Masih pagi buta, Imam sudah muncul di teras kos Baihaqi di Jalan Sahabat Tamalanrea, di tangan kanannya tergenggam beberapa lembar kertas yang dia gulung menjadi seperti tongkat.

“Assalamu alaikuuuum….”

“Waalaikum salam, oeeee anak muda, ada apa ini pagi – pagi sekali sudah muncul?” Jawab baihaqi sambil menyilakan Imam masuk kamar.

“Hehehehe…” Imam langsung masuk dan menggelongsorkan tubuh tambunnya di atas kasur lipat yang masih terhampar.

“Apa gerangan yang membuat penyair kita bisa melek cepat?” Kembali Baihaqi bertanya sambil mengaduk kopi saset.

“Jangan banyak tanya, kalau mau tahu kenapa saya bisa bangun pagi, ikut di sini.” Imam mengangsurkan lembaran kertas yang digenggamnya tadi ke arah Baihaqi yang sudah duduk di depannya.

“Apa ini? Formulir Marhalah Ula?” Selidik Baihaqi.

“Iya Bro, semacam latihan kader tingkat pertama.”

“Perasaan, kita sudah ikut Basic Training di HMI.”

“Beda dong, ini Pemuda Muslimin Indonesia, bukan Himpunan Mahasiswa Islam.”

“Tapi kan sama–sama Islam.”

“Bedalah, satu segmen pemuda, satu segmen mahasiswa.”

Baihaqi terdiam mendengar argumen Imam, dia membolak–balik formulir yang ada di tangannya.

“Sebetulnya, saya sudah malas ikut–ikut begini. Coba jelaskan dulu, kenapa saya harus ikut.” Baihaqi mengembalikan formulir di tangannya ke Imam.

“Kayak tidak mengerti saya saja, lebih baik saya disuruh bikin puisi dari pada menjelaskan begini.” Imam menyeruput kopinya.

“Jadi?” Baihaqi menggaruk kepala.

“Apakah yang mau kau tahu?”

“Ya tentang Pemuda Muslimin Indonesia lah.”

“Nanti juga dijelaskan dalam Marhalah Ula.”

“Jelaskanlah sedikit, haruskah saya masuk tanpa tahu apa yang saya masuki?”

“Biar penasaran toooh…”

Sepanjang hari, Imam di kamar Baihaqi. Dia hanya keluar untuk ikut salat berjamaah di masjid, kebiasaan baru yang membuat Baihaqi heran. Biasanya Imam hanya salat di kamar, itu pun di akhir waktu. Sejak puisi–puisinya di Harian Amanah mulai tergeser dengan kehadiran penulis baru –Feby Triadi, Imam memilih menjadi penyair bohemian. Dia ikut pementasan teater jalanan, membaca puisi di mimbar bebas dan demonstrasi–demonstrasi mahasiswa serta pemogoan buruh. Tapi hari ini, Imam terlihat berbeda di mata Baihaqi.

Selepas salat asar, Imam pamit untuk kembali ke kampus. Sejak terpilih jadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cokroaminoto Makassar, dia lebih memilih tidur di kampus dari pada di rumah. Di kampus, dia isi dengan membina kader–kader BEM untuk berkesenian dan mengasah intelektualitas mereka melalui berbagai diskusi dan kajian terstruktur. Tak lupa, dia memanfaatkan sunyinya dinihari untuk menulis puisi–puisinya.

*     *     *

Pemuda Muslimin Indonesia adalah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) tertua di negeri ini yang didirikan di Yogyakarta pada 25 November 1928 atas prakarsa H. Agus Salim dan tokoh – tokoh Syarikat Islam Indonesia. Ikhtiar ini merupakan realisasi pembicaraan dalam Kongres Pandu Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP) di Mataram awal 1922. Pemuda Muslimin Indonesia dideklarasikan sebagai perluasan ruang gerak dari Jong Islamitend Bond (JIB). Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kepengurusan Pemuda Muslimin Indonesia diisi oleh kader muda Islam yang juga pengurus di JIB.

Penjelasan Kak Zaid saat membawakan materi Sejarah Perjuangan Pemuda Muslimin Indonesia, menjawab tanya Baihaqi kepada Imam tempo hari. Akhirnya Baihaqi memutuskan untuk ikut Marhalah Ula setelah didesak terus oleh Imam dengan alasan bahwa dirinya adalah ketua panitia dan wajib menghadirkan banyak peserta. Sebagai teman yang baik, Baihaqi memutuskan untuk ikut demi membantu Imam, bahkan dia juga menghubungi beberapa temannya agar turut jadi peserta.

“Siapa yang pernah aktif di HMI?” Tannya Kak Zaid.

“Saya, Kak.” Baihaqi mengacungkan jari.

“Saya juga, Kak.” Syaharuddin ikut mengacungkan jari.

“Ada apa dengan HMI, Kak?” Tanya seorang peserta lain, Jayadi.

“Saya cuma mau mengatakan bahwa bagi yang pernah berHMI, tidak akan mengalami hambatan dalam dinamika di Pemuda Muslimin Indonesia.”

“Kenapa bisa begitu, Kak?” Selidik Syaharuddin.

“Ya, itu tadi, Pemuda Muslimin Indonesia dan HMI, sama–sama pelanjut perjuangan JIB. Bahkan Ketua Pemuda Muslimin Indonesia yang pertama adalah Samsuridjal yang juga adalah Ketua JIB, penggantinya pun kader JIB, Muhammad Sardjan.” Terang Kak Zaid.

