Oleh: Dr. H. Tammasse Ballah, M.Hum.
Kisah Malin Kundang, cerita rakyat Sumatra Barat ini seringkali dianggap sebagai pesan kepada anak-anak agar jangan melawan orang tua atau jadi anak durhaka. Sejak kecil, umumnya orang menganggap demikian. Setelah dewasa dan menjadi orang tua, barulah terpikir sudut pandang lain dari cerita ini. Sebelum berbagi pandangan dan pendapat, perlu dituliskan terlebih dahulu kutipan cerita asli Malin Kundang.
Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Tinggallah Si Malin dan ibunya di gubuk mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, bahkan sudah satu tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Dengan demikian, ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Malin termasuk anak yang cerdas, tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari, ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung dan lengannya luka terkena batu. Luka tersebut berbekas di lengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada sang ibu. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang. Tetapi, karena Malin terus mendesak, akhirnya sang ibu merestui walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya.
“Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini,” ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan, sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut. Ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut. Akhirnya, kapal yang dia tumpangi terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa terdekat. Sesampainya di sebuah desa, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat setempat. Dia pun menceritakan kejadian yang menimpanya.
Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, lama kelamaan Malin berhasil menjadi orang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibunya. Sang ibu bersyukur dan sangat gembira mengetahui anaknya telah berhasil. Sejak itu, setiap hari ibunya Malin Kundang pergi ke dermaga, menanti anaknya, siapa tahu pulang ke kampung halaman.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah, disertai anak buah kapal dan pengawal yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggu di dermaga, melihat kapal yang sangat indah itu masuk ke pelabuhan.
Ia melihat ada dua orang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Saat Malin Kundang turun dari kapal, ibunya menghampiri. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka di lengan kanan orang tersebut. Semakin yakinlah bahwa itu adalah Malin Kundang, anaknya.
“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?” katanya sambil memeluk Malin Kundang.
Namun, apa yang kemudian terjadi? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku!” kata Malin Kundang
Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya. Dia malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.
“Wanita itu ibumu?” tanya istri Malin Kundang.
“Bukan. Dia hanya pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku!” sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi durhaka. Ketika kemarahannya memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata, “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi batu!”
Tidak berapa lama kemudian, angin bergemuruh kencang. Badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu, tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan berubah menjadi sebuah batu karang.
Demikianlah kisah Malin Kundang. Selama ini, kita selalu mendengar bahwa Malin Kundang adalah anak durhaka. Malin Kundang yang bersalah. Pesan moralnya agar anak-anak tidak durhaka seperti Malin Kundang dan tidak mendapat azab yang pedih seperti yang dialami Malin Kundang.
Oke, setuju! Anak yang baik tentunya berbakti dan hormat pada orang tuan. Lalukita sebagai orang tua, bagaimana sikap yang baik? Apakah setiap anak yang tumbuh menjadi anak nakal dan durhaka pada orang tuanya murni merupakan kesalahan anak tersebut?
Dalam Al-Qur’an pun disebutkan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah kebanggaan, anak-anak bukanlah aset bagi orang tuanya. Anak-anak adalah ujian bagi orang tuanya. Mental dan akhlak seorang anak adalah murni merupakan bentukan dan hasil didikan orang tuanya. Perangai seorang anak saat sudah dewasa tetap dipengaruhi oleh kebiasaan perangainya semasa kecil.
Dalam kisah di atas, dikisahkan bahwa Malin Kundang kecil adalah anak nakal yang suka mengejar dan memukul ayam. Perlakuan seperti apa yang diterima Malin dari orang tuanya sehingga dia harus melampiaskannya dengan mengejar dan memukul ayam dengan sapu?
Ayam adalah hewan lemah yang jinak terhadap manusia, tidak melawan. Apakah Malin sering menerima pukulan dari orang yang lebih kuat yang dia tidak mampu melawan? Mungkin dari ayahnya atau ibunya? Sedemikian seringnya hingga membentuk dendam yang dia lampiaskan ke ayam. Dendam yang tidak pernah terbayar lunas jika ternyata dendam ini pada orang tuanya sendiri. Masa anak memukul orang tua sendiri? Begitu yang diajarkan.
Lalu, siapa yang mengajarkan Malin untuk mengutamakan rasa malu jika dilihat sebagai anak orang miskin? Rasa malu seperti ini hanya bisa terbentuk melalui didikan selama bertahun-tahun dari kecil. Hanya orang tuanya yang mempunyai kesempatan sebesar itu.
Lalu, siapa yang memberi teladan pada Malin jika merasa kecewa sedikit saja, langsung marah hingga mengeluarkan kutukan? Malin mencontohnya dengan sempurna. Saat dia malu sedikit saja, dia langsung marah-marah. Walaupun pada ibunya sendiri.
Wajarkah jika seorang anak yang dididik untuk mengutamakan ego, dendam kepada orang tuanya, dan malu jadi anak orang miskin di hadapan istri dan anak buahnya sehingga tidak mau mengakui ibu kandungnya sendiri?
Jawabannya WAJAR.
Jika harta dan anak adalah ujian, anak diamanahkan untuk dididik dan akan diminta tanggung jawabnya nanti di hadapan Allah, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas latar belakang tindakan Malin Kundang?
IBUNYA…
Siapa orang yang menutup jalan taubat Malin Kundang untuk selamanya dengan cara mengutuknya menjadi batu?
IBUNYA….
Salah siapa sebenarnya?
IBUNYA
Last but not least, Malin Kundang; apakah cerita anak yang durhaka? Ataukah orang tua yang gagal mendidik anak?
Makassar, 6 Januari 2022
Digali dari berbagai sumber
