Oleh: Gusnawati Lukman
Berdamailah dalam lelahmu untuk terus berkarya dalam sunyi. Biarkan orang lain bercerita atau menulis ciptaan atau pencapaianmu.
RIM
Pandemi COVID-19 yang melanda negeri kita tercinta dan meluluhlantakkan sektor kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan sektor lainnya selama hampir dua tahun lebih, juga mengkungkung dirinya sebagai orang forum yang selalu bergerak dari satu forum ke forum yang lainnya untuk menginspirasi dan menyebarkan kebaikan kepada sesama. Semua orang merindukan sosoknya yang sudah sekian lama meninggalkan pecintanya yang selalu haus guyuran ilmu dan semangat dalam melakukan kebaikan di universitas kehidupan yang maha luas.
Namun, meskipun raganya tidak dapat bergerak ke mana-mana, hati, jiwa, dan pemikiran kritisnya tetap menjelajah, mengembara ke sudut-sudut kehidupan, dan menemukan begitu banyak fenomena yang muncul di masyarakat. Termasuk permasalahan sosial, politik, hukum, dan peristiwa lainnya di negeri tercinta ini yang menggelitik nalar kritisnya berontak untuk melakukan sesuatu. Alhasil, 11 buku yang mengangkat semua permasalahan tersebut lahir dalam semedi panjang di ruang literasinya yang nyaman. Tetap berkarya dalam sunyi dan biarkan orang lain yang menuliskan pencapaian kita.
Kini, semua hasil pemikiran kritisnya sudah tersimpan abadi di kotak literasi terindah, yaitu buku yang akan menjadi inspirasi bagi hidup dan kehidupan.
Apakah Bapak Ruslan Ismail Mage yang akrab disapa Bang RIM sudah puas dengan semua pencapaian terbaiknya tersebut? Tentu saja tidak. Mulailah beliau menemui dan menyapa pecintanya di laman-laman media sosial dengan quotes kehidupan yang semakin inspiratif, desainnya indah dan menarik, serta kata-kata yang penuh makna.
Beliau mengajarkan banyak hal dalam menjalani kehidupan ini. Tentang kerendahan hati, adab dalam bergaul, penghargaan pada sesama, bercerita panjang lebar bagaimana menjadi manusia paripurna yang bermanfaat bagi sesama. Tergerak dan bergerak untuk melakukan kebaikan dan menjadikan hidup lebih bermakna.
Agar hati dan jiwanya selalu terhubung dengan pecintanya, Bang RIM merancang konsep rumah jiwa di angkasa. Gagasan kreatifnya tersebut ternyata tidak tanggung-tanggung, langsung melahirkan dua rumah jiwa di angkasa, yaitu Bengkel Narasi (BN) dan Pena Anak Indonesia (PAI).
Saatnya memulai kembali mengurus kehidupan. BN dan PAI adalah gebrakannya yang luar biasa dalam membumikan dan menggelorakan literasi. Di sinilah Bang RIM membangun kebersamaan dalam keberagaman, harmoni dalam perbedaan,muncul ke permukaan bersama, berdialog dari hati ke hati, hingga menghasilkan karya-karya berkualitas yang menginspirasi kehidupan.
Bengkel Narasi (BN) sudah melahirkan penulis-penulis berkualitas dengan berbagai profesi dan sudah menerbitkan puluhan buku anggotanya. Judul buku yang mengangkat beragam permasalahan adalah hasil penjelajahan hati dan jiwa para sahabat literasi BN dalam menyikapi setiap fenomena hidup dan kehidupan di masyarakat. Kisah inspiratif yang diangkat pun diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat, dari tidak bisa berbuat apa-apa hingga berubah untuk melakukan berbagai kebaikan.
