Oleh:
Sudirman Muhammadiyah
Dibawakan pada Acara : Seminar Pendidikan Nasional
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Manggarai Barat (PMK-MART) Makassar 2019
Pendidikan Manusia (Pemanusiaan)
Pendidikan adalah proses untuk mengarahkan agar individu menjadi apa yang mereka bisa lakukan. Pendidikan bukan untuk memaksakan atas apa yang mereka tidak ingin lakukan. Adalah sangat tidak tepat untuk mengajarkan monyet terbang di angkasa atau mengajarkan lumba-lumba memanjat pohon.
Mendidik adalah proses memanusiakan manusia (humanis), supaya mereka bisa hidup dengan potensi yang mereka miliki. Materialisme dalam kehidupan terkadang juga telah membutakan hati para orang tua untuk selalu menuntut anaknya selalu berprestasi, mencapai nilai yang tinggi dari sisi akademis agar kelak anaknya mampu bersaing dalam kehidupan.
Tetapi mereka lupa untuk memanusiakan anak-anaknya. Kasih sayang hanya diberikan jika anak-anaknya berhasil mendapatkan nilai yang bagus, tetapi cacian datang bertubi-tubi ketika anaknya terpuruk.
Begitu juga dengan mereka-mereka yang disebut sebagai pendidik, terkadang mereka lupa memanusiakan anak didiknya.
Pemanusian, menurut pandangan aksiologis, selalu menjadi problema pokok manusia, dan kini persoalan itu harus dipedulikan sungguh-sungguh.
Kepedulian terhadap pemanusian seketika membawa kita pada pengakuan terhadap dehumanisasi atau penghilangan harkat manusia, yang bukan hanya kemungkinan ontologism (dasar) melainkan sudah menjadi kenyataan historis. Selagi manusia memahami sejauh manakah dehumanisasi itu, ia bertanya pada dirinya sendiri apakah pemanusian merupakan kemungkinan yang akan lestari.
Dalam sejarah, dalam konteks-konteks nyata serta objektif, pemanusian maupun dehumanisasi merupakan kemungkinan-kemungkinan bagi manusia sebagai makhluk yang belum utuh, yang sadar akan ketidak-utuhan dirinya. hanya pemanusian yang menjadi fitrah manusia. Fitrah ini selalu diinjak-injak, namun justru tiap kali diinjak ia makin diteguhkan.
Ia dikerdilkan lewat ketidakadilan, eksploitasi penindasan, dan kekerasan yang dilakukan oleh penindas; Ia diteguhkan kembali melalui dambaan kaum tertindas akan kebebasan dan keadilan, serta dikuatkan kembali lewat perjuangan kaum tertindas itu untuk memulihkan kembali kemanusian mereka yang telah hilang.
Dehumanisasi keadaan kurang dari manusia atau tidak lagi manusia bukan hanya menandai mereka yang kemanusiannya telah dirampas, malainkan (dalam cara yang berlainan) menandai pihak yang telah merampas kemanusian itu, dan merupakan pembengkokan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih utuh.
Distorsi atau penyimpangan ini terjadi dalam sejarah; namun ia bukanlah fitrah sejarah. Bila kita menganggap dehumanisasi sebagai fitrah sejarah, kita akan terbawa ke sinisme atau keputusasaan menyeluruh.
Perjuangan untuk meraih pemanusian, perjuangan untuk emansipasi, demi menaklukan keterasingan, demi peneguhan manusia sebagai pribadi, akan kehilangan makna bila dehumanisasi diakui sebagai fitrah sejarah.
Perjuangan menjadi mungkin karena, dehumanisasi meski merupakan fakta sejarah bukan takdir manusia melainkan produk tatanan yang tidak adil yang melahirkan kekerasan para penindas, yang pada gilirannya mengubah kaum tertindas menjadi kurang dari manusia.
Karena dehumanisasi adalah pembengkokan cita-cita untuk menjadi manusia yang lebih utuh, cepat atau lambat kaum tertindas akan bangkit berjuang melawan mereka yang telah mendehumanisasikan kaumnya. Agar perjuangan ini bermakna, kaum tertindas jangan sampai, dalam mengusahakan memperoleh kembali kemanusian mereka, berubah menjadi penindas kaum penindas, melainkan mereka musti memanusiakan kembali.
