Tak ada dalam memori hidupku “cinta monyet”; tak pernah benar-benar mengenal riuh cinta remaja. Hidupku dahulu adalah lorong sunyi yang dipenuhi buku-buku, target, dan jam-jam panjang menahan diri. Sementara kawan-kawan memetik bunga kasih sayang. Kupilih menanam disiplin belajar. Gejolak jiwa remaja kubiarkan berlalu seperti angin; belajar kupeluk seperti takdir.

Pada tahun yang jauh, medio 1993, Allah mempertemukan jodoh yang baru kukenal kurang satu bulan. Pertemuan itu bukan oleh gemuruh pesta, melainkan oleh kesenyapan pilihan. Seorang calon dokter, sederhana, “smart and humble”, namun teguh, datang sebagai jawaban yang tidak kucari dengan kata-kata. Ia hadir seperti pagi, tak berisik, namun memberi cahaya terang.

Kami membangun mozaik mahligai rumah tangga bukan dari janji yang berkilau, melainkan dari kebiasaan yang standar. Bata-batanya adalah kesabaran; semen pengikatnya adalah saling percaya. Atapnya doa yang setiap malam kami bentangkan agar hujan hidup tak menembus dada.

Tiga dasawarsa berlalu, waktu mengajariku bahwa cinta bukan kembang api. Ia api perapian: kecil, hangat, dan harus dijaga. Ada hari-hari dingin ketika bara hampir padam, namun tangan kami tak pernah lupa menambahkan kayu.

Allah menitipkan dua anak perempua, dua mata air cinta yang menumbuhkan makna. Dari mereka, kami belajar menundukkan ego dan menegakkan harap. Dari tawa mereka, rumah menemukan suara. Dari air mata mereka, kami menemukan arah.

Kini, ada rahasia yang ingin kuucapkan tanpa malu lagi, aku selalu jatuh cinta berkali-kali. Jangan salah sangka dulu, bukan pada wajah-wajah yang berlalu, bukan pada cahaya yang singgah. Aku jatuh cinta berulang kali pada perempuan yang sama.

Setiap pagi, saat ia membalut rambutnya dengan hijab dan menyiapkan diri, hatiku kembali belajar bergetar. Setiap malam, saat lelah ia sandarkan pada sunyi, aku kembali paham arti pulang. Cinta datang bukan karena hal baru, melainkan karena ketekunan memandang yang lama.

Ia, Dokter Jum, ibu anak-anakku mengajarkanku bahwa keindahan tak selalu muda. Ia matang, seperti buah yang dipetik pada waktunya. Rasanya tak meledak, namun menyehatkan jiwa.

Ada hari aku jatuh cinta pada caranya mendengar; hari lain pada caranya diam. Ada hari aku jatuh cinta pada ketegasannya, hari lain pada kelembutannya yang tak meminta panggung. Begitulah cinta bekerja, berubah wajah, tak berubah nama dan rasa.

Jika dahulu aku menunda birahi demi cita-cita, kini aku mengerti hikmahnya. Allah rupanya menabungkan getar itu agar kubuka di usia dewasa, saat tangan sudah siap memeluk tanpa menggenggam, dan hati siap memberi tanpa menuntut.

Cinta bukan peristiwa sekali jadi. Ia latihan harian, seperti doa yang diulang agar maknanya menempel di dada. Jatuh cinta berkali-kali adalah anugerah bagi mereka yang bertahan, yang memilih tinggal ketika pergi tampak mudah.

Biarlah orang menyebutku terlambat mencinta, dulu digelari “perjaka ting-ting”. Aku tersenyum, sebab aku tahu bahwa cintaku tidak terlambat, justru ia tepat waktu. Setiap hari aku jatuh cinta dan setiap hari aku bangkit, pada perempuan yang sama, di rumah yang sama, dengan syukur yang semakin lapang. [HTB]

Makassar, 22 Januari 2026
Pk. 12.07 WITA

(Visited 12 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.