Begitu Pula Pena Anak Indonesia (PAI), rumah jiwa untuk anak-anak Indonesia. Rumah karya termegah tempat belajar, berkarya, dan berprestasi. Beliau menjadi idola anak-anak hebat yang hadirnya selalu dirindukan. Beliau mengajarkan filosofi hidup bahwa mereka harus mencapai kesuksesan dengan usaha, kerja keras, dan doa yang selalu dilangitkan kepada Sang Penentu masa depan, Allah Swt. Anak-anak adalah titipan masa depan. Mereka harus dididik bahwa adab, etika/attitude lebih tinggi daripada ilmu. Mereka harus menjadi petarung masa depan yang kuat dan tangguh. Bang RIM memberikan begitu banyak pembelajaran kepada anak-anak sebagai generasi penerus pembangunan bangsa dan menjadi bekal mereka dalam kehidupan sosialnya di masa yang akan datang.
Pandemi menjadi endemi. Masyarakat sudah mulai diizinkan beraktivitas seperti biasa, meskipun masih ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Kehidupan sosial ekonomi,pendidikan, dan beberapa sektor usaha lainnya sudah mulai normal kembali. Sektor pendidikan yang paling terdampak pun sudah menggeliat kembali. Aktivitas pembelajaran mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi sudah berubah lagi regulasinya. Bekerja dari rumah (WFH) juga sudah tidak berlaku lagi.
Saatnya mengurus kehidupan. Perjalanan dan pengembaraan literasi Bang RIM pun berlanjut setelah sekian lama mandek, terbelenggu oleh badai pandemi. Sebagai seorang inspirator dan penggerak, hati dan jiwanya akan terasa damai ketika berinteraksi dan berdialog langsung dengan audiensnya.
Perjalanan pertama adalah saat ulang tahun KORPRI di Palu, Sulawesi Tengah. Menginspirasi para ASN Kota Palu agar menjadi pelopor pembangunan di daerahnya dan segera bangkit kembali setelah porak-poranda akibat bencana dahsyat. Membangkitkan semangat mereka untuk selalu berada di garda terdepan, pelopor pembaharuan, menjadi tokoh pejuang pembangunan. Di sana pula beliau dengan lantang menyuarakan untuk selalu mencintai literasi membaca dan menulis. Bang RIM menjadikan buku sebagai kado terbaik untuk orang-orang pilihan yang sudah banyak berjasa dalam pembangunan Kota Palu.
Palembang dengan keindahan Sungai Musi menjadi tujuan pengembaraan literasinya yang kedua setelah pandemi. Menginspirasi, berbagi, menggerakkan, dan menyebar ide-ide kreatif ataupun gagasan baru kepada calon-calon pemimpin masa depan, kaum milenial. Mengajak mereka membangun peradaban dengan menulis. Berkarya tanpa batas, menyumbangkan ide-ide brilian untuk pembangunan bangsa menuju masa yang gilang gemilang. Tidak ada yang tidak mungkin ketika ada kemauan.
Perjalanan batin Bang RIM yang paling seru adalah saat berkunjung ke bumi Patampanua, Kolaka Utara. Kota yang penuh kenangan dengan bibir Pantai Lacaria yang seksi, selalu menggoda, mengundang untuk datang memeluknya kembali. Kota kenangan yang pernah dikunjunginya beberapa tahun yang yang lalu, menyebar semangat dan inspirasi kepada para pahlawan tanpa tanda jasa. Kini, setelah sekian lama memupuk rindu karena dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu, sudah saatnya untuk melebur, melabuhkan semua harapan dan kerinduan kepada para pencintanya yang senantiasa haus akan guyuran ilmu dan semangat dari sang penggerak.
Perjalanan batin menapaki kembali jalan-jalan yang pernah terlewati dulu. Memang fisik tidak sekokoh dan sekuat pada saat kunjungan pertama. Namun, itu tidaklah membuatnya kehilangan semangat dan kegembiraan menikmati kebersamaan dan memupuk silaturahmi dengan orang-orang yang begitu memuliakannya. Menghargainya sebagai seorang saudara, tanpa batas, tanpa syarat. Saudara dunia akhirat, abadi sepanjang masa.

