Langit di atas Kecamatan Sutera masih hitam pekat. Bunyi ombak dari kejauhan sesekali terdengar samar, beradu dengan suara jangkrik di rimbunnya pohon pala.

Arif mendaki tangga kayu Surau Loteng dengan hati-hati. Setiap pijakannya menghasilkan bunyi kerot-kerot yang memecah kesunyian Koto Merapak.

Di atas, Ustadz Nofri sudah menunggu. Beliau duduk bersandar di tiang tengah yang terbuat dari kayu jati tua yang sudah menghitam dimakan usia.

Panggilan Sebelum Azan

“Lah tibo kau, Rif?” tanya Ustadz Nofri pelan. (Sudah datang kamu, Rif?)

“Alhamdulillah, Ustadz. Tapi… di bawah tadi Arif maraso ado nan maikuik-an, Tadam,” jawab Arif sambil mengatur napas. (Tapi di bawah tadi Arif merasa ada yang mengikuti, Ustadz.)

Ustadz Nofri hanya tersenyum tipis. Beliau bangkit dan memberi isyarat agar Arif berdiri di belakangnya.

“Sumbayanglah dulu. Jan dikana bana nan di balakang tu. Awak di rumah Allah, indak usah takuik.” (Sholatlah dulu. Jangan terlalu diingat yang di belakang itu. Kita di rumah Allah, tidak usah takut.)

Saf yang Bertambah di Keheningan

Saat Ustadz Nofri mengangkat takbir, suasana berubah drastis.

Angin kencang tiba-tiba bertiup dari celah-celah papan dinding surau, membawa aroma laut bercampur wangi bunga melati yang sangat menusuk.

Arif mencoba khusyuk, namun telinganya menangkap suara srat-srut di atas lantai kayu. Itu suara kain sarung yang bergesekan dengan lantai.

Satu demi satu, saf di samping Arif terasa terisi. Ia bisa merasakan hawa dingin dari “sosok” yang berdiri tepat di sebelahnya.

Ketika masuk ke rakaat kedua, saat Ustadz Nofri membaca ayat suci dengan langgam yang menyayat, Arif mendengar suara amiin yang sangat besar.

Suara itu bukan hanya dari mulutnya, tapi seperti ribuan orang yang menyahut dari kolong surau hingga ke langit-langit loteng.

Selesai salam, Arif memberanikan diri melirik ke samping melalui sudut matanya.

Ia melihat barisan sosok bertubuh tinggi besar dengan pakaian putih yang tampak kusam, seperti kain kafan yang sudah lama terkubur. Wajah mereka tidak terlihat, hanya berupa gumpalan kabut hitam.

“Jan manoleh, Rif! Zikir!” tegur Ustadz Nofri dengan nada rendah namun tegas.

Arif segera menunduk, jantungnya berpacu kencang. Ia mendengar langkah-langkah berat menuruni tangga kayu satu per satu, namun anehnya, tidak ada bunyi pintu bawah terbuka.

Setelah keadaan benar-benar sepi dan azan subuh dari masjid tetangga mulai terdengar, Ustadz Nofri menepuk bahu Arif.

“Itu tadi ‘Urang Nan Ampek Puluah’, Rif. Penjaga nagari kito nan tetap setia sumbayang di surau ko sajak zaman puyang dulu,” jelas Ustadz Nofri sambil menunjuk ke arah tiang tengah yang tampak basah, seolah-olah baru saja terkena percikan air wudhu.

Arif terdiam. Di lantai kayu yang tua itu, ia melihat jejak kaki basah yang sangat besar, mengarah ke jendela yang terkunci rapat.

Di Koto Merapak, waktu subuh bukan sekadar ibadah, tapi saat di mana penghuni alam nyata dan alam gaib bersujud di bawah atap yang sama. []

(Visited 14 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.