“Tapi, sebagai aktivis muslim, di manapun kita aktif, kita harus menjaga dan mengedepankan persatuan umat di atas kepentingan kelompok–kelompok. Jangan sampai gerakan kita menjadi ashabiyah. Itulah mengapa kalian akan merasa nyaman berada di sini, karena persatuan dalam umat Islam menjadi program azas kita yang pertama.” Kembali Kak Zaid melanjutkan materinya.

“Mengapa persatuan ini penting, karena inilah yang menjadi problem terbesar umat Islam hari ini selain kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan!” Kalimat Kak Zaid begitu menohok.

*     *     *

“Eh, HMI juga kah?” Tanya Jayadi, sambil mencolek Syaharuddin saat bertemu di ruang makan.

“Iya, saya di Cabang Takalar.”

“Oh, mantap. Saya di komisariat Ekonomi Unhas. Hehehehe….”

“Ada itu aktivis HMI di Ekonomi Unhas yang orang Takalar.” Seru Syaharuddin.

“Rustam dan Isbah pasti.”

“Iya, seangkatan saya di SMA itu.”

“Mereka instruktur di Marhalah Ula ini.”

“Wah, hebat mereka ya?”

“Saya Jayadi.”

“Iya, sudah kenalan tadi di forum, kan?”

“Itu perkenalan formal, yang ini baru sah, hehehehe…”

“Yayaya… Saya Syaharuddin, tapi panggil saja Daeng Bani, biar lebih akrab.”

Keduanya lalu bersantap bersama, menikmati hidangan panitia. Nasi dengan sayur kangkung kekurangan garam dengan dadar telur kelebihan tepung menjadi menu andalah dalam pelatihan–pelatihan, mereka sudah terbiasa makan berjamaah dengan menu sederhana.

“Dapat info dari mana tentang kegiatan ini?” Tanya Jayadi sambil menambah sambal terasi, satu–satunya menu yang paling melimpah.

“Dari Baihaqi, kami sama–sama dari Takalar dan sering main gaple bareng.” Terang Daeng Bani.

“Kalau kamu?”

“Saya juga diajak Baihaqi, juga karena sering main gaple bareng di warung pisang goreng di samping kampusnya, dia kuliah di Cokro, bersama Imam.” Jawab Jayadi.

Keduanya tertawa berbarengan.

“He, apa yang kalian ketawai?” Tiba–tiba Baihaqi datang menghampiri seusai makan.

“Tidak, ini Daeng Bani ternyata suka juga bercerita lucu.” Jawab Jayadi sekenanya.

“Oh, iya. memang banyak bahan ceritanya itu.” Tanggap Baihaqi.

“Imam! Pak Ketua Panitia! Sini dulue…” Teriak baihaqi lagi. Tak lama, Imam sudah duduk di samping mereka bertiga.

“Wah, sudah lengkap berarti…,” seru Jayadi sambil senyum.

“Hush, jangan di sini.” Baihaqi memasang telunjuk di depan bibirnya.

“Lengkap apa ini?” Tiba–tiba Rustam muncul. Mereka seumuran, tapi di Pemuda Muslimin Indonesia, Rustam lebih senior.

“Lengkap sebagai sahabat, senior. Saya dengan Daeng Bani, Baihaqi dengan Imam.” Jayadi menerangkan.

“Oh, begitu. Tapi jangan macam–macam dengan Daeng Bani, pendekar dulu itu waktu SMA, tidak pernah lepas badiknya.” Rustam menunjuk ke arah Daeng Bani.

“Sampai sekarang juga, ini badiknya. Hehehehe…” Tiba–tiba Isbah telah hadir dan meraba bagian pinggang Daeng Bani.

“Woi… Kalau mau reuni, cari tempat lain ya. Ini forum Marhalah Ula.” Seru Imam dengan muka dibuat–buat serius.

“Apami Ketua Panitia, sudah sombong. Puisi dulue….” Ledek Baihaqi.

“Tunggu, saya lagi menyiapkan buku puisi ini, bantu–bantu nanti peluncurannya ya.” Jawab Imam.

“Harus didengar dulu sedikit, kalau bagus, kita bantu.” Ujar Jayadi.

“Nantilah di malam penutupan.”

“Horeee… Pengumuman… Pengumumaaan…. Ketua Panitia mau baca puisi di malam penutupaaaaan…” Teriak Isbah sambil berlalu pergi.

“Sudah, ayo pada masuk, sudah waktunya.” Rustam ikut beranjak.

*     *     *

“Besok malam, bagusnya baca puisi yang mana ya?” Gumam Imam hampir tak terdengar, dia mondar mandir di teras masjid, tangan kanannya menenteng sebuah buku catatan berisi puisi–puisi tulisannya. Ada dua judul yang masuk dalam pertimbangannya, ‘Masa Muda’ atau ‘Meniti Jalan Cahaya’.  Pilihannya jatuh pada puisi ‘Meniti Jalan Cahaya’.

di titian cahaya

di titian tanpa sisi

kami bersama menaja

menuju taman bestari

<<<Sebelumnya Selanjutnya>>>

(Visited 74 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Kasman McTutu

ASN yang mencintai puisi, hujan dinihari, dan embun pagi. Menerbitkan kumpulan cerpen Mata Itu Aku Kenal (LeutikaPrio, Januari 2012), Kumpulan artikel Reinventing Tjokro (Ellunar Publisher, Oktober 2020), dan kumpulan cerpen Adikku Daeng Serang (Pakalawaki, Maret 2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.