Malam itu berkali-kali kumencoba menelpon dia tapi tidak penah dia angkat, smspun tidak dia balas. Padahal dia bejanji hanya sebentar di pelabuhan, hanya mengecek karung-karung kakao yang akan dia kirim ke Siwa. Sesebentar itukah kalau sudah jam sepuluh malam belum juga terlihat batang hidungnya? Dengan rasa kecewa aku menuju kamar tidur tanpa mengunci pintu rumah. Aku tak perduli siapapun yang mau masuk rumahku. ah…aku membawa kemarahanku, membawa kekecewaanku dipembaringnku. Sebelum beragkat kau berjanji akan pulang sebelum azan magrib berkumandang. Kutengok jam dinding, sudah jam sepuluh malam.
Ketika aku mulai terlelap, tiba-tiba kurasakan sesuatu yang dingin menyentuhku dari belakang. Kutepis barang dingin itu yang ternyata tagannya. Aku marah, aku hempaskan tangannya. Dan aku bertanya padanya “engkau pergi dengan siapa?” tadi siang aku melihat pesan via sms di HPnya, “kita bertemu sebentar ya!” sms inikah yang membuatnya terlambat dan mungkinkah dari seorang wanita?
Kemarahanku makin memuncak, air mataku berderai. Setiap kali tangan dia menyentuhku setiap kali itu juga kutepis agar tidak menyentuhku. Tapi dia makin mengeratkan pelukannya. Kedua tangannya melingkar makin erat membuat nafasku sedikit tersengal. Lalu dia berbisik di telinagaku, “apakah engkau cemburu? Isak tangisku makin terdengar olehnya. Diapun berkata lagi di belakang telinagaku dengan berbisik syahdu, “ternyata engkau juga mencintaku, ternyata cintamu begitu mendalam.” Sambil membalikkan tubuhku dengan tenaga ekstranya. Barang-barang yang akan saya kirim harus dibongkar, sehingga sampai jam begini baru aku bisa pulang. Akupun mengerti dan kembali tersenyum, dan berucap, “maafkan diriku”. Kamipun saling berpelukan hingga tertidur.

Suka ceritanya Bun.