Takdir adalah ketentuan dari Sang Pencipta. Kita tak mempunyai kuasa sedikitpun dalam menentukan takdir kita sendiri. Rejeki, jodoh dan maut merupakan takdir-Nya yang tidak pernah kita ketahui.

Kita terlahir dari keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang atau kita terlahir di keluarga yang sebaliknya. Hidup bergelimangan harta atau hidup pas-pasan dan bahkan serba kekurangan. Memiliki wajah yang menarik dan rupawan atau sebaliknya. Terlahir sebagai orang yang jenius atau biasa-biasa saja. Menghadap kepada Sang Kuasa dalam usia yang belia atau berumur. Menikah muda atau bahkan tidak pernah menikah sama sekali. Semuanya itu adalah takdir dari-Nya.

Tanpa kita sadari kadang kita marah, meratapi nasib buruk kita dan menyalahkan siapa saja ketika kita menghadapi berbagai macam cobaan dalam hidup. Kita selalu bertanya, ” Mengapa saya terlahir di keluarga serba kekurangan? Mengapa saya tidak memiliki ayah seperti yang lain? Mengapa saya mengalami semua ini? Padahal itu semua adalah takdir yang telah Tuhan tetapkan atas diri setiap umat-Nya.

Seperti halnya dalam masalah jodoh. Setiap orang telah memiliki jodohnya masing-masing. Baik itu jodoh yang telah bertemu di dunia atau di akhirat. Ketika usia kita telah matang dan sudah seharusnya membangun bahtera rumah tangga tetapi karena takdir kita yang belum dipertemukan dengan jodoh kita sehingga membuat kita selalu dirundung berbagai pertanyaan dari berbagai pihak, ” Kenapa belum menikah padahal yang seusiamu sebagian besar telah menikah bahkan sudah ada anak? Calon sudah ada ya? Kamu mungkin orang pemilih maka jodohnya tidak datang? Umurmu sudah tua apa tidak ada niat untuk menikah? Aahhh pertanyaan yang seperti ini yang membuat hati jadi sedih, jengkel dan ingin marah. Apa kamu tidak mengetahui bahwa setiap dari kami juga ingin merasakan bagaimana rasanya membangun rumah tangga tapi karena takdir Allah yang belum mempertemukan dengan pendamping hidup.

Setelah menikah, pertanyaan tentang hidup kita tidak akan berhenti di titik itu. Setelah setahun, dua tahun menikah, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya tetapi kita belum menimang seorang anak maka pertanyaan selanjutnya akan timbul. “Sudah memiliki anak ya?,
“Mengapa belum punya anak? “Kamu tidak sedang menunda kan? Dan sebagainya. Padahal kita telah bedoa dan berusaha tetapi memang takdir_Nya belum memberikan kita seorang anak. Terkadang juga pertanyaan- pertanyaan itu membuat hati terasa sangat perih.

Setelah perkara anak selesai, akan lanjut kepertanyaan selanjutnya. “Anaknya sudah menikah? Cucunya ada berapa? Dan bla bla bla. Pertanyaan yang tidak ada hentinya.

Selama kita masih bernafas dan denyut nadi masih terasa, pertanyaan tetang hidup kita tidak akan pernah ada hentinya. Mau bagaimanapun kita menjawab setiap pertanyaan tersebut atau kita mewujudkan setiap pertanyaan tersebut, maka pertanyaan selanjutnya akan selalu ada.

Kadang aku berfikir, apakah kita akan terus hidup berdasarkan perspektif orang-orang di sekitar kita. Hidup yang harus terlihat sempurna tetapi tersiksa. Hidup terlihat glamor dengan segala gaya hidup yang mewah tetapi terlilit hutang.

Jika hidup hanya mengikuti perspektif orang lain maka kamu tidak akan pernah menjadi dirimu sendiri. Jadilah versi terbaik dalam hidupmu bukan dalam hidup orang lain. Dengat tidak membawa dan tidak terbawa.

Berhentilah mengomentari kehidupan orang-orang di sekitarmu. Beranggapan hidupmu lebih sempurna dari pada kehidupan orang lain. Hingga kita tidak menyadari bahwa ucapan kita telah menyakiti hati orang-orang di sekitar kita.

Apapun yang terjadi kepadamu dan orang-orang di sekitarmu merupakan takdir yang telah Tuhan tentukan sebelum kita terlahir di dunia. Kita harus selalu berfikir positif untuk semua takdir yang telah Tuhan tetapkan terhadapmu.

(Visited 51 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.