Pendidikan kaum tertindas, dijalankan oleh kemurah-hatian otentik, kedermawanan humanis, menampilkan diri sebagai pendidikan manusia. Pendidikan yang berawal dari kepentingan–kepentingan egoistis para penindas, yang membuat kaum tertindas jadi objek-objek humanitarianisme, melestarikan dan memapankan penindasan.
Pendidikan seperti itu adalah alat mendehumanisasikan manusia. Inilah sebabnya pendidikan kaum tertindas tidak bisa dikembangkan atau dipraktikan oleh kaum penindas.
Akan menjadi pertentangan maknanya sendiri bila penindas bukan sekedar membela tapi betul-betul menerapkan pendidikan yang membebaskan yang pada akhirnya memanusiakan kembali manusia.
Pendidikan bukanlah sebuah proses dimana manusia dijadikan menjadi ‘buruh’, akan tetapi pendidikan menjadikan manusia berpikir kreatif menjawab permasalahan masyarakat dengan pengetahuan yang dimilikinya karena seyogyanya pendidikan tidak akan membawa manusia tidak mengenal lingkungan sekitar, orang-orang sekelilingnya, dan kearifan lokal berupa kebudayaan daerah yang begitu luhur.
Pada kenyataannya sekarang, pendidikan telah membawa manusia menjadi manusia ‘modern’ yang beradab. Sedangkan, peradaban tempat kita tinggal telah mengembangkan orang-orang menjadi hiper-sensitif, selalu dilanda kecemasan, kasar, pemarah, hanya memikirkan diri sendiri, mengagungkan rasionalitas seraya melakukan tindak paling irrasional dengan jalan Korupsi, apakah Koruptor tidak mengenal pendidikan ?.
Kita memilih kematian semakin tinggi, di mana orang-orang kelaparan bukan karena ketiadaan makanan tapi karena tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Polisi diperkuat berbanding sama dengan kriminalitas yang selalu meningkat cepat, sesuai dengan naiknya angka kemiskinan. Penjara yang semakin padat. Populasi yang sesak. Udara yang rusak. Peradaban yang semakin menunjukan arti dirinya.
- Manusia Berpendidikan
Manusia merupakan makhluk berpendidikan dan makhluk berbudaya. menurut pendapat beberapa ahli bahwa konsep manusia berpendidikan dan manusia berbudaya sama artinya, bahwa manusia yang berpendidikan adalah manusia yang berbudaya. Rumusan ini dianggap benar karena lahir dari pengertian bahwa pendidikan adalah aspek dari kebudayaan.
Dengan demikian seseorang yang telah berkembang sesuai dengan kebudayaannya adalah orang yang juga memperoleh pendidikan yang bertujuan sama dengan perkembangan pribadi di dalam kebudayaan di mana pendidikan itu berlangsung. Sebenarnya konsep tentang keduanya dapat kita bedakan, walaupun keduanya tidak bisa kita pisahkan.
Manusia berpendidikan (Educated Man) seringkali diartikan sebagai manusia yang telah berkembang kemampuan intelektualnya karena faktor pendidikan (Sekolah).sedangkan Manusia yang berbudaya adalah seseorang yang menguasai dan berprila ku sesuai dengan nilai-nilai budaya, khususnya nilai-nilai etnis dan moral yang hidup dalam kebudayaan masyarakat. Seseorang yang berpendidikan tinggi dan luas, namun hidupnya tidak bermoral maka orang yang demikian dianggap orang yang berpendidikan tetapi tidak berbudaya.
Pendidikan bukan sekedar proses transmisi pengetahuan dari seseorang kepada yang lainnya (transmiting the message from one people to another), dimana pendidikan semacam itu tidak lebih dari upaya doktrinisasi dogma-dogma yang mengarah pada keterpaksaan kesadaraan, lebih jauh pendidikan merupakan ikhtiar transformasi tindakan yang teraktualisasikan dalam perbuatan yang disadari dan berorientasi nilai.
