil Talita yang datang “Ibu punya mama” yang sering buat aku tertawa sendirian, Tisya dan melati yang berlalu lalang ke kios juga Felly yang diam-diam datang dan berkata, “ibu aku bawa air bersih, juga Alya, Noel yang datang cari Jack, Alya dan Mona yang saling mencari, jika kangen ayah dan ibu tinggal ke rumah kakak Mena dengan sang suami sambil bercanda.
Tersadar dari kejutan kecil oleh nada suara dari mama okan lewat telefon, yang ajak kami mau ke suatu tempat aku kaget bahkan terkejut bahwa hidup itu bukan pilihan, akan tetapi proses.
Tiba-tiba muncul satu nomor WHATSAPP baru yang mengucapkan, “Selamat Sore Bu Dev Apa kabar?” Dengan foto profil yang duduk membelakangi.
“Siapa gerangan sosok gadis cantik ini,” tanyaku dalam hati. Muncul lagi satu chat baru, maaf bu ini aku NEDIFANI. Aku bingung karena nama yang tak asing buat aku, tapi lupa di mana aku pernah mendengar nama itu, bahkan terasa familiar bangat.
Maaf, aku ambil nomor ibu di pak Ze…ujarnya. Teringat jelas sosok remaja yang fotonya tertera di label profil WhatsApp tersebut. Aku langsung membalasnya “Kabar ibu baik” singkat saja jawaban ibu.
Belum dapat jawaban balik dari hasil chat. Malam harinya ia membalas namun aku ketiduran karena capek akibat terlalu banyak kepikiran karena ide makin bertumpuk. Keesokan harinya ketika siang NEDIFANI membalas chat ibu, dengan mengucapkan selamat sore.
Langsung NEDI berkata, Bu aku juga berkeinginan untuk jadi seorang penulis seperti ibu Dev. Tiba-tiba aku sadar, apakah ini jawaban Tuhan untuk pertanyaanku? Aku yang memilih untuk berhenti menulis, tiba-tiba munccul remaja cantik berciri-ciri gadis Meksiko ini, justru hadir ingin seperti ibu Dev.
Sedangkan sudah seminggu justru duduk dan berpikir untuk memilih karier lain dan sempat berdoa sambil bertanya pada Tuhan, agar memberikan jawaban, justru sebalikannya yang terjadi. Tuhan menjawabku dengan kehadiran Nedi remaja cantik berwibawa tersebut.
Setiap kesempatan selalu saja terjadi demikian, jadi di saat aku berkesempatan untuk bertanya pada Tuhan agar memberikanku karier, yang lain muncul lagi jawaban dari individu lain, yang mengaku ingin seperti diriku.
Apakah mereka bisa, seperti juga Ibu Elvira Ximenes, Pak Emi Santos, di mana, di saat aku mencoba untuk kegiatan pengiatan literasi ia justru berpesan lagi dengan jawaban yang bertolak belakang, yakni “Boa tarde Bu Dev”.
Terima kasih atas kebaikanmu, ketabahanmu, ketegaranmu, komitmenmu, kegigihanmu. Tetaplah jadi lilin bagi generasi penerus bangsa ini, dalam Dunia Literasi menulis, Terima kasih atas suportmu hingga Aku naik daun, menggema juga di angkasa, menembus batas negara, lewat Bengkel Narasi. Tetaplah Menjadi guru Kehidupan…🌹
Kata-kata yang mengandung energi yang selalu menarikku kembali ke duniaku pengiat Literasi sama halnya dengan Nedi, bahwa, ia ingin, saya siap bergabung ibu, saya dengan keinginan saya sendiri untuk menjadi volunteer di tempat ibu.
Karena Nedi juga memiliki cita-cita untuk jadi seorang penulis dan tentu saja, saya sebagai panutan baginya, tantang Nedi, apakah ia bisa membuktikan pada dirinya serta membuktikan ucapannya atau tidak? Karena ibu Dev butuh generasi kreatif, bukan generasi pecundang yang berlabel Sertfikat, akan tetapi bagai Tong kosong tanpa sebuah pembuktian nyata.
Perlahan-lahan aku menyadari bahwa apapun yang terbaik buat kita, terkadang kita ingin mengabaikannya, akan tetapi jika apa yang saat ini kau ada adalah takdir Tuhan, ketika kau beniat meninggalkan yang terjadi. Justru ia Tuhan akan terus membuat kamu berbalik ke arah itu seperti halnya keputusanku.
Jadi aku mungkin harus konsisten bahwa satu dari 1000 praktisi yang kita didik saja yang berminat mengikuti jejakmu saja sudah cukup buat kamu, karena sejarah kita butuh dilanjutkan oleh satu orang dari pada banyak orang tapi beda narasi.
Dili, 30 April 2025
