Di ujung jalan setapak yang nyaris ditelan ilalang, berdiri sebuah gubuk yang seolah-olah sedang berbisik dengan angin. Dindingnya adalah susunan bambu yang telah berubah warna menjadi abu-abu kusam, dan pintunya selalu berderit pilu setiap kali tersentuh udara. Namun, bagi semesta, gubuk itu adalah titik paling terang di muka bumi.

Setiap kali rembulan mencapai puncaknya, Kakek Mansur akan duduk bersila di atas tikar pandan yang sudah koyak di beberapa sudut. Di hadapannya, sebuah Al-Qur’an tua dengan kertas yang mulai menguning terbuka lebar.

Begitu lisan sang kakek mulai bergerak, suasana berubah drastis: Udara yang tadinya dingin menggigit, mendadak terasa hangat seperti pelukan ibu. Celah-celah kayu yang lapuk tidak lagi membocorkan gelap, melainkan memancarkan pendar keemasan yang lembut—seolah-olah dinding itu terbuat dari cahaya cair. Hening bukan lagi berarti kosong, melainkan sebuah ruang yang penuh dengan kehadiran yang tak terlihat namun terasa agung.

Suatu malam, Arif berdiri di ambang pintu yang terbuka sedikit. Ia terpesona melihat bagaimana debu-debu yang beterbangan di dalam gubuk itu tampak seperti serbuk intan yang menari mengikuti irama tilawah.

“Kek,” bisik Arif setelah Kakek Mansur menutup mushafnya dengan kecupan lembut.

“Mengapa cahaya di sini terasa berbeda? Seolah-olah seluruh bintang turun dan bersembunyi di balik dinding bambumu.”

Kakek Mansur menatap Arif, matanya bening meski selaput katarak mulai mengintip. “Nak,” jawabnya lirih, “Rumah yang sunyi dari Al-Qur’an adalah kuburan sebelum waktunya.

Ia gelap, meski lampunya seribu watt.” Ia mengusap sampul kitab suci itu dengan jemari yang gemetar.

“Cahaya ini bukan milikku. Al-Qur’an adalah nur (cahaya). Jika kau membacanya dengan hati yang pecah, cahaya itu akan merembes keluar melalui retakan-retakan hatimu, lalu menyinari seisi ruangan. Pondok ini hanya meminjam kilauannya.”

Menjadi Bintang di Bumi
Arif tertunduk. Ia membayangkan gedung-gedung tinggi di kota yang lampunya gemerlap namun hatinya gersang. Di sini, di tengah kemiskinan yang nyata, ada kekayaan yang meluap hingga ke langit.

Pondok tua itu tidak pernah diperbaiki secara fisik. Atapnya masih bocor jika hujan deras, dan tiangnya masih miring. Namun, bagi siapa pun yang melintas dengan hati yang terbuka, mereka akan melihat sebuah mercusuar ruhani yang tak akan pernah padam selama kalam Tuhan masih menggema di sana.

(Visited 72 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.