Sebuah proses penyadaran humanistis yang tidak sekedar intelektual contagion (pewarisan intelektual), melainkan pula memberikan ketenangan batini sehingga berimplikasi dalam kehidupan sosial-nyata.Dewasa ini, sistem pendidikan yang dikedepankan kiranya belum mampu menjawab tantangan zaman dalam mewujudkan karakter masyarakat belajar.
Sebuah masyarakat yang memahami dan mengamalkan apa yang diketahui dan diyakininya dalam kehidupan nyata. Artinya, setiap pengetahuan yang tercerap mampu terjawantahkan dalam setiap dimensi kehidupan dan bukan hanya sekedar “pepesan kosong” yang manakala berbunyi tidak bermakna.
Adalah sebuah keharusan untuk bangsa Indonesia untuk mulai mengkaji, menganalisis dan merumuskan sebuah konsepsi pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsa ini.
Institusi pendidikan modern mengadopsi pemikiran ini dalam rangka “mencetak” manusia yang berpendidikan dan berbudaya. Bahwa faktor gen (bawaan), sering dibahasakan dengan bakat dan minat, yang sudah dibawa sejak lahir akan berinteraksi dengan faktor lingkungan.
Keduanya akan diolah sedemikian rupa sehingga diharapkan mampu menjadikan anak manusia yang mumpuni, beradab dan berbudaya.Namun, dengan semakin materialistisnya institusi pendidikan modern saat ini akankah mereka yang cerdas secara genotif, namun miskin, dapat mengolah dan mengolaborasi dengan faktor lingkungan didalam sebuah institusi pendidikan yang biayanya selangit?
Benarkah masih ada kesetaraan kesempatan (egaliterarian) berpendidikan? Jika demikian adanya, maka misi dan makna pendidikan sebagai wahana untuk memanusiakan manusia dan membebaskan manusia sudah tidak relevan lagi.
Meskipun melangitnya biaya pendidikan pada institusi pendidikan modern adalah lebih pada alasan fasilitas sarana-pra sarana penunjang proses pengajaran pelaksanaan pendidikan harus dikembalikan kepada hakikatnya. Saat ini, pendidikan hanyalah mesin pencipta tenaga kerja bagi pasar yang rakus dan kejam. Sekolah-sekolah menjanjikan lulusannya akan mudah mendapatkan pekerjaan.
Manusia telah direduksi begitu rendahnya sebagai robot pekerja. Manusia telah alpa bahwa martabat bukan diukur dari banyaknya uang dan tingginya pendidikan, ataupun mulusnya karir seseorang, martabat dibangun dari keluhuran nilai yang dijalankan setiap hari.
Manusia bukan sekedar mesin atau robot yang bisa bekerja, kawin, makan, minum, nonton sinetron dan tidur. Manusia jauh lebih mulia daripada itu.
Manusia adalah wakil Tuhan di bumi. Dan pendidikan haruslah membuat manusia menyadari dan menghidupi kemuliaannya ini.Sebagai wakil Tuhan, manusia membentuk budaya. Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia diberikan daya kreatifitas untuk berproduksi secara bijaksana, bukan secara rakus.
Manusia mengelola alam, bukan merusaknya. Dalam hidup dengan sesamanya, bersikap hormat dan mengasihi, bukan dengan diskriminasi dan penindasan. Mengusahakan perdamaian, bukan menyulut peperangan. Sebagai pemegang otoritas, manusia menegakkan keadilan dan menjalankan hukum.
H.A.R Tilaar dalam bukunya Manifesto Pendidikan Nasional, mengungkapkan hakikat pendidikan adalah proses memanusiakan manusia yaitu menyadari akan manusia yang merdeka. Manusia yang merdeka hidup membudaya. Pendidikan harus mendorong manusia, yang dibesarkan dalam habitusnya, untuk menciptakan dan merekonstruksi budayanya itu sendiri.
Salah satu tujuan pendidikan adalah Humanis (memanusiakan manusia)
- Memanusiakan Manusia (Humanisasi)
Pendidikan secara umum bertujuan membantu manusia menemukan akan hakekat kemanusiaannya. Maksudnya, pendidikan harus mampu mewujudkan manusia seutuhnya.
Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap manusia untuk mampu mengenal, mengerti dan memahami relitas kehidupan yang ada di sekelilingnya. Dengan adanya pendidikan, diharapkan manusia mampu menyadari potensi yang ia miliki sebagi makhluk yang berfikir.
