Oleh: Yumi Ariyati*
Kota Padang, Sumatra Barat termasuk kota pendidikan. Bahkan, sebagian orang yang mengerti sejarah menyebut Minangkabau sebagai pusat industri otak dan kepemimpinan Nusantara. Betapa tidak, data dan fakta sejarah menjelaskan di Bumi Minangkabau inilah tempat lahir dan bersemayamnya para penulis buku fenomenal, sastrawan besar, dan arsitek kebangsaan yang merumuskan Indonesia merdeka.
Jadi, tidak mengherankan kalau begitu banyak institusi pendidikan tinggi di daerah ini. Alhamdulillah, saya bisa menikmati atmosfer pendidikan tinggi di Kota Padang sampai jenjang magister. Tahun 2008, saya masuk kuliah jurusan komunikasi di Universitas Ekasakti (Unes) dengan pertimbangan berada di pusat Kota Padang. Awalnya, kuliah biasa saja sebagaimana mahasiswa pada umumnya; mengikuti segala proses belajar mengajar. Lama-lama, saya merasa ada energi kreatif tersalurkan dalam kelas, terlebih kalau yang mengajar seorang dosen yang berpenampilan santai, jarang membawa buku, apalagi menenteng tas seperti dosen pada umumnya yang tampil intelek monoton dengan tas penuh buku.
Tampilan dosen yang satu ini hampir sama dengan mahasiswa. Bahkan, awalnya tidak bisa membedakan apakah dia mahasiswa atau dosen. Namun ketika mengajar, jarum jatuh pun mungkin terdengar. Begitu antusiasnya kami para mahasiswanya mendengar setiap diksi dan narasi keilmuan yang disampaikan di dalam kelas.
Cara mengajarnya dialogis, interaktif, dan familiar. Semua mahasiswa diajaknya berdialog secara santai tanpa harus mempertimbangkan narasi mahasiswanya salah atau benar. Dalam dialog keilmuannya, yang penting etika perilaku dan kesantunan komunikasi dijaga.
Dialah dosen yang kami hormati dan rindukan kalimat-kalimat inspiratifnya setiap mengajar dalam kelas. Kami mahasiswa menyapanya Pak RIM, akronim dari namanya Ruslan Ismail Mage. Kami menyebutnya dosen sekaligus inspirator yang tidak pernah jenuh mentransfer teori-teori keilmuannya dan men-trigger semangat kami menaklukkan gelombang kehidupan.
Saya sangat terkesan dan tak melupakan kalimat pembukanya waktu kuliah perdana dulu. Pak RIM mengatakan, “Tugas saya sebagai dosen bukan melahirkan sarjana, tetapi melahirkan orang sukses. Jadi, kalau kuliah hanya ingin jadi sarjana, pasti tidak senang dengan cara saya mengajar. Tetapi, kalau ingin menjadi orang sukses, di sinilah tempatnya,” sambil memegang dadanya.
Kalimat inspiratifnya itu terus melekat dalam memoriku dan mendorongku terus memupuk kepercayaan diri untuk muncul ke permukaan. Selalu ada stimulus dalam batinku berbisik, “Menuntut ilmu itu jangan sekadar menjadi sarjana, tetapi harus menjadi orang sukses.”
Lebih menarik lagi, kami tetap menjalin silaturahmi walau sudah diwisuda. Suatu waktu, Pak RIM mengatakan, “Tugas saya sebagai dosennya di institusi pendidikan sudah selesai. Saya akan beralih menjadi dosennya di Universitas Kehidupan”.
Benar saja, sampai sekarang Pak RIM tidak pernah jenuh dimintakan nasihat, petunjuk, bimbingan, arahan, atau apa pun namanya. Setiap berkomunikasi, Pak RIM selalu berpesan untuk terus meningkatkan kualitas diri. Karena menurutnya, mimpi selalu berbanding lurus dengan kualitas diri. Maksudnya, semakin tinggi mimpi semakin menuntut pribadi berkualitas tinggi.
Terima kasih Pak RIM, Saya bersyukur dan bangga pernah menjadi mahasiswanya.
*Dosen Universitas Ekasakti dan Mantan Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Sumatra Barat