Hari-hari berlalu begitu indah. Berbagi bersama, menginspirasi, membangkitkan semangat anak-anak negeri di Bumi Patampanua adalah wisata jiwanya yang paling mengesankan. Tertawa bersama, menikmati pemandangan yang indah dengan senda gurau yang mengalir bak mata air di pegunungan yang teduh. Memupuk kebersamaan dengan rasa kekeluargaan yang tiada duanya. Semua itu tidak akan didapatkan di kota-kota besar yang sudah hampir kehilangan rasa persaudaraan dan semangat kekeluargaannya.
Rasanya enggan untuk meninggalkan Bumi Patampanua dengan segala keindahan yang selalu menggoda hati dan jiwa. Begitu damai, tentram, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Masih ingin menetap, tetapi waktu terus berputar. Saat berpisah, Bang RIM menitip pesan,” Sahabat, jika engkau ingin mengenang keberadaanku, lihat dan maknai fungsi sebatang pensil. Fisik ke mana-mana, tapi jiwaku tidak di mana-mana. Itulah hakikat persaudaraan tanpa batas, tanpa syarat. Sahabat menjadikanmu pegangan, bukan pijakan.”
Kini, Bang RIM harus melanjutkan kembali wisata jiwanya, menginspirasi dan menggerakkan. Anak-anak hebat Bumi Latemmamala sudah menunggunya. Bang RIM adalah sosok idola yang selalu dirindukan kedatangannya. Tokoh panutan yang telah menjadikan mimpi-mimpi mereka menjadi sebuah kenyataan. Angan-angan menjadi seorang penulis sudah tercapai. Namun, seribu mimpi indah masih terajuk rapi, menjadi seorang penulis besar, penulis kenamaan, berjuang bersama membumikan literasi di seluruh pelosok negeri tercinta.
Saat melihat Bang RIM, mereka seperti tidak percaya. Tidak dapat berkata apa-apa. Mereka melongo, takjub melihat sosok yang sedang berdiri di hadapan mereka. Sosok yang hanya mereka kenal di dunia maya. Semakin kagum saat Bang RIM memberikan semangat kepada mereka dengan suaranya yang membahana. Banyak wejangan-wejangan dari Bang RIM yang membekas di memori mereka. Terbaca raut wajah yang penuh keyakinan diri menghadapi hari esok yang lebih cerah.
Jangan pernah meragukan masa depan karena meragukannya adalah meragukan Sang penentu masa depan itu sendiri, yaitu Allah Swt. Kesuksesan adalah dari usaha dan perjuangan kita sendiri, bukan dari orang lain.
Masih banyak wejangan-wejangan yang diberikan Bang RIM yang akan menjadi bekal mereka dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Pertemuan singkat, namun penuh makna. Takkan terlupakan.
Semoga pertemuan dapat tercipta kembali, silaturahmi tetap terjalin indah. Kami akan selalu merindukan Bang RIM.
Bang RIM kembali bersama keluarga tercinta. Pelabuhan terindah, seluas samudra biru, tempat melabuhkan segenap rasa. Perjalanan panjang telah dilewati. Namun, masih banyak agenda yang menunggu hadirnya. Negara sahabat Dili, Timor Leste, bangga bisa menghadirkan Bapak Ruslan Ismail Mage sebagai narasumber dalam acara workshop literasi bertajuk “Membangun Peradaban dengan Menulis.” Berkat acara itu pula, terjalin kolaborasi antara para penulis kreatif Dili, Timor Leste dengan komunitas menulis Bengkel Narasi.
Mencintai literasi berarti mencintai kehidupan dan memuliakan agama. Keduanya hanya bisa dipahami dan dimaknai melalui literasi.
RIM
Pengembaraan literasi dari sang penggerak masih akan terus berlanjut melintasi batas-batas kota, negara, benua, dan samudra. Hadirnya akan selalu dirindukan. Berbagi, menginspirasi, menggerakkan, menabur kebaikan kepada sesama adalah tugas mulia yang akan diembannya.
Sehat selalu Bang RIM. Panjang umur, bahagia selalu bersama keluarga tercinta. Sosokmu akan selalu kami rindukan. []
Watansoppeng, 16 Juni 2022
