Merdeka Belajar. Tagline yang sudah tidak asing ditelinga kita semua, karena ada banyak platform media yang memberikan pengetahuan tentang hal tersebut. Merdeka Belajar adalah kurikulum yang ke 11 kalinya diubah oleh penentu kebijakan, sejak Indonesia merdeka.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menjadi pelopor perubahan tersebut. Merupakan suatu langkah untuk mentransformasikan Pendidikan, demi terwujudnya Sumber Daya Manusia, yang unggul guru-gurunya, muridnya, sekolahnya dan yang terpenting orang tuanya. Sejatinya Pendidikan bukan hanya tanggung jawab Guru dan Murid di Sekolah. Tetapi tanggung jawab semua pihak, termasuk orang tua murid.
Episode kebijakan Pemerintah tersebut telah di implementasikan, hingga episode ke 11, yaitu program Kampus Merdeka Vokasi. Seperti kata Mas Menteri Nadiem, bahwa diharapkan terintegrasinya Pendidikan tinggi vokasi dengan dunia kerja demi menghasilkan lulusan yang lebih kompeten, produktif, dan kompetitif.
Itu kebijakan Mas Menteri, setelah menindaklanjuti arahan Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Dikutip dari blog kemdikbud.go.id yang menetapkan empat pokok kebijakan Merdeka Belajar.
Lain hal yang disampaikan oleh Bunda Rosmawati dan beberapa orang hebat panutanku yang hadir. Saat kami duduk berdiskusi di Musholla Pantai Berova, Desa Pitulua. Penghujung Oktober melaksanakan Maulid bersama anggota BN Kolaka Utara.
Kurikulum Kehidupan yang tak akan ada habisnya, adalah Rumah Tangga.
Saking penasarnnya saya mendengarkan, duduk diam tanpa kata menjadi pilihan terbaik yang saya lakukan saat itu.
“Kalau mau sukses maka segeralah menikah, karena ukuran kesuksesan itu tidak bisa diukur tanpa ada pendamping. Takaran kesabaran akan diketahui saat setelah menikah dan berumah tangga, karena didalam rumah tanggalah seribu satu macam ujian, dan setiap orang tidak akan bisa mengukur batas kesabarannya saat tidak pernah ditempah dengan ujian”.
Ucapan Ustadz, KM. Tahfif Rafi, S.H.I menusuk hinggah ke relung hati. Salah satu cara untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat, dan untuk mendatangkan berkah serta pahala adalah dengan menikah. Tidak ada yang bisa membantah itu, terlebih menikah merupakan anjuran bagi yang telah mampu untuk memikul tanggung jawab pernikahan.
Skakmat, untukku dan kepada seluruh pemuda yang masih sendiri belum menikah hingga saat ini. Tidak ada pembelaan, bilang saja BISMILLAH
Menikah untuk saling melengkapi, karena aku saja tak cukup, kamu saja juga tak akan cukup, sempurna itu adalah KITA. Kata Madam Mazrah Yasir Sabri
Begitu banyak quotes yang menerangkan tentang hikmah menikah. Saya tidak bisa membantah setiap ucapan yang tersampaikan, dan itu selalu benar, dan pasti benar.
Pelajaran yang penting adalah:
Kurikulum Kehidupan yang pertama adalah KESABARAN. “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”.
Kurikulum Kehidupan yang kedua adalah IKHLAS. “Ikhlas bersemayan di lubuk hati terdalam, yang tak selesai diukur oleh kata dan mata”. Juga merupakan suatu sikap yang menjadikan niat hanya untuk Allah SWT dalam melakukan amalan ketaatan, dan amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT bukan kepada pujian dari manusia.
Genggamlah keduanya, dan berdamailah dengan semua keaadaan yang telah terjadi. Tidak ada yang kebetulan karena semua telah diatur oleh Yang Kuasa. Sabarlah, karena kesempatan terbaik selalu datang kepada orang yang BERSABAR. Ikhlaslah, karena orang yang kuat bukan mereka yang selalu jadi pemenang, tetapi mereka yang menerima dengan IKHLAS ketika mereka jatuh.
#AH

Luar Biasa. Bersiaplah untuk memasuki kurikulum kehidupan.
InsyaAllah Kak,. Bismillah