mudik

Mudik atau kembali ke kampung untuk merayakan hari raya Idul Fitri atau Idul Adha bersama keluarga, kerabat dan handai tolan adalah suatu tradisi oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, dan umat Muslim pada khususnya. Setiap kali hari raya, maka orang orang yang tinggal dikota yang memang asalnya dari kampung halaman masing masing akan balik ke kampungnya. Ada yang ke ibukota kabupaten (kota), kecamatan atau desa atau bahkan ke dusun dusun terpencil yang tidak ada listriknya. Sedangkan orang orang yang memang lahir dan besar dikota mungkin akan tetap nyaman berlebaran dikota.

Mudik dengan menggunakan Bus (sumber : jatengnews.id)

Peristiwa mudik di Makassar mungkin tidak seheboh mudik dari dan ke kota kota di Jawa. Di Jawa, peristiwa mudik bisa menjadi laporan khusus media media elektronik (Televisi) dan ditayangkan berjam jam lamanya, sedangkan di Sulawesi Selatan, pemeberitaannya biasa biasa saja. Banyak pengalaman mudik yang saya alami sejak tahun 1970an – 1990an bahkan awal 2000an. Pengalaman mudik yang saya lakukan tiap tahun dari Makassar ke Palattae dan Cenranae. Palattae ke Cenrana hanya berjarak 2 – 3 km saja. Makassar – Palattae berjarak ±250 km kalau lewat jalur selatan melewati beberapa kabupaten yaitu Makassar – Gowa – Takalar – Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba – Sinjai – dan sampai tujuan (Kecamatan Kahu, di Bone bagian Selatan). Jaraknya akan lebih pendek yaitu sekitar ±220an km kalau melewati jalur utara melewati pegunungan dan tepian jurang dan lembah di Camba, kabupaten Maros dengan kondisi jalan berliku dan agak sempit. Pada tahun 1970an sampai awal 1980an, hanya jalur selatan yang digunakan untuk mudik dengan menggunakan bus, dan perjalanan bisa sampai lebih dari 12 jam. Mulai pertengahan 1980an,bus tidak lagi digunakan untuk ke Makassar, tapi lebih banyak tipe mobil keluarga semacam Kijang, atau Panther, karena harus melewati tepian jurang dan pegunungan serta jalanan berkelok-kelok.

(Sumber : tribunnews.com)

Mobil mobil angkutan ini tidak menggunakan karcis, cukup pesan ke sopir kapan kita berangkat atau langsung datang ke terminal. Pada saat bukan musim mudik lebaran, penumpang tidak terlalu banyak dan tidak berdesak desakan. Perjalanan cukup santai dan bisa menikmatinya dengan pemandangan alam pegunungan dan lembah yang menghijau. Tapi saat mudik lebaran tiba, rasa nyaman itu hilang. Penumpang berdesakan, penuh sesak. Mobil angkutan yang seharusnya hanya menampung 7 penumpang, bisa dijejali sampai 10, 11 atau 12 penumpang. Dua baris tempat duduk penumpang dibelakang selalu diisi masing masing 4 orang. Belum lagi barang penumpang yang terkadang meluber sampai ke tempat pijakan kaki.

Penumpang yang muntah karena pusing saat melewati jalanan berliku adalah hal biasa terjadi. Pernah kejadian saat pulang mudik beberapa tahun lalu, 5 diantara 11 penumpang (termasuk anak anak dan remaja) muntah secara bergantian. Terpaksa sopir menghentikan mobil saat tiba di sebuah Masjid yang ada sumurnya untuk bersih bersih. Padahal perjalanan masih lebih 100km lagi. Mobil singgah hanya satu kali disebuah rumah makan dikaki bukit di daerah Camba. Tapi kalau bulan puasa terkadang tidak berhenti sama sekali karena rumah makan tutup. Padahal sebenarnya sopir dan penumpang butuh istirahat melemaskan badan yang duduk berjam jam lamanya. Kalau sudah tiba dikampung halaman, badan pegal pegal, capek dan lelah. Perjalanan mudik tahunan ini sebenarnya menyiksa, tapi kalau dipikir, hanya sekali setahun dan rasa kangen sama keluarga, kerabat dan tetangga di kampung lebih besar sehingga semua kelelahan itu diabaikan saja. Kita para menumpang menerima saja apa adanya, kondisi transportasi negeri tercinta.

Berita TV tentang Mudik (Sumber : youtube)

Peristiwa balik ke Makassar, jauh lebih menyiksa lagi. Barang bawaan penumpang jauh lebih banyak. Banyak yang membawa beras terkadang sampai dua atau tiga karung, pisang satu tandan, kelapa puluhan biji, gula merah (aren), sayur sayuran, krupuk, rengginan, kue kue kering sampai bumbu dapur. Tidak ada kebijakan yang membatasi barang bawaan penumpang seperti penumpang pesawat. Selama masih ada tempat di mobil, biar di atapnya, naikkan saja! Belum lagi kalau ada penumpang lain yang membawa barang beraroma menusuk hidung seperti ikan kering, hasil laut yang dikeringkan, durian atau mangga macang wah….bisa semakin banyak yang pusing dan akhirnya terkadang ada penumpang yang muntah dalam perjalanan. Biasanya jarang ada penumpang yang protes. Bagaimana mau protes, dapat 1 kursi saja sudah syukur.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, peristiwa mudik sudah tidak seheboh zaman dulu. Selain ada bus Damri yang lewat di kampungku (Damri yang dari Makassar ke Sinjai lewat Camba) juga sudah cukup banyak mobil pribadi (mobil plat hitam) yang difungsikan sebagai mobil penumpang. Kok bisa? Entah bagaimana caranya mereka (para sopir) itu bisa mengambil penumpang sementara mobilnya bukan untuk angkutan penumpang. Apakah mereka sudah ada izin dari dari Dinas Perhubungan? Apakah sopir mobil khusus angkutan penumpang, tidak protes?

Selain itu warga di kampungku juga sudah banyak yang memiliki mobil sendiri untuk dipakai mudik. Dengan mobil sendiri, kapan mau mudik dan kapan mau balik lagi semua terserah kepada pemiliknya. Mau singgah kapan dan dimana saja untuk istirahat, juga bisa.

Sampai sekarang (Mei 2022) tak ada satupun “Rest Area” di jalur utara ini yaitu Makassar ke Sinjai atau Bone lewat Camba. Para pemudik biasanya hanya singgah berisitirahat di masjid saja.

Harapanku sebagai orang dari kampung, suatu saat nanti, akan ada transportasi darat yang lebih adem, nyaman, dan manusiawi yang melayani jalur jalur mudik di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Pemerintah juga membangun sarana dan prasarana jalan dan transportasi yang lebih baik. Semoga terwujud. (Sumber Gambar: Suaramerdeka.com dan Tribuntimur.com)

tt

(Visited 74 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Suharman Musa

Suharman Musa, seorang Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.