Proses berfikir manusia akan menemukan eksistensi kehadirannya sebagai makhluk yang telah diberi akal oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia baik dalam bentuk formal maupun informal. Pendidikan dalam bentuk formal adalah pengajaran, yakni proses transfer pengetahuan atau usaha mengembangkan dan mengeluarkan potensi intelektualitas dari dalam diri manusia.
Intelektualitas dan pengetahuan itupun belum sepenuhnya mewakili diri manusia. Oleh karena itu, pendidikan bukan hanya sekedar transfer of knowledge atau peralihan ilmu pengetahuan semata, akan tetapi dengan adanya pendidikan diharapkan peserta didik mampu mengetahui dan memahami eksistensi dan potensi yang mereka miliki.
Di sinilah akhir dari tujuan pendidikan, yakni melakukan proses “humanisasi” (memanusiakan manusia) yang berujung pada proses pembebasan. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa manusia dalam sistem dan struktur sosial mengalami dehumanisasi karena eksploitasi kelas, dominasi gender maupun hegemoni budaya lain.
Oleh karena itu, pendidikan merupakan sarana untuk memproduksi kesadaran dalam mengembalikan kemanusiakan manusia, dan dalam kaitan ini, pendidikan berperan untuk membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasyarat upaya untuk pembebasan.
Jadi yang dimaksudkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia adalah pendidikan mengantarkan peserta didik menuju kematangan dan kedewasaan rohani dan jasmani sehingga peserta didik dapat menjadi manusia yang benar–benar sempurna.
Mendidik bukan menciptakan mesin-mesin manusia. Dalam istilah Jurgen Habermas disebut sebagai hegemoni ratio instrumentalis. Sistem pendidikan yang digelontorkan dengan sistem satu sisi mata uang ini, menurut dia, akan menghasilkan output manusia-manusia mekanis yang kering dari nuansa kebasahan ruang diri atau one dimensi man.
Mendidik adalah suatu proses memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia membutuhkan nilai-nilai egaliter dan suasana demokratis.
Saat ini, dengan berbagai dalih, misalnya fobia yang berlebihan terhadap globalisasi, iklim sistem pendidikan kita dibius untuk hanya menghasilkan tenaga- tenaga yang siap pakai dan mampu bersaing dengan negara lain.
Lalu, kita mati-matian mencekoki anak didik dengan pengetahuan dan keterampilan tanpa memikirkan aspek pendidikan moralnya. Dogmanya, yang penting siap pakai dan tak gagap teknologi. Lagi-lagi soal memintarkan manusia menjadi titik mutlak.
Pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja yang siap pakai, pendidikan adalah proses membentuk generasi yang siap memerankan hidup, bukan sekadar siap pakai. Ironisnya, sebagian besar pelaku pendidikan secara sadar lebih mementingkan hal-hal yang bersifat material semata.
Mereka umumnya cukup puas ketika peserta didiknya mampu menyerap pengetahuan dan keterampilan yang mereka ajarkan. Sebaliknya, mereka bersikap skeptis ketika terjadi dekadensi moral pada output yang mereka hasilkan. Lalu membentengi diri dengan teori bahwa rusaknya moral seseorang karena faktor keturunan.
Padahal, akar masalahnya, karena para pelaku pendidikan tidak pernah secara maksimal memberikan pendidikan moral secara baik kepada peserta didiknya.
Dalam sistem pendidikan holistik, proses produksi pendidikan tidak memakai parameter tunggal dalam mengukur keberhasilan. Mesin pendidikan tidak lagi menjadikan peningkatan potensi intelegensia sebagai menara gading. Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing.
Masa depan adalah milik pembelajar-bukan orang yang mengetahui.
Eric Hoffer
Terima kasih,

sudirman Muhammadiyah

Setuju!
Kembang individu sesuai pontensi diri yang dimiliki.
Terimakasih pak atas share ilmunya, sangat menambah wawasan
Ilmunya sangat bermanfaat, dapat menambah pengetahuan dan wawasan, terimakasih
Ilmunya sangat penting.
Terimakasih pak 🙏